13. Ikat Rambut

1670 Words
Aku nggak menoleh lagi setelah berlalu dari hadapan Genta. Dia harus tahu jika aku juga sangat kesal padanya. Seharusnya dia bisa memisahkan mana urusan pribadi dan mana urusan pekerjaan. Sikapnya tadi sangat nggak profesional dengan mencampur adukkan keduanya. Ponselku berbunyi setelah keluar dari pintu utama gedung Global Oil. Nama Arga terpampang di layar ponselku. Sebenarnya aku nggak terlalu ingin makan di luar bersama orang yang baru aku kenal. Tapi karena memikirkan kekesalanku pada Genta, aku langsung menyetujui ajakan Arga tanpa berpikir apa-apa. “Aku sudah keluar gedung, kamu di mana?” tanyaku. “Oh! Oke, aku sudah lihat kamu,” ujarnya dan sambungan telepon pun terputus. Aku kemudian menunggu di dekat pintu gerbang utama yang menjadi akses keluar masuk karyawan Global Oil. Sebuah sedan berwarna silver mendekat ke arahku dan sudah bisa aku pastikan jika itu adalah Arga. “Ayo masuk,” ujarnya sambil membuka kaca mobilnya. “Makannya yang dekat aja ya, istirahatku cuma satu jam,” ujarku dan saat mengucapkannya entah kenapa malah mengingat wajah masam Genta jika aku memperpanjang jam istirahatku. “Tenang aja, daerah sini banyak pilihan makanan enak kok,” balasnya. Mobil Arga berjalan pelan dan aku melirik sekilas ke arahnya. “Oya, aku nggak sempat tanya, kantormu di daerah mana?” tanyaku kemudian. DIa tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaannya. “Kantorku bisa di mana aja,” sahutnya sambil terkekeh. “Maksudnya?” tanyaku bingung. “Apa Ranu belum cerita tentang pekerjaanku?” Dia malah balik bertanya. Aku tampak berpikir, mungkin Ranu ada menceritakannya padaku, tapi karena nggak konsentrasi, aku hanya mendengarnya sepintas aja. “Nggak ada,” sahutku akhirnya. Daripada aku sala jawab dan yang ada malah salah. “Aku punya beberapa usaha tempat makan,” sahutnya dan membuatku membesarkan mataku dengan tatapan kagum. “Jadi kamu mau bawa aku makan ke salah satu rumah makanmu?” tanyaku. “Maunya begitu, tapi lokasinya lumayan jauh dari sini. Kapan-kapan aja ya,” sahutnya. “Aku nggak menyangka kamu punya usaha tempat makan. Di pikiranku, mungkin kamu salah seorang karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta,” kataku masih dengan nada kagum. “Penampilanku nggak menyakinkan sebagai seorang pengusaha ya?” tanyanya sambil tertawa kecil. Aku mengangguk sambil menyambung tawanya. Siapa saja pasti akan berpikir seperti itu saat bertemu dengannya tempo hari di acara pernikahan mantan pacar Ranu. Penampilannya yang rapi, dari rambut hingga ke pakaian. Tentu saja aku terkecoh dengan penampilannya yang seperti itu. “Rumah makan apa? Maksudku apa ada makanan khusus?” tanyaku penasaran. “Dua rumah makan berkonsep Jepang, dan tiga lainnya campuran antara makanan Indonesia dan oriental,” sahutnya dan lagi-lagi membuatku kagum. Jika dia adalah teman kuliah Ranu, artinya kami seumuran. Di saat aku sedang pontang panting mencari pekerjaan agar tiap bulan bisa mendapatkan gaji, dia malah sudah bisa menggaji para karyawannya. “Hebat banget,” ucapku. Arga hanya tersenyum mendengar pujianku. Dia kemudian menoleh ke arahku. “Ada ide mau makan di mana?” tanyanya kemudian. “Idenya dari Bapak pakar kuliner aja.” Arga kontan tertawa mendengar perkataanku. Karena sejujurnya aku malah takut mengatakan ideku, bisa saja selera rumahanku nggak sesuai dengannya yang pasti sudah banyak mencicipi makanan enak. “Makanan khas Sunda aja ya.” Aku mengangguk mendengar usulnya. Rumah makan khas Sunda yang dimaksud Arga berada nggak begitu jauh dari kantorku. Sebenarnya dengan berjalan kaki saja bisa ditempuh. Dengan menggunakan mobil seperti ini, malah terasa lebih jauh karena dia berada di seberang jalan. Sehingga Arga harus memutar mobilnya sedikit lebih jauh. “Ini salah satu ideku untuk rumah makanku yang selanjutnya,” ujar Arga tepat di depan rumah makan. “Tapi aku sedang memikirkan konsepnya agar nggak pasaran,” lanjutnya. “Mungkin dengan kesan sedikit modern,” timpalku tanpa bermaksud mengguruinya karena aku sendiri nggak mengerti dengan konsep yang ada di pikirannya. “Ide bagus,” sahutnya tampak sedang memikirkan sesuatu. “Setelah ini aku akan memikirkan konsep modern seperti yang kamu katakan tadi,” lanjutnya. “Itu hanya ide yang sepintas lewat di pikiranku kok, kamu nggak harus mengikutinya,” balasku merasa nggak enak. “Itu ide yang sangat bagus. Selama ini aku nggak punya teman buat bertukar pikiran. Biasanya aku berdiskusi dengan para karyawanku atau pun kedua orang tuaku, tapi sampai saat ini kadang masukan mereka nggak cocok denganku,” jelasnya. “Kita harus lebih sering bertemu agar bisa bertukar pikiran,” sambungnya dan membuatku merasa ada yang aneh dari ucapannya. Seperti ada maksud lain di balik ucapannya itu. “Aku suka banget pilihan sambal saat di rumah makan Sunda seperti ini,” ujarnya. Aku sedang memilih sayur segar sedangkan Arga mengambil beberapa macam sambal. Apa dia hanya ingin makan sambal tanpa makanan yang lainnya? “Sepertinya kamu suka banget sama makanan pedas ya?” tanyaku saat melihat piringnya yang penuh dengan sambal. “Iya,” sahutnya. “Aku juga sedang mencari rasa sambal yang cocok dengan selera semua orang,” sahutnya. “Mungkin sesekali kamu boleh mencampurkan sambal khas orang Sumatera dan Sulawesi. Makanan-makanan mereka juga terkenal dengan cita rasa pedasnya,” ujarku. “Kamu ternyata banyak tahu tentang makanan juga,” katanya. “Itu karena dulu aku tinggal di Surabaya dan setiap harus selalu makan di luar. Bukan hal yang membanggakan,” sahutku sambil tertawa kecil. “Kalau kamu mencari makanan baru karena ingin menemukan cita rasa yang unik, sedangkan aku berburu makanan karena lapar,” lanjutku. “Ayo kita mulai makan. Waktu istirahatku nggak banyak ditambah seniorku yang kejamnya minta ampun.” Senior yang kejam itu maksudnya adalah Genta. “Kalau sudah terburu-buru oleh waktu seperti ini, tentu saja menjadi wiraswasta adalah pilihan terbaik, bukan?” “Benar banget, tapi tentu aja untuk sekarang, aku belum siap,” kataku menanggapi ucapan Arga. Kami makan dalam diam. Arga terlihat menikmati makannya, sedangkan aku harus sedikit terburu-buru agar waktu satu jam istirahatku benar-benar bisa digunakan dengan baik. “Kamu biasanya pulang jam berapa?” tanyanya. Aku menggeser piringku perlahan, tanda makanku telah selesai. “Nggak pasti sih, biasanya diatas jam lima sore,” sahutku. “Bawa kendaraan?” tanyanya lagi. Ini orang kenapa sih kok banyak tanya, apa dia sedang melakukan wawancara padaku? “Nggak, aku biasa naik busway atau numpang Ranu,” jawabku. “Bagaimana kalau kali ini biar aku yang antarin kamu pulang?” tawarnya dan membuatku menatap wajahnya dengan bingung. “Jangan, aku nggak mau ngerepotin kamu,” tolakku halus. “Nggak ada yang direpotkan, Jyan. Aku punya waktu yang sangat banyak. Hanya sekadar mengantarmu pulang ke rumah nggak akan membuatku repot,” sahutnya. “Lagi pula aku ingin menunjukan salah satu tempat makanku. Di sana banyak makanan kecil yang pasti kamu nggak akan menolaknya,” sambungnya. Tawarannya terdengar menggiurkan. Di saat kepalaku terasa begitu mau pecah karena siksaan dari Genta dan juga kejenuhan karena berteman dengan Ranu dan pulang bersamanya terus, sepertinya nggak ada salahnya aku mengiyakan tawaran Arga. Sesekali keluar dari