Cahaya matahari pagi yang pucat merayap masuk melalui celah gorden beledu di ruang keluarga pribadi Vance Manor, namun kehangatannya tidak mampu menembus hawa dingin yang menyelimuti Lord Harrison. Bau tembakau basi dan sisa-sisa brendi yang menguap dari gelas kristal semalam masih tertinggal di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dan pengap. Di tengah ruangan yang biasanya memancarkan kemegahan aristokrat itu, Lord Harrison duduk terpuruk di sofa kulitnya, matanya yang merah dan sembap menatap nanar ke arah layar televisi raksasa yang masih menyala. Berita pagi itu seperti hantaman godam yang menghancurkan nalar Harrison. Layar televisi menampilkan cuplikan demi cuplikan yang terasa seperti mimpi buruk yang tidak nyata: penggerebekan kasino di Makau, pembekuan aset di berbagai b

