Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Elara, kilauan itu terasa seperti ribuan mata kecil yang sedang menghakimi setiap gerak-geriknya. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan uap sampanye dan bunga lili segar menciptakan atmosfer yang menyesakkan, seolah-olah udara di dalam ruangan ini telah terkontaminasi oleh kemunafikan para elit yang hadir. Alaric masih berdiri di sampingnya, tangan pria itu berada di pinggang Elara dengan posesif, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya tatapan orang-orang di sekeliling mereka. Setelah sapaan berbisa dari Caspian tadi, Elara mulai menyadari bahwa suasana pesta ini tidaklah senormal yang terlihat di permukaan. Ia mencoba mengatur napasnya, membiarkan jemarin

