17. Tentu Saja Bersamaku

1645 Words

Aku sudah tahu jika Genta yang turun dari mobil hitam tadi, tapi sengaja aku nggak peduli dan berjalan meninggalkan para rumahku, biar kesan sombongnya dapat. “Jyan,” panggilnya. Saat mendengar suaranya, aku malah ingin tertawa. Aku seperti dokter yang mendapat kunjungan dari pasien. Tadi Arga, sekarang Genta. “Sudah malam, kenapa kamu ke sini?” tanyaku sambil menoleh. “Apa aku nggak boleh masuk?” tanyanya. Aku mengangkat bahuku dengan malas dan kemudian membuka pagar rumahku. “Tadi aku sudah ke sini, dan kayaknya kamu masih ada tamu,” katanya lagi. Sudah tahu tadi aku ada tamu, kenapa nggak langsung pulang aja. Bisa kutebak, dari tadi Genta pasti berada di ujung jalan, dan saat melihat Arga telah pulang, dia bergegas ke sini. Mirip anak remaja aja. “Duduklah,” kataku sambil memberesk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD