Malam di London selalu memiliki cara untuk menelanjangi jiwa-jiwa yang berpura-pura kuat. Setelah ketegangan dengan Caspian dan ancaman sabotase yang mulai merayap ke urat nadi perusahaannya, Alaric tidak langsung pulang ke kamar utama. Ia berdiri di balkon lantai dua mansionnya, menatap kegelapan taman yang hanya diterangi oleh lampu-lampu temaram. Angin malam yang dingin menusuk pori-porinya, namun itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang mulai membeku di ulu hatinya saat ingatannya terseret kembali ke garis waktu yang seharusnya sudah terkubur. Kehidupan pertamanya. Ia memejamkan mata, dan seketika, kilas balik itu menghantamnya seperti palu godam. Ia melihat dirinya sendiri—Alaric Sterling yang berusia tiga puluh tahun, yang rambutnya disisir klimis tanpa sehelai pun yang berantak

