usulan peminjaman uang

1015 Words
"Sertifikat rumahku?" Tanya Rossie dan Kevin segera mengangguk membenarkan. "Tidak Kevin, kau tahu sendiri itu satu-satunya harta peninggalan Nenekku, satu-satunya kenangan yang bersisah antara aku kedua orang tuaku dan Nenekku jika aku menjualnya maka..." ucapan Rossie terhenti saat Kevin menarik tangannya pelan. Kevin menatap Rossie lembut dan penuh cinta "Apa yang kau katakan, sayang. Aku tidak memintamu untuk menjual rumahnya. Aku hanya mengusulkan agar kau memasukan sertifikat rumahmu ke bank agar kita dapat meminjam dana untuk acara pernikahan kita, setelahnya kita akan menebus sertifikat itu, lagi pula kita akan mengangsur cicilannya setiap bulan separuh gajimu dan separuh gajiku kita kumpulkan setiap bulannya untuk bayar angsuran aku yakin dalam waktu 1 tahun atau dua tahun kita bisa menebus kembali sertifikatnya lagi pula nanti setelah menikah seluruh gajiku kau yang akan mengatur dan mengurusnya, kau dan aku sama-sama bekerja jadi tak perlu khawatir akan biaya angsurannya." Jelas Kevin, berusaha membujuk dengan nada lembutnya. Rossie terdiam sembari berpiki, penjelasan yang dipaparkan Kevin memang benar namun ia masih takut untuk mengambil tindakan. "Rossie?" Panggil Kevin karena tak ada jawaban dari Rossie "Apa kau tidak mempercayaiku?" Tanya Kevin "Kita sudah berpacaran hampir 4 tahun apa kau masih belum mempercayaiku seutuhnya?" Tanya Kevin. "Bukan seperti itu Kevin, masalahnya bukan karena aku tidak mempercayaimu hanya saja apa kau lupa aku sudah tidak bisa meminjam ke bank karena namaku telah di black list." Ucap Rossie "Kau lupa satu tahun lalu kau meminjam BPKB mobilku untuk kau gadaikan ke Bank dan kita tidak bisa membayar angsuran selama beberapa bulan hingga mobilku disita dan namaku di black list." Kevin tersentak merasa bodoh karena ia tidak menyangka Rossie masih mengingat kejadian itu dan membahasnya sekarang. "Itu dulu Rossie, saat itu aku masih menjadi pengangguran oleh karena itu aku tidak bisa membayar angsuran bulanan, tapi sekarang berbeda aku sudah memiliki kerja tetap dan gajiku lumayan besar aku yakin kita bisa menebus sertifikat rumahmu nantinya." Bujuk Kevin terkesan sedikit memaksa. Rossie lagi-lagi terdiam lalu berkata "Aku tidak bisa memberikanmu jawaban untuk sekarang Kevin, izinkan aku berpikir dulu." Kevin mengangguk "Baiklah Rossie berpikirlah, dengan tindakanmu yang seperti ini aku cukup tahu diri tenyata kau tidak sepenuhnya mempercayai dan mencintaiku." Setelah mengucapkan itu Kevin segera beranjak pergi bahkan mengabaikan suara Rossie yang memanggilnya berulang kali. "Dia ngambek lagi." Gumam Rossie seraya menatap punggung Kevin yang semakin jauh meninggalkannya. Sementara itu di perjalanan menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari teras caffe, Kevin menghentikan langkahnya saat mendapati ponsel yang ada di saku celananya berdering dengan cepat Kevin meraih ponselnya, awalnya ia malas melihat siapa yang menelponnya saat itu karena ia berpikir yang menelpon itu adalah Rossie namun ketika menatap layar ponsel dan nama Bianca yang muncul di layar membuat Kevin langsung tersenyum senang. "Hallo sayang," Kevin menjawab telpon itu dengan begitu mesra bahkan lebih mesra saat ia berbincang dengan Rossie gadis yang telah ia pacari selama hampir 4 tahun. "Bagaimana? Apa kau sudah dapat meyakinkan Rossie untuk menggadaikan sertifikat rumahnya?" Tanya gadis bernama Bianca dari seberang. "Belum, boro-boro ingin menggadaikan sertifikat rumah yang ada justru si gadis bodoh Rossie itu mengungkit kembali BPKB mobil yang ku gadaikan satu tahun lalu." Jawab Kevin dengan nada berat dan frustasi "Dan lagi ku pikir Rossie tidak akan bisa meminjam uang di bank Bianca karena namanya sudah di blacklist di bank." Ucapan Kevin membuat Bianca kesal namun segera gadis berkaca mata ini berusaha meredam emosinya "Yah kalau di blacklist di bank, kan bisa mengajukan pinjaman di koperasi." Balas Bainca "Iya aku tahu itu Bianca, masalahnya Rossie masih tidak mau menggadaikan sertifikat rumahnya." Sahut Kevin. "Kau cinta padakukan Kevin?" Tanya Bianca begitu tiba-tiba "Tentu saja aku sangat mencintaimu, jika aku tidak mencintaimu tidak mungkin aku melamarmu kemarin." Jawab Kevin. "Kau ingin menikahiku kan Kevin?" Tanya Bianca lagi "Tentu saja!" Sahut Kevin tanpa pikir panjang. "Kalau begitu aku tidak ingin pernikahan yang sederhana, aku ingin pernikahan yang mewah jika tidak jangan harap aku akan menikahimu." Ucap Bianca membuat Kevin gelisah. "Bersabarlah Bianca, aku sedang mengusahakan dananya, kau tahu sendiri tabunganku habis karena membelikanmu cincin berlian sekarang aku tidak punya tabungan lagi. Kau tahu sendiri saat ini aku sedang usahakan dana dari Rossie, bersabarlah." Pinta Kevin putus asa. "Aku hanya memberikanmu waktu 2 minggu jika tidak, maaf aku harus menikahi lelaki lain." Gadis bernama Bianca itu langsung memutus panggilan telponnya membuat Kevin panik. "Bagaimanapun aku harus mendapatkan dana itu dari Rossie, aku tak ingin kehilangan Bianca." Gumam Kevin memutar otak dan mengatur rencana bagaimana ia akan membujuk Rossie agar mau menggadai sertifikat rumahnya. *** Tiba di rumahnya yang terbilang mewah Rossie langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang keluarga, ia merasa lelah harapanya akan pernikahan dengan Kevin nampaknya tidak berjalan lancar. "Baru pulang?" Tanya seorang gadis dari arah belakang pada Rossie. Rossie tersenyum segera menoleh kearah sumber suara, seorang gadis berkaca mata mengenakan baju tidur sexy berdiri di belakang Rossie. "Hhm.." sahut Rossie, gadis berkaca mata itu menghampiri Rossie lalu duduk di hadapan Rossie. "Wajahmu terlihat lelah sekali Rossie?" Tanya gadis berkaca mata itu. "Aku sangat lelah Bianca, semuanya berjalan tidak seperti yang ku inginkan." Jawab Rossie pada gadis bernama Bianca yang merupakan sahabat Rossie sekaligus selingkuhan dari Kevin. Rossie menyerengit ketika melihat cincin berlian melingkar di jari manis Bianca, cincin berlian di jari Bianca sangat mirip seperti cincin berlian di jari Rossie hanya berbeda warna berliannya saja, jika Rossie berwarna putih maka milik Bianca berwarna pink mudah. "Kau membeli cincin baru?" Tanya Rossie seraya menunjuk kearah jari Bianca. "Ah ini!" Bianca mengangkat jari jemarinya lalu tersenyum "Aku tidak membelinya, kemarin pacarku melamarku dan memberikanku cincin berlian ini." Jawab Bianca. "Hhmm!.. Sweetnya!" Seru Rossie. Sebelum Bianca tertawa ketika melihat cincin berlian di tangan Rossie. "Kenapa?" Tanya Rossie merasa bingung kenapa tiba-tiba Bianca tertawa. "Tidak ada apa-apa, aku hanya mengingat adegan filem lucu saja." Jawab Bianca "Oh!.. Apakah itu cincin pemberian Kevin?" Bianca menunjuk kearah jari milik Rossie. Rossie mengangguk seraya menatap sendu kearah cincin berliah di jarinya "Aku senang dia melamarku tapi.." ucapan Rossie terhenti merasa tak seharusnya ia menceritakan masalah pribadinya pada Bianca. "Kenapa? Ayo cerita saja, ku lihat kau seperti banyak beban pikiran. Ayo cerita padaku mungkin aku dapat memberikanmu solusi." Tawar Bianca Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD