Tukar pendapat

1343 Words
Rossie termenung menatap Bianca, ia berpikir harus curhat pada Bianca mungkin Bianca dapat membuatnya menemukan solusi atau dapat membantunya mengambil keputusan. "Rossie?" panggil Bianca membuat Rossie tersentak. "Apa yang kau lamunkan?" Tanya Bianca. "Kau tahu sebenarnya kepalaku sangat pusing sekali. Kau tahu jika Kevin hari ini melamarku, Bukan?" Bianca mengangguk merespon ucapan Rossie. "Dia tadi memang melamarku, dan mengajakku segera menikah hanya saja dia tidak punya uang dan Ibunya menuntut pernikahan yang mewah jika tidak Kevin akan di jodohkan dengan wanita lain." Jelas Rossie memulai curhatnya. "Lalu?" Tanya Bianca "Itu yang jadi masalahnya, Kevin dan aku tidak memiliki uang untuk mengadakan acara pernikahan mewah lalu Kevin memberi ide agar aku menggadai sertifikat rumahku untuk biaya pernikahan kami. Tapi masalahnya aku masih belum bisa menyetujui ide itu, Bianca." "Kenapa kau tidak bisa menyetujui ide dari Kevin, Rossie? Apa kau tidak percaya dengan Kevin?" Tanya Bianca membuat Rossie segera menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu Bianca, bukan aku tidak percaya pada Kevin hanya saja rumah ini peninggalan Nenekku dan Kedua orang tuanku satu-satunya jadi aku tidak bisa atau berat untuk menggadainya." Jelas Rossie membuat Bianca tertawa. "Ayolah Rossie, kau hanya menggadainya bukan menjualnya lagi pula bukankah kau dan Kevin sama-sama bekerja jadi ku pikir kalian bisa menebus sertifikatnya kembali." Ucap Bianca membuat Rossie tertunduk lemas. "Ucapanmu dan Kevin sama, Bianca. Apa aku yang salah dalam ini? Atau aku ikuti saja saranmu untuk mengikuti ide dari Kevin? Apa yang kau lakukan jika kau jadi aku?" "Tentu aku akan menyetujui ide dari Kevin, Rossie toh itu untuk kepentingan pernikahan kalian juga. Aku setuju akan ide dari Kevin." Jawab Bianca berusaha menghasut Rossie untuk menggadaikan sertifikat rumahnya dan lagi-lagi ucapan Bianca membuat Rossie goyah. "Hah!.. Sudahlah, aku akan masuk kamar dulu untuk istirahat." Ucap Rossie seraya beranjak dari duduknya. "Lalu apa keputusanmu?" Tanya Bianca sedikit berteriak membuat Rossie memberhentikan langkahnya dan segera menatap kearahnya. "Aku belum tau Bianca." Jawab Rossie kemudian berlalu meninggalkan Bianca. Buuuk Bianca meninju sofa dengan begitu kuat karena kesal "Benar kata Kevin, Rossie begitu keras kepala tidak ingin menggadaikan sertifikat rumahnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Pikir Bianca penuh kelicikan. Dalam kamar, Rossie terduduk diatas tempat tidur terpaku memandang lemari tempat brangkas ia menyimpan sertifikat rumahnya. "Haah!.." Rossie menghela nafas frustasi bingung akan melakukan apa? Disatu sisi ia sangat ingin menikah dengan Kevin disisi lain ia memikirkan bahwa sertifikat itu satu-satunya harta yang ia miliki dan itu amanah almarhum Neneknya yang memintanya untuk merawat rumah itu dan tidak boleh menjualnya karena rumah itu di desain khusus oleh kedua orang tuanya. Disisi lain tepatnya di kamar tamu utama, Bianca terlihat duduk sembari menggigit kuku jari-jarinya "Apa sebaiknya aku curi saja sertifikatnya?" Pikir Bianca, sebelum ia mengangguk pada rencananya sendiri akan mencuri sertifikat milik Rossie. "Iya sebaiknya aku mencurinya lalu memberikannya pada Kevin dan biarkan saja Kevin yang menggadainya." Pikir Bianca kembali sebelum membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Suara bunyi bel pintu rumah mencuri perhatian Bianca yang saat itu sedang berusaha tidur dan Rossie yang berada di kamar mandi. Bergegas Rossie berlari keluar dari kamar mandi berbarengan dengan Bianca yang juga nampaknya keluar dari kamarnya hendak membuka pintu. "Biar aku saja.." ucap Bianca kearah Rossie. "Ah, terimakasih." Balas Rossie lalu kembali ke kamarnya untuk melanjutkan aktifitasnya membersihkan diri dan mengenakan baju tidurnya. Saat membuka pintu, wajah Bianca langsung murung begitu sosok Monica muncul di depan pintu. "Bianca?" Ucap gadis bernama Monica itu "Kau masih numpang di rumah Rossie?" Sarkas Monica membuat Bianca bad Mood. Dengan tawa sungkan Bianca membalas ucapan Monica "Iya, tapi mungkin besok atau lusa aku akan pindah kebetulan aku sudah menemukan kontrakan." Ucap Bianca. "Sebaiknya kau pindah secepatnya, apa kau tidak malu menumpang di rumah Rossie sudah hampir enam bulan. Aku tahu Rossie temanmu tapi tidak baik memanfaatkan kebaikan teman sendiri hingga lupa diri." Sindir Monica membuat Bianca langsung terdiam. "Dimana Rossie?" Tanya Monica. "Dia ada di kamar mandi," jawab Bianca membuat Monica tanpa permisi langsung masuk ke dalam rumah milik Rossie. "Monica?" Ucap Rossie yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mengenakan pakaian tidurnya. "Aah!.. aku merindukanmu!" Teriak Monica lalu berhamburan memeluk Rossie "Bagaimana bakarmu?" Tanya Rossie "Aku sangat baik," jawab Monica melihat keakraban Monica dan Rossie, Bianca tampak jengkel. "Aku membawakanmu oleh-oleh," ucap Monica seraya menyerahkan bingkisan kearah Rossie. "Terimakasih." Balas Rossie sembari menerima bingkisan pemberian Monica "Kau semakin cantik sejak tinggal di Jepang selama 3 bulan." Ucap Rossie membuat Monica hanya tertawa. Monica kini menatap kearah Bianca lalu menyodorkan bingkisan makanan, melihat bingkisan itu Bianca sangat senang ia mengira Monica juga membelikanya oleh-oleh dari Jepang namun senyuman Bianca segera hilang begitu Monica berkata "Ini makanan, cake kesukaan Rossie tolong hidangkan agar kita bisa makan bersama." Rossie segera menangkap raut wajah tak suka dari Bianca akan tindakan Monica padanya "Ah.. Biar aku saja," ucap Rossie seraya hendak meraih bingkisan di tangan Monica namun Monica segera menghalaunya. "Kau harus menemani ku, karena aku adalah tamu. Lagi pula Bianca sudah terbiasa disini dia sudah menghafal dapurmu jadi tidak masalah jika dia yang menyajikan makanannya. Benarkan Bianca?" Ucap Monica seraya menatap kearah Bianca "Iya, tentu saja tidak masalah." Jawab Bianca seraya meraih bingkisan di tangan Monica lalu berlaru ke dapur. Buuuk!.. Di dapur Bianca terlihat kesal ia bahkan membanting bingkisan yang ada di tanganya "Monica!..." erang Bianca kesal "Berani-beraninya di memerintahku. Apa dia pikir aku ini pembantunya!" Pekik Bianca kesal sementara itu di ruang keluarga Monica segera memulai percakapan dengan Rossie. "Mau sampai kapan Bianca menumpang di rumahmu?" Tanya Monica "Aku tidak tahu, lagi pula aku tidak keberatan dia tinggal disini agar aku memiliki teman toh aku tinggal sendiri di rumah jadi sering merasa kesepian." Jawab Rossie. "Jangan terlalu baik Rossie, seseorang bisa menusukmu dari belakang." Ucap Monica memperingati karena jujur dulu Monica sempat melihat Bianca dan Kevin jalan bersama namun Monica tidak memberi tahu Rossie mengingat ia tidak memiliki bukti dan saat ini Rossie sangat mempercayai Bianca dan Kevin. "Waah cincinmu sangat indah," seru Monica melihat cincin yang melingkar di jari manis Rossie. "Iya tadi Kevin melamarku." Ucap Rossie sembari tersenyum "Untunglah kau sudah kembali aku ingin tukar pikiran denganmu Monica." "Apa itu? Ceritalah." Balas Monica sebelum perhatian keduanya dicuri oleh kemunculan Bianca membawa serta cake yang ada di piring, Monica menyerengit melihat sebagian cake sudah sedikit tak berbentuk sempurna ia lalu menatap Bianca punuh curiga. "Maaf cakenya sebagian tak berbentuk tadi aku tak sengaja menjatuhkan bingkisanya saat menuju dapur." Elak Bianca berbohong padahal ia membanting bingkisannya. "Tidak masalah Bianca." Jawab Rossie. Bianca berjalan kesisi sofa tunggal lalu mendudukan tubuhnya disana. "Jadi ayo cepat apa yang ingin kau ceritakan?" Tanya Monica kearah Rossie, alhasil Rossie segera menceritakan semuanya pada Monica dari mulai Kevin melamarnya hingga Kevin memintanya untuk menggadaikan sertifikat rumah. "Apa?!" Pekik Monica dengan nada melengkik "Jangan! Ku katakan padamu Rossie jangan perna menggadaikan sertifikat rumahmu. Kevin yang melamarmu Ibunya yang menginginkan pernikahan mewah yah harus Kevin yang berusaha bukannya malah memintamu untuk menggadaikan sertifikat rumahmu. Kenapa Kevin tidak menggadaikan sertifikat rumahnya sendiri kenapa harus rumahmu? Bagaimana jika dia tidak mampu membayar maka rumahmu akan disita nantinya." Ucap Monica degan nada emosi. Mendengar ucapan Monica membuat Bianca menatap Monica sinis "Dia selalu menjadi benalu dalam rencanaku dan Kevin." Pikir Bianca. "Tapi Monica," sambar Bianca berusaha bersuara "Itukan untuk pernikahan Rossie dan Kevin sendiri lagi pula Kevin sekarang sudah memiliki pekerjaan tetap dan gajinya lumayan besar aku yakin jika menggabungkan sebagian gaji Rossie dan sebagian gaji Kevin setiap bulannya maka sertifikatnya pasti bisa ketebus." Ucap Bianca "Lalu bagaimana jika tidak berhasil ketebus?" Tanya Monica membuat Bianca langsung terdiam seribu bahasa. "Sudahlah intinya Rossie, jangan mau menggadaikan sertifikat rumahmu, mengerti?" Ucap Monica. "Iya.. iya baiklah." Jawab Rossie membuat Monica langsung bernafas lega sementara Bianca tak suka akan hal itu. "Ngomong-ngomong aku lapar, aku rindu steak yang ada di teras caffe, ayo kita pergi ke teras caffe?" Ajak Monica. "Baiklah, tapi tunggulah aku ganti baju dulu." Sahut Rossie. "Mereka akan pergi, ini kesempatanku untuk mencuri sertifikat itu." Pikir Bianca. "Kau mau ikut Bianca?" Tanya Monica dan Rossie secara bersamaan. "Ah! Kalian saja, aku di rumah saja, aku terlalu malas jika harus ganti baju lagi karena sudah terlanjur pake baju tidur dan skincarean." Tolak Bianca. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD