Lampu-lampu gantung di Galeri Royal memancarkan cahaya halogen yang dingin, memantul di atas lantai parket yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin. Di tengah keheningan ruang pameran yang belum dibuka untuk umum itu, Elara Vance berdiri mematung. Di tangannya, selembar surat resmi dengan kop surat dari firma hukum terkemuka di London bergetar pelan. "Ini tidak mungkin," bisik Elara. Suaranya bergema di ruangan yang luas, memantul di antara kanvas-kanvas besar yang baru saja selesai dipasang. Julian, pemilik galeri yang biasanya bersikap sinis dan penuh perhitungan, berjalan mendekat dengan langkah yang hampir menyerupai tarian kegirangan. Wajahnya yang tirus tampak berseri-seri, sesuatu yang jarang dilihat Elara dalam tiga tahun kerja sama mereka. "Bukan hanya mungkin, Elara. Ini a

