Aku termenung memikirkan mimpi yang luar biasa indah, tapi juga menyakitkan.
Aziz, ingat itu mimpi tidak bagus memikirkannya. Aku merasa kosong semenjak mimpi gila itu, tidak ayal membuat aku menggeram frustrasi.
"Ya Allah, jika dia jodohku tolong persatukan kami. Jika bukan hilangkan ingatan mimpi bersamanya."
Suara ketukan membuat aku sadar, sontak kembali mem-packing pakaianku. Besok aku akan melakukan interview di Universitas Gadjah Mada.
Iya, Abah dan Ummi melarang aku untuk kembali ke Kairo dan menyuruh tetap tinggal.
Aku tidak betah di sini makanya aku izin mencari kerja di Yogyakarta. Ini gila, aku akan jadi Dosen sekaligus pekerja kantoran.
Kenapa aku bekerja keras, alasannya gampang. Karena aku ingin calon Makmumku hidup bahagia penuh kenyamanan.
Jika menikah nanti, Istriku aku suruh di rumah sembari menjaga buah hati kami. Biarkan aku yang kerja jangan dia. Karena tugasku menafkahi, memberi kenyamanan, cinta dan perhatian.
Apa aku sudah pantas untuk menikah? Sejatinya sudah tapi, aku tidak ada niat untuk melangkah menuju pelaminan jika belum sukses.
Bayanganku ingin menikahi wanita Shalehah, baik hati, tutur kata serta akhlaknya baik. Dan aku berharap bisa merubah diriku menjadi lebih baik lagi.
Mimpi itu kembali mampir di ingatan saat Istriku serta 3 anak kami makan bersama. Ya Allah hilangkan pikiran aneh itu.
Besoknya aku siap ke UGM untuk melakukan interview. Gila, apa aku harus berhadapan dengan para wanita genit yang terang-terangan menatapku memuja.
Risih, tentu saja.
Aku memang ganteng, tapi biasa aja lihat cowok ganteng. Nanti mata kalian keluar bagaimana?
Penampilan sederhana cuma pakai kemeja putih lengan panjang, aku gulung sebatas siku. Kancing atas aku buka satu, lalu pakai celana formal slimfit hitam.
Aku suka penampilan simple tapi berkelas. Suka juga tatanan rambut hair up lalu masih banyak lagi.
Warna kesukaan hitam serta warna gelap lainnya.
Setiap langkah seperti berat gara-gara di tatap lapar mereka. Bukan nervous melainkan sebal. Tapi, inilah risiko jadi orang ganteng.
Aku begini siapa peduli?
Oh ayolah, aku single ganteng yang siap menjadi orang sukses. Hanya kerja serta menimba ilmu agama sering aku lakukan.
Tidak ada kisah cinta di hidupku.
Kalian boleh tertawa sekarang.
Si tampan Aziz Jomblo sedari lahir. Selama 26 tahun tidak ada cinta, karena prinsipku sekali melabuh langsung menikah.
Cukup satu wanita yang akan menjadi Istriku sampai menutup mata. Cukup satu wanita yang menjadi cintaku dan yang halal itu indah.
Sudah lupakan sekarang interview.
***
Aku di ajak tur keliling guna mengenalkan UGM. Sekarang sudah siang waktunya makan siang, dan kini aku terdampar di kantin.
Eh? Itu Mbak Khumaira, bukan?
Sepertinya Iya, akhirnya ada yang ku kenal. Banyak pasang mata menatap Aziz mendamba. Sungguh terlalu mereka ini.
Aku berdecap sebal karena banyak lelaki menatap Kakak Iparku penuh arti. Dasar gila, jika tahu Mas Azzam sudah di colok mata mereka.
Aku berjalan menghampiri Mbak Khumaira.
Puk
Aku tepuk bahunya ringan. Dia kaget spontan mendongak memandangku.
"Mas Aziz," gumam Mbak Khumaira.
Mbak Khumaira memanggilku Mas, alasannya usiaku jauh lebih tua. Walau aku Adik ipar Mbak terus memanggil
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mbak Khumaira," salamku.
Mbak Khumaira mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas Aziz."
"Anda mengenal Khumaira?" tanya Dosen tadi.
"Tentu, dia Mbakku." jawaban benar.
"Saya tidak mengira kalau Dik Khumaira punya Adik Pak Aziz," sahut orang itu.
"Kami i ...."
"Ah, maaf sepertinya Dekan memanggil saya. Nak Khumaira, tolong temani Adiknya keliling."
Pak Dosen ini menyela perkataanku. Dia buru-buru pergi setelah menerima panggilan singkat.
"Mas, ayo duduk," ujar Mbak Khumaira.
Aku duduk di sampingnya.
"Mas Aziz mau pesan apa? Biar Khumaira pesankan."
Cerewet sekali. Hadu, membayangkan Masku Azzam yang pendiam di cereweti Istrinya pasti lucu.
"Mas Aziz, pesan apa?"
"Oh, aku pesan biasa saja, Mbak."
"Ah seperti biasa, Jus jeruk dan makanan pedas dan sayur. Tunggu dulu," riang Mbak Khumaira.
Lucu sekali Istri Mas Azzam ini. Dia itu ramah sekali, tentunya sangat baik. Cocok dengan Masku Azzam yang memiliki sifat sepertinya.
Aku langsung sadar saat dia hendak melangkah pergi, aku cekal lengannya.
"Mbak, diam saja. Biar aku yang pesan."
"Ngga bisa gitu, Mas. Tunggu saja ya."
Aku lepas lengannya. Keras kepala, seperti apa calon anak mereka kelak.
Ya Allah, aku tidak sabar menggendong keponakan baru.
Setelah makanan tiba, aku berdoa dulu sebelum makan. Makan dengan santai sesekali kulirik para penghuni kantin menatap kami aneh.
"Alhamdulillahi ladzi ath'amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimin." doaku dalam hati setelah selesai makan.
"Mas Aziz, kok bisa di UGM? Bukanya mau ke Kairo? Lalu kesini mau apa?" tanya Mbak Khumaira beruntun.
"Mbak Khumaira, cerewet sekali," celetukku sukses membuat mata besarnya membulat sempurna. Dia marah sekarang terlihat dari raut wajahnya.
"Hahaha, canda Mbak. Baiklah saya bisa datang ke UGM karena takdir, tidak jadi ke Kairo karena dicegah dan saya ke sini mau mengemis, Mbak!"
Biasa mulut sarkasme diriku memang mengganggu.
"Astagfirullah, ternyata sekarang berubah profesi kamu, Mas? Apa Abah tidak memberi uang sehingga Mas berubah jadi pengemis? Jawaban Mas sangat bagus."
"Astagfirullah, saya canda Mbak. Mana sudi saya jadi pengemis. Masak ada pengemis setampan, Aziz? Sudah Aziz mau pulang saja."
"He, ya Allah Mas marah?"
"Ngga."
"Serius? Jadi Mas kesini mau belajar?"
"Iya, aku mau belajar. Sudah ya Mbak. Salam untuk Mas Azzam nanti aku main. Masih ada urusan penting."
"Baiklah, hati-hati kami tunggu, Mas Aziz tunggu!"
"Iya."
"Mas lulusan fakultas apa?"
"Ekonomi dan Bisnis. Sampai bertemu 1 minggu ya Mbak. Oh, ini lupa belum bayar."
Aku serahkan uang 50 ribu pada Mbak Khumaira supaya membayar makanan tadi.
"Mas, ini kebanyakan. Tunggu biar di kasih kembaliannya."
"Sama Mbak, kembaliannya ambil saja. Aziz buru-buru."
Sungguh, ada tugas penting. Kenapa bisa lup? Aku berjalan cepat menjauhi kantin.
***
"Mas," rengek Khumaira pada Azzam.
"Iya, Dek. Ada apa?"
"Mas, Adek pengen bakmi."
"Baiklah nanti Mas belikan."
"Adek ikut ya, Mas."
"Baiklah, sekalian jalan-jalan."
"Kyaa, terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Dek. Tapi ___"
"Tapi ...."
"Cium, Mas."
Khumaira tanpa pikir panjang mencium bibir tipis Azzam. Dia melumat pelan bibir Suaminya tapi langsung di balas penuh gairah oleh Azzam.
"Umhhh, Mas ughh," lenguh Khumaira saat Suaminya meremas bokongnya.
"Ahh," desah Khumaira.
Azzam tersenyum cerah saat Khumaira bergliya meraba tubuh atasnya. Dia senang tatkala mendapat ramasan kuat di perut.
Khumaira tersenyum manis karena tangannya terus aktif meremas perut Azzam.
"Mas, ugh."
"Adek, nakal ughh," lenguh Azzam.
"Mas, ereksi, ya? Hehehe, mau Adek bantu menidurkan?" goda Khumaira seraya mengerling nakal.
Azzam mendongak sambil memejamkan mata rapat untuk menghalau desahan intimnya. Khumaira sekarang benar-benar membuatnya kalang kabut.
Khumaira menciumi leher kokoh Azzam lalu dengan nakal menggigit manja.
Azzam terbelalak saat napas Khumaira teratur. Lah kok? Memejamkan mata menahan gairah yang di bangkitkan Khumaira. Istrinya benar-benar nakal serta tega meninggalkan dia dalam kondisi tegang.
Istrinya membangkitkan gairah tapi lihat si pelaku tidur nyaman di atas tubuhnya.
"Hebat kamu, Dek."