lamaran

1014 Words
Rossie tersenyum ketika ia melihat dari arah kejauhan Kevin telah duduk memainkan ponselnya sembari menegak kopi yang di hidangkan pelayan di atas mejanya, tak sabar ingin segera menghampiri Kevin, Rossie kemudian berlari kecil mengabaikan pandangan orang yang melihat kearahnya dalam keadaan baju setengah basah. "Maaf membuatmu menunggu lama," Rossie berucap dengan nada terputus begitu tiba di depan Kevin. "Tidak sayang, aku baru saja sampai." Jawab Kevin menatap bingung kearah Rossie "Apa yang terjadi? Kenapa kau basah?" Rossie tersenyum menanggapi pertanyaan sang kekasih "Ah! Tadi ada sedikit insiden kecil." Jawab Rossie sembari meletakan jaket kulit berwarna hitam pemberian Herry padanya diatas kursi yang ada disebelahnya. "Kau tahu bajumu basah setidaknya kau gunakan jaket yang kau tenteng di tanganmu itu dari tadi." Kevin memelankan suaranya seraya celingak celinguk berharap tak ada org yang memperhatikan mereka karena akan sangat malu bagi Kevin jika ketahuan duduk dengan gadis yang menggunakan baju setengah basah. "Ah!." Rossie berseru seraya menatap jaket kulit milik Herry "Ini bukan jaket...." ucapan Rossie terhenti begitu ia menyadari bahwa baju area depannya yang basah ternyata menonjolkan bagian gunung kembarnya dengan perasaan sedikit malu Rossie segera meraih jaket kulit hitam pemberian Herry lalu mengenakannya menutupi bajunya yang basah. "Maaf, aku tidak memperhatikan." Gumam Rossie pelan lalu menyerengit menyalahkan dirinya atas kesialan yang tarjadi. "Aku tidak tahu hari ini kenapa aku sial sekali. Tadi naik taksi eeh taksinya malah mogok pas lanjut jalan ee mala ketabrak orang dan kesiram air juga. Nasib, nasib." Keluh Rossi dalam hati. Rossi tersentak saat tiba-tiba Kevin meraih tangannya, seketika itu tubuh Rossie tegang bayangan akan dirinya yang dilamar Kevin dengan cara romantis kini mulai berseliweran di pikirannya. "Oh Tuhan!... ini saatnya." Seru Rossie nyaris terlonjak kaget karena begitu senang Kevin akan melamarnya. "Kita sudah lama pacaran Rossie, jadi aku ingin membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius," Kevin menghentikan kalimatnya sejenak lalu merabah saku celananya dan seperti tebakan Rossie, Kevin memang mengeluarkan kotak perhiasan yang di dalamnya ada sebuah cincin emas dengan berlian berwarna putih, tanpa buang-buang waktu Kevin segera menyematkan cincin itu di jari manis milik Rossie. Rossie nyaris menangis karena terlalu bahagian "Menikahlah denganku Rossie, apa kau mau?" Tanya Kevin tanpa pikir panjang Rossie segera mengangguk menerima lamaran dari Kevin. "Terimakasih." Ucap Rossie menitihkan air matanya, meski tak ada adegan berlutut dan buangan mawar namun Rossie tetap bahagian. Seorang pelayan datang membawakan makanan pesana Kevin, 2 porsi steak dan 2 gelas jus semangka. "Kita makan dulu," ajak Kevin sembari mengambil garpu dan sendok begitu juga dengan Rossie. "Aku ingin segera kita melangsungkan acara pernikahan kita Rossie, aku ingin melangsungkannya 2 minggu lagi." Ucap Kevin sambil mengunyah daging yang ada di mulutnya. "Semakin cepat lebih baik, aku sudah tidak sabar menantikan moment saat kita tinggal bersama." Balas Rossie. "Hanya saja aku memiliki kendala, Rossie." Nada suara Kevin terdengar pelan "Apa?" Tanya Rossie mulai tak bernafsu pada steak daging jusi yang ada di hadapannya "Apa soal Ibumu yang masih belum merestui hubungan kita?" Tanya Rossie "Bukan soal itu, aku dapat mengatasi soal itu. Ini masalah dana pernikahan kita." Ucap Kevin. "Sebenarnya aku mendadak ingin kita menikah karena Mama memaksaku menikahi anak temannya jika dalam dua minggu aku tidak menikahimu maka Mamaku akan memaksaku menikahi anak temanya." Jelas Kevin Bluusss!.. tubuh Rossie seketika lemas tak ada lagi tenaga yang tadinya menggebu-gebu. Wajah Kevin kini nampak frustasi dan tertekan "Aku sudah menjual mobilku serta menguras isi tabunganku untuk membelikanmu cincin itu." Kevin menatap kearah cincin yang melingkar di jari manis milik Rossie "Jadi sekarang aku sudah tidak punya uang lagi." "Seharusnya kau tak perlu membelikanku cincin berlian mahal seperti ini, cukup cincin perak saja itu sudah sangat berarti bagiku." Ucap Rossie "Mana mungkin aku akan memberimu cincin murah Rossie, kau gadis yang sangat berharga bagiku oleh karena itu aku harus memberikanmu yang terbaik." Serobot Kevin dengan nada sedikit meninggi. "Begini saja, bagaimana kalau cincin ini kita jual, kita bisa membeli cincin emas dengan uang hasil menjual cincinya dan sisahnya kita gunakan untuk acara pernikahan, bagaimana?" Usul Rossie membuat Kevin gelagapan dan gugup. Seketika Kevin memasang wajah marah bercampur sedihnya "Kau ingin menjual cincin itu, itu sama artinya kau tidak menghargaiku Rossie. Kau tahu perjuanganku membeli cincin itu, aku rela menabung selama 2 tahun menahan lapar dan keinginanku untuk yang lainnya aku bahkan rela menjual mobil kesayanganku untuk membeli cincin itu tapi kau justru ingin menjualnya, tindakanmu ini seolah-olah merendahkanku dan tidak menghargaiku." Rossie sedikit panik melihat Kevin salah paham akan maksudnya "Aku tidak bermaksud seperti itu, sayang. Aku..." Ucapan Rossie terhenti saat Kevin tersentak berdiri dengan marah. "Yeah sudah jika kau ingin menjualnya, jual saja. Aku akan memberikan surat cincinya besok." Ucap Kevin seraya berbalik hendak meninggalkan Rossie. Segera Rossie mencekal lengan milik Kevin membuat Kevin langsung menghentikan langkahnya mendapati hal itu Kevin langsung tersenyum kecil karena rencananya berhasil. "Maafkan aku, sayang. Duduklah, kita cari solusinya. Aku tidak akan menjual cincin pemberianmu ini." Pinta Rossie berusaha membujuk dan yeah usaha Rossie berhasil karena kini Kevin dengan nurut kembali duduk ke tempatnya meski tanpa Rossie ketahui bahwa tindakan Kevin ada niat terselubung. "Kalau begitu begini saja, bagaimana jika kita menikah secara sederhana saja. Hanya memasukan dokumen pernikahan di catatan sipil saja untuk mengesahkah pernikahan kita, nanti saat kita punya uang kita akan merayakan pernikahan kita nantinya." Usul Rossie membuat Kevin menghela nafas berat. "Aku juga berpikir seperti itu hanya saja Mamaku memaksa agar aku merayakan pernikahanku denganmu dengan pesta yang mewah itu resiko jika aku kekeh ingin menikahimu dan dalam 2 minggu jika aku tidak berhasil maka Mama akan memaksaku untuk menikahi anak temannya dan aku sudah membuat taruhan akan hal itu dan menyetujui apa bila aku tidak berhasil merayakan pernikahan kita dengan mewah aku akan menikahi anak teman Mamaku." Jelas Kevin dengan wajah sendu. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Gumam Rossie pelan sebelum keduanya sama-sama terdiam membisu. 3 menit kemudian tiba-tiba Kevin bersuara "Aku punya 1 ide yang sangat bagus Rossie." Ucap Kevin "Apa itu?" Tanya Rossie. "Kau memiliki sertifikat rumah mewahmu, bagaimana jika sertifikat rumahnya kita gadaikan ke Bank untuk acara pernikahan kita nanti setelah kita menikah kita sama-sama menabung untuk menebus sertifikatnya di bank, bagaimana?" Tanya Kevin Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD