Pagi ini Genta memang menjemputku karena memang aku yang meminta. Awalnya dia tetap ingin memaksa agar tetap menjemputku walaupun pagi-pagi sekali tadi dia harus segera ke bandara untuk menjemput salah seorang petinggi Global Oil yang baru saja dimutasi dari pabrik di Balikpapan ke kantor pusat di Jakarta. Karena yang datang adalah orang penting, karena itu nggak mungkin hanya sopir yang menjemputnya. Aku nggak mau Genta terlambat ke bandara hanya gara-gara menjemput aku yang tukang lelet ini. Jadilah pagi ini aku turun dari busway dengan bersemangat karena sudah lama meninggalkan rutinitas itu. Genta harus sesekali membiarkanku seperti ini agar dia nggak lelah setiap hari menjemput dan mengantarku. Apalagi arah rumahku berlawanan dengan arah ke kantor. “Kita harus bicara kalau lo masih

