"Yakin lo nggak mau pulang bareng gue?" tanya Ranu sekali lagi saat berada di lift
"Yakin," sahutku singkat dan membuat Ranu dan Manda saling berpandangan. Bukannya aku nggak mau pulang diantar oleh Ranu, tapi saat ini aku sedang ini menikmati perjalanan pulang ke rumah dengan caraku sendiri. Aku suka dengan sensasi menunggu busway di halte dan saat berebutan dengan para penumpang. Rasanya menyenangkan dan bisa menghabiskan waktuku. Daripada aku merenung dan memikirkan hal nggak penting, lebih baik jika aku membiarkan pikiranku penuh dengan hal-hal yang membuatku senang.
"Susah banget ya mau ngajak lo pulang bareng," ucap Ranu mirip sebuah keluhan.
"Tentu aja, Jyan, kan nggak kalah sama artis papan atas," komentar Manda sambil terkikik.
"Sudah sana kalian pulang aja sekarang," ucapku mengusir keduanya yang tampak nggak rela aku nggak pulang bersama mereka.
"Sampai ketemu besok," ucapku sambil berlalu dan nggak menunggu tanggapan dari keduanya lagi.
Alasan lain yang membuatku nggak pernah mau menerima tawaran diantar pulang adalah karena momen diantar pulang dari kantor itu mengingatkanku pada momen di mana Genta sering mengantarku dulu. Aku nggak mau perasaan lemahku ini diperdaya hanya karena mengingat sosoknya.
Langkahku tertahan saat melihat sosok di depan pintu keluar. Aku sengaja memperlambat langkahku agar nggak berpapasan dengannya. Tapi kenapa dia seperti sengaja menghentikan langkahnya.
"Hai," sapaku basa-basi saat sudah nggak bisa menunggu lebih lama lagi agar Genta berlalu di hadapanku. Aku yakin, dia memang sengaja menunggu di pintu keluar sehingga aku nggak bisa kabur lagi.
Kalau aku nggak menyapanya dan hanya berlalu, aku khawatir ada orang lain yang melihat dan membuat anggapan nggak baik tentangku. Anak baru kok gitu banget sama senior.
Karena dia nggak menyahut, aku pastikan jika dia nggak akan mengajakku bicara. Lagi pula hal apa yang ingin dibicarakannya denganku di jam pulang seperti ini. Masalah pekerjaan? Nggak mungkin, kan?
"Jyan." Aku hampir nggak bernapas saat mendengar namaku disebut olehnya. Sudah lama aku nggak pernah mendengar sosok itu menyebut namaku dengan suaranya yang dulu begitu aku sukai. Lagi-lagi kata ‘dulu’ memenuhi pikiranku.
Rasanya ingin pura-pura nggak mendengar dan segera berlalu dari hadapannya tapi entah kenapa hatiku nggak bisa diajak bekerja sama dengan pikiranku. Karena merasa nggak tega jika panggilannya nggak mendapat tanggapan dariku, aku menoleh dan menatap wajahnya yang terlihat jauh berbeda dari saat di kantor tadi. Sosok yang kali ini kulihat adalah sosok yang aku kenal selama dua tahun terakhir, bukan sosok dingin dan berwajah judes seperti saat di kantor tadi.
Karena dia nggak kunjung mengutarakan apa maksud panggilannya tadi, aku berinisiatif untuk bertanya dengan wajah polos. Bukannya aku sendiri yang mengatakan akan membuat hubungan kami ini seperti dua orang asing yang nggak pernah memiliki hubungan sama sekali.
“Iya, ada apa ya, Mas?” Genta pasti terkejut mendengar panggilanku padanya. Aku nggak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ karena memang nggak menyukainya.
“Sudah malam begini, kamu pulang sendiri?” tanyanya dengan nada bicara yang terdengar aneh di telingaku. Ini bukan Genta yang aku kenal, dia bicara terlalu formal padaku.
“Iya,” sahutku pendek. Suasana saat ini benar-benar terasa sangat aneh. Dulu nggak pernah ada jarak di antara kami, sekarang untuk berbicara saja rasanya sulit untuk kulakukan.
Kami saling berpandangan dalam waktu sekian detik. Hati kecilku yang nggak tahu diri ini dengan nggak tahu malunya seperti bersorak saat diberi kesempatan menatap wajahnya. Aku rindu padanya, tapi gengsi karena dia telah menyakiti hatiku begitu dalam.
“Besok kamu bisa pulang bareng aku,” ujarnya dan membuat keningku berkerut. Pulang bareng? Nggak salah dengar nih?
“Nggak perlu repot-repot, aku sudah terbiasa pulang sendiri kok,” sahutku cepat. Aku rasa Genta memang sengaja bersikap dingin saat di kantor, dia seperti ingin memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Lihat saja, saat sudah nggak berada di lingkup kantor, dia mau menyapa dan berbicara denganku.
“Ini Jakarta, Jyan,” ucapnya.
“Aku tahu, dan Jakarta adalah kota kelahiranku. Bagaimana mungkin aku nggak tahu situasi Jakarta saat malam,” balasku dan kontan membuatnya terdiam.
“Hari ini biar aku menemanimu pulang dan besok kamu bisa ikut pulang bersamaku,” katanya seperti nggak mengerti penolakan yang aku katakan tadi.
“Nggak perlu,” ucapku dan segera berjalan dengan cepat menuju halte busway yang berada di seberang jalan. Masih terdengar namaku yang dipanggilnya berkali-kali, tapi aku nggak peduli. Jika tujuannya mengajakku berbicara hanya ingin mengatakan hal itu, aku nggak punya waktu.
Bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan setelah kami berpisah. Aku ingin kami nggak saling mengusik lagi karena tentu saja aku dan dia sudah memiliki kehidupan masing-masing. Walaupun dia telah bercerai dan dia juga telah menjelaskan padaku alasan kenapa dia membohongiku selama ini, bagiku semuanya tetap sama. Dia telah berbohong padaku, menikah dengan seorang wanita yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya dan nggak memikirkan sama sekali tentang perasaanku.
Katanya pernikahannya dengan Daya, mantan istrinya hanya sebuah tanggung jawab. Aku nggak ngerti tanggung jawab apa yang dimaksudnya karena nggak mau mendengar lebih jauh lagi penjelasannya. Apa karena dia telah menghamili Daya, makanya dia harus bertanggung jawab?
“Jyan!” Aku merasa tanganku ditarik dan membuatku nggak bisa melanjutkan langkah kakiku. Tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa yang sedang menarik tanganku itu.
“Aku akan menemanimu,” ucapnya tak terbantah dan tidak melepaskan tangannya yang berada di lengankku.
“Setahun terakhir ini aku sudah biasa seperti ini, kamu nggak perlu mengkhawatirkan aku,” ucapku dengan suara bergetar. Kami memang nggak seharusnya berhubungan lagi, mau bagaimana pun jenis hubungan kami, aku rasa nggak akan berhasil. Aku terlalu banyak menyimpan kekecewaan padanya dan setiap melihatnya, yang ada hanya rasa sakit.
“Tentu saja aku harus khawatir. Aku melihat dengan jelas apa yang terjadi denganmu dan nggak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian,” balasnya dengan wajah menegang. Nggak mau acara tarik menarik tanganku menjadi bahan perbincangan orang, aku akhirnya merelakan Genta ikut ke halte dan masuk ke busway yang akan membawaku pulang ke rumah.
“Aku mohon, cukup hari ini aja. Bersikaplah seperti saat kamu berada di kantor. Aku merasa lebih tenang jika kamu mengabaikanku,” ucapku lirih. Perlahan genggaman tangan Genta terasa mengendur dan aku bisa bernapas lega karenanya.
Nggak ada yang saling berbicara lagi karena sepertinya Genta juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku benar-benar nggak kuat jika harus menghadapi siksaan perasaan seperti ini. Kata hatiku seperti sedang berperang, aku ingin mengabaikannya tapi nggak tega melihat wajahnya terlihat menyedihkan.
“Nggak jika di luar kantor, Jyan. Aku nggak bisa mengabaikanmu begitu saja,” sahutnya dan membuatku tercengang. Seenaknya saja memutuskan sesuatu. Apa dia nggak berpikir bagaimana perasaanku jika dia terus menerus mengejarku seperti ini?
“Aku tetap nggak bisa. Kamu menyakitiku terlalu dalam,” ucapku lirih dan membuat wajah Genta berubah sendu. Genta terdiam. Tiba-tiba aku merasa menyesal karena mungkin ucapanku tadi menyinggungnya. Tapi bukankah dia telah melakukan hal yang lebih jahat lagi dari itu?
