Hujan di London malam itu tidak turun seperti berkah; ia jatuh seperti ribuan jarum dingin yang menusuk kulit, menyesakkan napas, dan mengaburkan pandangan. Di dermaga pribadi Sterling yang tersembunyi di bawah bayang-bayang Jembatan Blackfriars, mesin kapal cepat Interceptor menderu rendah, mengirimkan getaran konstan ke permukaan beton yang basah. Alaric Sterling berdiri di tengah terpaan angin, sosoknya tampak seperti menara batu yang retak namun menolak untuk tumbang. Matanya, yang biasanya memancarkan otoritas mutlak, kini dipenuhi oleh campuran kemarahan dan keputusasaan yang liar. Di hadapannya, Elara Vance berdiri kaku, menolak untuk melangkah ke atas kapal. Gaun sutra yang ia kenakan untuk pameran kini menempel basah di tubuhnya, kontras dengan jaket taktis hitam yang disampirkan