lingkaran pertemanan yang biasanya bisa membuatku sedikit rileks. “Boleh,” sahutku bersemangat. Arga tersenyum senang mendengar tanggapanku. Arga segera mengantarku kembali ke kantor saat jam menunjukkan lima menit lagi menuju jam satu siang. “Terima kasih buat traktirannya,” ucapku tulus. “Terima kasih juga karena sudah menemaniku untuk makan siang hari ini,” balasnya. “Nanti sore aku jemput ya,” ucapnya dan mobilnya pun berlalu dari hadapanku. Melihat senyum Arga membuat pikiranku tenang. Senyumnya terasa menyejukkan hatiku yang gersang. Ini sudah terlambat lima menit dari jatah jam istirahat. Genta mungkin kesal, tapi aku nggak peduli. Salah dia sendiri yang berlaku semena-mena padaku. “Lo ke mana aja? Nggak setia kawan banget ninggalin gue sendiri,” ucap Ranu dengan nada bicara yang dibuat-buat saat melihat kedatanganku. Di sekitarnya juga ada Genta dan Kania yang tampak sedang berbicara dengan serius. “Makan siang lah, mau ke mana lagi,” sahutku nggak peduli. “Sama siapa?” tanyanya mau tahu. “Lo nggak punya teman selain gue,” lanjutnya dan membuatku tersenyum masam. “Sama Arga?” tebakannya terdengar ragu dan sengaja nggak kutanggapi karena khawatir Ranu dan kehebohannya hanya akan membuat ribut. “Lo serius makan siang bareng Arga?” tanya Ranu lagi, kali ini dia mendekat ke arahku dan tentu saja apa yang dilakukannya itu membuat Genta melirik ke arah kami. Wajahnya terlihat tegang, dia seperti sedang menahan marah. “Ranu, sudah boleh ikut Kania ke lantai dua belas lagi. Jyan tetap di sini.” Suara Genta membuat Ranu menarik napas panjang, dia seperti kecewa karena kehilangan kesempatan untuk menggorek cerita dariku. Tapi bukan Ranu namanya jika dia sanggup menahan rasa penasarannya sampai sore nanti, dia pasti akan melakukan segala cara. “Ikatlah rambutmu dengan ini,” kata Genta tiba-tiba. Dia meletakkan sebungkus ikat rambut warna-warni yang membuatku tercengang. “Kamu kesulitan dengan rambutmu, bukan?” tanyanya dan seperti orang bodoh, aku hanya mengangguk pelan. Sepertinya aku merasa diingatkan dengan ucapan Genta tadi. Dia juga pernah mengucapkan kalimat yang sama. Aku sering mengeluh karena rambut panjangku membuatku kepanasan saat sedang bekerja. Biasanya Genta yang akan mengikat rambutku, walaupun asal tapi bisa membuatku terharu. Rasanya aku ingin tertawa, mengejek kemunafikan pikiranku yang selalu mengelak hal berbau Genta tapi hanya karena hal kecil saja bisa membuatku ingin menangis. Ini benar-benar nggak lucu. Bolehkan aku tertawa sambil menangis? “Jangan keras kepala, pakailah,” ucap Genta dan terasa mengena di hatiku. Aku memang ingin bersikeras nggak mau menggunakan ikat rambut yang diberikannya. Cuma hal kecil seperti itu, aku juga bisa membelinya sendiri. Rasanya nggak sudi menggunakan pemberian Genta setelah seharian ini dia mendiamkanku dengan caranya yang menyebalkan. Biarpun semua ini memang bermula dariku. Aku meliriknya dengan kesal dan dengan gerak pelan mengangkat tanganku dan mulai mengikat rambutku. Rasanya begitu dongkol, tapi aku nggak menemukan cara untuk melampiaskannya. Aku ingin berteriak memakinya tapi nggak mungkin kulakukan karena terlalu banyak orang di sini. Sejak perpisahan kami setahun yang lalu, aku belum pernah melampiaskan emosiku padanya. Saat itu aku hanya menangis dan pergi dari hadapannya. Kenapa tingkahku mirip sekali dengan wanita teraniaya di sinetron yang sering ditonton Mama? Sekilas aku melihat senyumnya yang terkulum saat aku menyelesaikan ikatan rambutku. Ini sangat menyebalkan, entah kenapa aku malah berdebar karena senyumannya. Sial! (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD