Malam pembukaan pameran tunggal Elara Vance di Galeri Royal seharusnya menjadi puncak kemenangannya sebagai seorang seniman. Ruangan luas dengan arsitektur neoklasik itu kini dipenuhi oleh aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan gumaman rendah dari para kritikus seni serta kolektor elit London. Di dinding-dinding galeri, seri lukisan Shadow and Light terpampang dengan megah, masing-masing dihiasi label merah kecil bertuliskan “Sold” yang mencolok. Elara berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang senada dengan palet lukisan utamanya. Meskipun senyumnya terkembang saat menyapa para tamu, matanya terus mencari sosok yang tidak asing di antara kerumunan. Alaric Sterling belum juga muncul, meski ia berjanji akan datang tepat waktu. Namun, bukan ketidakhadi