“Biarkan kita dengan jalan kita masing-masing,” ucapku dan segera beranjak menuju pintu busway karena halte tujuanku sudah sampai.
***
Saat berada di kantor seperti ini, Genta akan bersikap seperti yang biasa dilakukannya padaku, dingin dan nggak peduli. Aku bersyukur karena hal itu, aku hanya tinggal menghindarinya saat pulang kerja. Hal itulah yang membuatku dua hari ini selalu merengek untuk bisa diantar pulang oleh Ranu. Bukannya langsung mengiyakan permintaanku, dia malah mengejekku habis-habisan dengan mengatakan jika aku orang yang nggak berpendirian. Baru saja beberapa hari yang lalu aku menolak ajakannya pulang, tapi nggak perlu menunggu lama, aku sudah berubah pikiran. Kali ini malah lebih dramatis, karena aku memintanya sambil merengek-rengek.
Hari ini semua karyawan baru berkumpul di lantai dua belas untuk mereview apa saja yang telah didapatkan selama seminggu terakhir ini. Pertemuan dimulai dengan sesi tanya jawab dengan Genta sebagai narasumbernya. Dan tentu saja bisa ditebak, hanya aku yang nggak mengajukan pertanyaan. Karena pertama, memang nggak ada hal yang ingin kutanyakan seputar perusahaan ini, dan yang kedua tentu saja karena Genta yang menjadi narasumbernya.
Di saat Manda dan Gloria berlomba-lomba ingin mencari perhatian Genta dengan mengajukan pertanyaan nggak masuk akal, aku lebih memilih diam. Aku nggak mau kembali memancing perasaanku dan membuatku kembali bersedih saat menatap matanya dan saat dia menyebut namaku dengan lembut.
Ah! Persetan dengan semuanya. Aku mengusap wajahku karena rasanya pikiranku semakin nggak tenang bersamaan dengan suara Genta yang terdengar jelas di telingaku. Dia sedang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vino, salah seorang karyawan baru yang ditempatkan di divisi quality control.
“Lo sakit?” bisik Ranu yang berada di sebelahku. Agar Ranu nggak bertanya lebih lanjut lagi, akhirnya aku mengangguk dan menunjukkan wajah kesakitan. Begitu lebih baik daripada dia banyak bertanya dan membuatku semakin pusing.
“Ijin aja, minta pulang cepat,” bisiknya lagi. Aku menggeleng dan nggak menanggapi usul Ranu.
“Gue sakit perut karena datang bulan. Sebentar lagi juga membaik sendiri,” sahutku dengan suara tak kalah pelan. Ranu mengangguk mengerti dan nggak bertanya lagi.
“Baiklah, sesi tanya jawab selesai. Sekarang bergabunglah dengan teman sesama divisi kalian dan buat satu kesimpulan selama seminggu kalian bekerja di Global Oil. Boleh itu berupa kesan atau pun kritik,” ujar Genta dengan suara lantang. Aku mengeryitkan kening sambil menoleh ke arah Ranu. Nggak ada kesan berarti yang kudapatkan selama seminggu bekerja di sini. Hanya rasa tertekan karena keberadaan Genta. Itu nggak bisa dimasukkan ke dalam kesimpulan, bukan?
“Lo deh yang buat,” ujar Ranu sambil menyodorkan selembar kertas padaku.
“Gue nggak punya kesan apa-apa,” sahutku sambil berbisik.
“Apalagi gue. Gue nggak jago ngarang kata-kata,” ujar Ranu.
“Kenapa, apa ada masalah?” Aku menahan napas saat Genta berdiri di sebelah kami. Ranu menatapku sedangkan aku pura-pura menunduk sambil menatap selembar kertas yang putih bersih.
“Nggak ada kok, Mas. Cuma ini Jyan kayaknya lagi kurang sehat,” ujar Ranu. Mataku membesar, seenaknya mengkambing hitamkan aku agar dia terbebas dari tatapan tajam mata Genta.
“Oya? Sakit apa?” tanyanya dingin. Ih sok banget, biasanya aja manggil-manggil namaku sampai mau nangis. Ini pura-pura nggak peduli.
“sakit hati,” sahutku sekenanya dan membuat Ranu menatapku nggak percaya. (*)