Lantai bursa London Stock Exchange (LSE) pagi itu meledak dalam kekacauan yang terukur. Di layar-layar besar yang mendominasi Canary Wharf, kode saham STG — Sterling Global berkedip-kedip merah. Berita tentang pemecatan serentak tiga direktur eksekutif senior bukan sekadar kabar burung; itu adalah gempa tektonik di jantung finansial Inggris. Dalam tiga puluh menit pertama setelah perdagangan dibuka, saham Sterling Global anjlok sebesar 8,5%. Para pialang berteriak di telepon, klien-klien kakap menuntut penjelasan, dan spekulan mulai mengasah pisau mereka, bersiap untuk melakukan short-selling massal pada perusahaan yang mereka anggap sedang mengalami kudeta internal. Namun, di lantai enam puluh enam, Alaric Sterling hanya menatap layar monitornya dengan ekspresi datar. Ia melihat angka-a

