Gema sirine mobil polisi internasional yang baru saja meninggalkan pelataran Vance Manor masih menyisakan getaran kegelisahan di udara. Namun, di pusat distrik bisnis yang berkilauan, di dalam kantor pribadi yang tersembunyi di balik dinding kaca antipeluru Phoenix Group, atmosfer yang terasa adalah campuran antara kepanikan yang tertahan dan ambisi yang buta. Ryan Sterling berdiri di depan jendela raksasanya, menatap pemandangan kota yang terhampar di bawahnya dengan rahang yang mengeras. Bau asap cerutu yang mahal memenuhi ruangan itu, namun aroma kemewahan tersebut kini terasa menyesakkan, seolah-olah bau kekalahan mulai merayap masuk melalui celah-celah pendingin ruangan yang steril. Ryan meremas ponsel di tangannya saat layar monitor di dinding terus menampilkan berita tentang runtuh

