6. Nggak Ada Urusannya

1672 Words
Aku menahan kepalaku yang hampir pecah dan keinginanku untuk menginjak kaki Ranu dari pertama kami masuk ke lift. Dia nggak punya basa-basi lain apa selain mengajak buaya itu makan siang bareng. "Lo lapar banget kayaknya ya, pucat banget muka lo," cetus Ranu saat kami telah berada di lift. Situasi saat ini begitu aneh, aku nggak bisa banyak bicara karena ada Genta yang berdiri di depan kami. "Kayaknya sih gitu," sahutku asal. "Kalian cari tempat aja dulu ya, gue nunggu Manda sebentar," kataku pada Ranu. Sekilas mataku mengarah pada Genta yang terlihat nggak peduli dengan ucapanku, dia berlalu dan mencari tempat duduknya sendiri. Aku jadi penasaran, biasanya dia makan siang bareng siapa karena sepertinya Genta lumayan populer di antara wanita di perusahaan ini. "Lama banget," cetusku saat melihat Manda muncul. "Nggak enak istirahat duluan sementara bos belum," sahutnya setengah berbisik. "Ayo, gue sudah lapar banget," ucapku sambil menarik tangannya. "Kita duduk di mana?" tanya Manda sambil mengedarkan pandangannya. Di mana aja asal nggak di dekat lelaki itu. "Tuh, ada Ranu. Kita di sana aja ya," ucap Manda bersemangat, sementara Ranu melambai-lambaikan tangannya ke arah kami. "Gue kok yang ngajak dia makan bareng," kataku pada Manda sebelum dia menyangka semua ini adalah kebetulan. "Astaga! Ada Mas Genta juga rupanya," bisiknya dengan nada terkejut. Aku membuang napas kesal, kirain dia nggak sudi makan bareng kami. "Diajakin Ranu tadi," jawabku. "Makan siang sambil ditemani dia memang perpaduan yang pas," ucapnya setengah berbisik. Pas apa ya, yang ada aku malah nggak selera makan karenanya. Dia nggak pengen makan bareng siapa gitu, wanita-wanita kenalannya, atau mungkin saat ini ada wanita yang sedang dipacarinya. Menyebalkan banget melihatnya ada di meja yang sama denganku "Halo Mas Genta," sapa Manda dengan nada manja. Aku memiringkan bibirku, hatiku nggak terima mendengar sapaan itu. Bukannya aku cemburu, hanya lelaki seperti Genta itu nggak pantas mendapat perhatian. "Di sini nggak ada orang, kan?" tanya Manda menunjuk kursi di sebelah Genta yang kosong. Dia menggeleng tanpa bicara satu patah kata pun. Manda kemudian duduk di sebelahnya sambil memamerkan senyum kemenangan padaku, gayanya seperti baru memenangkan lomba aja. Sedangkan aku duduk di ujung meja, selang beberapa kursi dari Genta. Hal itu sengaja kulakukan agar bisa makan siang dengan tenang. "Lo tahu tahu Mas Huta, kan?" tanya Ranu tiba-tiba. Kepalaku yang masih kosong nggak bisa berpikir dengan baik, sehingga yang kulakukan hanya mengangguk tanpa mengerti apa maksud pertanyaan Ranu. "Dia nanya-nanya lo terus sama gue. Kayaknya dia naksir lo deh," ujar Ranu dan kontan membuatku tersadar. "Huta yang mana?" tanyaku bingung. "Astaga Jyan! Huta anak tax and payroll juga, yang duduk ya di sebelah Mbak Brenda," jawabnya dengan wajah kesal. "Oh," sahutku singkat dan nggak tertarik. "Awas aja lo ngomong yang aneh-aneh tentang gue," ucapku kemudian. "Masih minggu pertama, sudah ada aja yang naksir," ledek Manda. Ternyata walaupun jarak kami lumayan jauh, Manda bisa mendengar apa yang aku dan Ranu bicarakan. "Tadi aja sama Mas Wira, nanyain kamu juga," timpal Manda sambil terkekeh. "Wira siapa lagi," potongku semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. "Wira anak accounting, lelaki yang tadi kamu temuin itu," sahut Manda. "Laris manis ya lo," ledek Ranu seolah aku adalah barang dagangan. "Eh...Mas mau kemana?" Tiba-tiba terdengar suara Manda. "Ke toilet sebentar," jawab Genta sambil berlalu. Pandangan kami nggak sengaja bertemu saat Genta melewatiku. Aku segera mengalihkan pandangan dan pura-pura nggak melihatnya. "Harusnya tadi lo ajak yang lain juga, sesama anak-anak baru," ujar Ranu. "Gue cuma punya nomor ponsel Manda, yang lainnya mana sempat gue tanya," sahutku. "Nanti aja ngobrolnya, kita makan dulu," kataku bersemangat saat melihat pesananku telah diantar, seporsi nasi goreng seafood yang masih mengepulkan asap. Genta kembali dari toilet saat aku sedang menikmati suapan pertama nasi gorengku. Dulu, waktu kami masih bersama, dia selalu memarahiku jika aku memesan nasi goreng untuk menu makanku, entah itu saat sarapan, makan siang, atau pun makan malam. Katanya nasi goreng itu nggak sehat, apalagi dalam sehari aku bisa makan nasi goreng lebih dari satu kali. Terdengar deheman Genta saat dia duduk di kursinya. Tadi sekilas aku melihat dia memesan seporsi sate vegetarian, ada juga salad sayuran yang menemaninya. Ternyata pola makannya nggak berubah. Dalam hal makan, kami sangat bertolak belakang. Aku pemakan segalanya dan nggak menolak makan apa dan kapan pun. Sedangkan Genta sangat pemilih dan hanya mau makanan sehat. Pantas aja tubuhnya terjaga hingga sekarang. Masa bodoh dengan tubuhnya, mau terjaga atau nggak, bukan urusanku. "Bagaimana hari pertama kerja kalian?" tanya Genta entah pada siapa setelah dia menyelesaikan makannya. Porsi makan Genta yang sedikit membuatnya makan dalam waktu yang singkat. "Seru banget, Mas. Nggak menyesal bisa keterima di sini." Manda dengan cepat menanggapi pertanyaan Genta. Please deh Manda, kalau mau naksir orang, lebih baik pilih yang lain. Aku pura-pura sibuk dengan memisahkan sayuran dari nasi gorengku, tadi aku lupa mengatakan untuk nggak menambahkan sayuran ke dalamnya. "Sini buat gue aja," cetus Ranu terlihat kesal dengan apa yang aku lakukan. Dia kemudian mengambil sayuran yang aku sisihkan di pinggir piring. "Kalian kayak orang pacaran aja," komentar Manda sambil tertawa. Aku nggak menanggapi ucapan Manda karena sedang sibuk mengunyah nasi gorengku sambil membaca situs gosip seputar artis. "Aku duluan ya, kebetulan ada panggilan mendadak." Tanpa sadar aku menegadah dan mendapatkan Genta sedang berdiri dan akan beranjak pergi. "Sampai ketemu lagi, Mas," ucap Manda sedangkan Ranu hanya melambaikan tangannya karena mulutnya penuh dengan makanan. "Duh, ganteng banget," ujar Manda setelah Genta pergi. Ganteng sih, tapi kelakuannya nggak banget. "Biasa aja," timpalku dingin. "Selera lo memang agak beda, lihat yang ganteng bilangnya biasa," ujar manda sambil tersenyum masam. Tentu aja aku bilang Genta biasa aja karena wajahnya sudah terekam dengan jelas di otakku. Aku sudah sangat bosan bahkan eneg mengingat wajahnya. "Makan lo nggak bakal selesai kalau caranya kayak gini," komentar Ranu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku masih terus memisahkan sayuran sambil menyuap nasi gorengku. "Sebentar, sedikit lagi," ujarku nggak peduli dengan wajah Ranu yang sudah terlihat kesal. "Nanti pulang gue nebeng lo ya," kata Manda pada Ranu. "Pacar lo mana?" tanya Ranu dan membuat Manda membalasnya dengan cengiran. "Lagi berantem," sahutnya dan membuat Ranu tertawa dengan kerasnya. "Lo kok malas senang," ujar Manda kesal. "Asal lo tahu aja, di kepalanya Ranu ini malah ngedoain biar lo putus sama lacar lo," timpalku sambil terkekeh. "Lo nggak mau nebeng juga?" tanya Ranu padaku. "Ogah, gue belum berantem sama pacar gue," sahutku asal. "Sejak kapan lo punya pacar." Ucapan Ranu seperti sebuah ledekan. "Sejak lo ngajakin gue pulang bareng," sahutku sekenanya dan membuat Manda tertawa puas. "Kita balik kerja lagi yuk," ajak Manda kemudian. Aku mengikuti langkah Ranu dan Manda dari belakang karena keduanya seperti sedang membicarakan hal yang nggak kumengerti. Aku dan Ranu berpisah dengan Manda di lift. Kami segera turun di lantai enam sedangkan Manda masih harus naik satu lantai lagi. "Ternyata Mbak Brenda itu seumuran sama gue loh," bisik Ranu tiba-tiba. "Wah, gue kira dia sudah kepala tiga. Wajahnya nggak mendukung ya," balasku sambil berbisik. "Gue aja tahu dari anak-anak yang lain. Tapi sudah terlanjur manggil dia dengan sebutan mbak," ujar Ranu sambil tertawa kecil. "Awas ya kalau lo gosipin gue yang nggak- nggak," ancamku saat mengingat sesuatu. Sepertinya Ranu ini memiliki sifat yang sedikit menyebalkan, dia hobi ikut-ikutan bergosip. Seperti ibu-ibu komplek aja. "Kayak penting aja," balasku. "Ada jus buah tuh, kalian tinggal pilih aja mau yang mana," ujar Maya saat aku dan Ranu baru memasuki ruangan. "Siapa yang traktir nih, Mbak?" tanyaku bersemangat sambil memilik jus yang aku inginkan. Sepertinya jus jeruk lumayan segar buat siang hari yang panas ini. "Mentor kalian tuh, si Genta," sahut Maya dan kontan membuatku menggantung tanganku yang sudah hampir menyentuh jus jeruk pilihanku. "Loh, kok nggak jadi?" tanya Ranu bingung dan jus jeruk pilihanku telah berpindah ke tangannya. "Mendadak nggak pengen minum jus," kilahku. Mengingat jika Genta yang membelikan jus itu, membuatku menjadi nggak berselera. Apa pun yang berhubungan dengannya sebisa mungkin akan kuhindari. "Ada yang bisa dibantu nggak, Mbak?" tanyaku pada Maya yang sedang menghadap komputernya. Dari pada aku merasa kesal karena jus buah Genta, lebih baik saat ini aku fokus dan belajar dengan benar. "Ng...apa ya." Maya malah seperti berbicara dengan dirinya sendiri. "Bantuan gue aja." Sebuah suara membuatku menoleh. "Ya sudah, bantuin Mas Huta aja kalau gitu. Di gue, belum ada kerjaan yang perlu bantuan," ujar Maya dan membuatku bergeser ke meja seseorang yang dipanggil dengan nama Huta. "Alasan lo aja pakai minta bantu," ledek Brenda dari kursinya. Huta terkekeh dan kemudian membuka sebuah aplikasi dari komputernya. Dia menjelaskan secara singkat apa yang harus aku lakukan. Karena dia menjelaskan sangat detail, aku jadi mudah memahaminya. "Kerjain aja dulu, kalau ada yang bingung jangan ragu buat nanya," katanya kemudian. Aku mengangguk sementara dia sendiri sedang membuka email dari komputer yang berada di sebelahnya. "Wah, cepat banget," puji Huta saat dia menoleh ke arahku. "Lagian nggak susah kok, Mas," sahutku sambil tersenyum. "Kalau begitu untuk seminggu ini Jyan sama lo aja deh," goda Brenda yang mendengar pujian dari Huta. Aku kemudian ikut tertawa karena Brenda nggak berhenti menggoda Huta. "Tuh mentornya datang mastiin anak-anaknya baik-baik aja. Awas lo ya kalau berani macam-macam sama Jyan," ancam Brenda sambil tertawa. Mentor? Apa maksudnya Genta berada di sini. Dan ternyata memang benar jika Genta sedang berada tidak jauh dariku. Karena terlalu serius dengan komputer, aku jadi nggak sadar jika dia sudah berada di ruangan ini. "Mereka nggak ngalamin kesulitan, kan?" tanya Genta, dia seperti sedang berbicara dengan Brenda. Aku melirik sebentar, nggak sampai sedetik karena aku segera kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku lagi. Nggak benar-benar berkonsentrasi sih, karena telingaku bekerja keras untuk mendengar apa yang sedang dibicarakannya dengan Brenda. Bukan apa, tingkah laku Brenda terlihat mencurigakan saat di dekat Genta. Apa mungkin dia naksir lelaki buaya itu? "Dua-duanya aman di sini, tuh Jyan malah sudah ngerjain kerjaannya Huta," sahutnya. Sementara tanganku berada di keyboard komputer, indra pendengaranku sedang berusaha menangkap apa yang dibicarakan keduanya. "Gue pulang sama lo ya nanti." Tanganku menegang dan beberapa detik aku nggak bisa berkonsentrasi dengan baik. Dia nggak seperti Manda yang sedang berantem dengan pacarnya, kan? "Gue nggak bawa kendaraan hari ini," sahut Genta dan entah kenapa membuatku sangat lega. Astaga Jyan! Memangnya apa urusanku dengan mereka! (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD