"Senang banget minggu ini bisa terlewati juga!" seru Manda dengan riang.
"Nongkrong dulu yuk," ajak Andra.
"Kalian kayak anak muda aja yang mesti nongkrong tiap akhir pekan," komentarku.
"Dan lo kayak nenek-nenek cerewet yang mengomentari cucu-cucunya," timpal Ranu sambil tertawa.
"Lo kayak bukan anak muda aja." Kali ini Manda yang berkomentar.
"Masa muda gue sudah berlalu, sekarang saatnya fokus memperbaiki diri," sahutku dan membuat Andra lantas mencubit pipiku.
"Lo kebanyakan dugem makanya ngomong begini," ucapnya. Aku terkekeh sambil mengusap pipiku yang terasa nyeri karena cubitan Ranu.
"Boleh deh nongkrong, tapi di mana?" tanya Gloria bersemangat.
"Oke, gue juga ikut. Tapi kita bertujuh aja ya, jangan ajak-ajak yang lain," kataku menekankan pada kata bertujuh. Jika nggak, Ranu yang sok tahu itu akan mengajak Genta untuk bergabung bersama kami. Ih ogah banget kalau ada dia.
Karena Ranu dan Vino membawa kendaraan, maka kami membagi diri menjadi dua kelompok. Aku dan Manda di mobil Ranu, sedangkan Gloria, Manda, dan Andra di mobil Vino.
Aku nggak ingat lagi kapan terakhir kali menghabiskan waktu dengan bersenang-senang seperti ini. Rasanya setahun terakhir, hidupku begitu suram. Aku nggak bisa makan dengan benar, tidur dengan baik dan hiburan apa pun rasanya nggak menyenangkan buatku.
"Kata Vino ke Gatot Subroto, dia tahu tempat nongkrong yang asyik," ujar Manda setelah menerima telepon dari Vino.
"Oke, ayo jalan," ucap Ranu bersemangat.
Mungkin nggak ada salahnya sesekali bersenang-senang seperti ini. Aku memiliki definisi sendiri untuk kata bersenang-senang. Asal memiliki waktu untuk diriku sendiri, aku sudah mengatakannya bersenang-senang.
Setelah berkali-kali pindah pekerjaan, kali ini aku merasa lumayan beruntung karena menemukan teman-teman yang cocok denganku. Walaupun kadang menyebalkan, tapi setidaknya mereka bisa membuatku tertawa dan melupakan kesedihanku sejenak.
"Pacar lo nggak marah, kan?" tanya Ranu pada Manda.
"Marah sih kalau ketahuan. Biarin deh, gue sama dia juga lagi diam-diaman," sahut Manda terkesan nggak peduli.
"Kalau gue sih yang marah bukan pacar, tapi satpam di komplek rumah. Dia paling kesal dibangunin buat bukain portal," timpalku dan membuat Ranu tertawa.
"Tenang aja, nanti lo yang paling pertama gue antar pulang," ucap Ranu.
"Jujur, gue belum pernah nongkrong sampai larut malam selama di Jakarta ini," kataku pada Manda.
"Loh, gue kira lo anak gaul Jakarta," timpal Manda sambil tertawa kecil.
"Selepas lulus kuliah, gue langsung keterima kerja di Surabaya. Jadi nggak sempat merasakan jadi anak gaul Jakarta," balasku.
"Kalau nggak salah Mas Genta juga dari Surabaya deh," timpal Ranu. Selalu saja jika aku mengatakan Surabaya, orang-orang akan menyangkut pautkan dengan Genta. Padahal aku nggak ada hubungannya sama sekali dengannya.
"Benaran Mas Genta dari Surabaya?" tanya Manda bersemangat.
"Lo sadar diri deh kalau belum putus sama pacar lo," komentar Ranu. Walaupun terdengar sinis, aku tahu jika dia sedang bercanda.
"Kagum sama naksir, kan beda. Gue kagum aja sama pembawaan Mas Genta yang cool, percaya diri dan ganteng," balas Manda nggak mau kalah. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Manda membuatku kesulitan untuk bernapas. Buat perasaan nggak enak aja dengarnya.
"Gloria malah lebih parah lagi, dia terang-terangan minta nomor ponselnya Mas Genta ke orangnya sendiri. Jadi apa yang gue lakuin ini masih normal dong," lanjutnya. Aku menarik napas panjang, kenapa di mana-mana orang-orang nggak berhenti membicarakan soal Genta? Apa dia sebegitu populernya di kalangan wanita Global Oil?
"Heran kenapa nggak ada satu pun wanita yang nguber-nguber gue," cetus Ranu dan kontan membuatku dan Manda saling berpandangan.
"Nguber-nguber lo?" ulangku dengan nada tidak percaya.
"Bakal gue lakuin kalau stok lelaki di dunia ini tinggal lo," sambung Manda dan membuat wajah Ranu terlihat masam. Aku dan Manda kemudian terlibat pembicaraan seru tentang gosip seputar karyawan Global Oil. Ranu yang nggak mengerti hanya bisa mendengar sambil terus menyetir mobilnya.
"Lo tahu nama tempatnya?" tanya Ranu terlihat nggak sabar karena mobilnya sudah melintasi jalan Gatot Subroto
"Ikutin aja mobil Vino, kayaknya di depan sana deh," sahut Manda.
"Tuh Vino berhenti," kataku. Ranu kemudian mengikuti mobil Vino yang diparkir di basement sebuah gedung.
"Wah...wah...Vino nantang gue nih ngajak nongkrong di tempat beginian," ucap Ranu sambil mengedarkan matanya.
"Ini sih tempat nongkrong kaum elit," komentar Manda sambil berdecak.
"Biarin aja, dia yang mau traktir kok katanya," kataku sambil tertawa kecil karena melihat wajah Ranu dan Manda yang terlihat takjub.
"Lo biasa nongkrong di sini?" tanya Ranu pada Vino saat mereka telah turun dan mobil. Vino mengangguk dan wajahnya terlihat serius.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita naik," ajak Gloria nggak sabar.
"Sebentar, satu mobil lagi nih," sahut Vino.
"Satu mobil lagi?" tanyaku dan Ranu hampir bersamaan. Padahal tadi aku sudah jelas-jelas memperingatkan hanya kami bertujuh, nggak ada yang lain.
"Lo ajak siapa?" Pertanyaanku tertelan oleh suara Gloria yang berseru dengan nyaring sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang parkir di sebelah mobil Ranu.
Nggak mungkin. Pasti hanya kebetulan mobilnya sama dengan orang itu. Aku menahan napas saat sosok di balik kemudi turun dari mobil. Genta.
Mataku berkilat marah sambil menatap Vino. Pasti dia yang telah mengajak Genta. Dari tadi aku sudah memperingatkan Ranu untuk nggak mengajak orang lain selain kami, para karyawan baru. Kenapa kesenangan kali ini hari berubah menjadi bencana?
Napasku semakin sulit untuk kutarik saat melihat beberapa orang turun dari mobilnya. Astaga! Jadi bukan Genta sendiri?
Ada Brenda, dua orang wanita yang nggak kukenal dan seorang lelaki yang juga nggak kukenal. Apa-apaan semua ini? Apa mereka memang berinisiatif datang ke sini atau karena diajak oleh Vino.
"Gue nggak tahu apa-apa ya," ucap Ranu dengan suara pelan saat teman-teman yang dibawa oleh Genta begitu berisik dengan suara tawa mereka. Aku mendesis kesal sambil melirik ke arah Vino.
"Kok jadi ramai gini," cetus Manda. Aku bergegas mendekat ke arah Vino dan mencubit lengannya dengan gemas. Dia mengaduh kesakitan dan menatapku bingung.
"Kok ajak yang lain juga, tadi gue bilang cuma kita-kita," ujarku setengah berbisik.
"Gue juga nggak tahu, tadi Gloria yang ngajak pas papasan di parkiran," sahutnya dan membuat wajahku bertambah masam.
Sebenarnya aku nggak peduli siapa yang diajak Gloria, tapi kali ini ada Genta yang sedang bersama mereka. Apa itu nggak dua kali menyebalkan?
"Sudah jangan dipikirin, ayo kita ke atas," ajak Ranu sambil menepuk-nepuk kepalaku seolah aku adalah binatang peliharaannya.
"Kita agak jauh aja ya dari mereka," ujar Manda sambil menarik tanganku dan duduk tepat di depan bartender. Manda dan Ranu mengerti akan kekesalanku. Mereka berusaha menghiburku agar aku nggak merasa kesal lagi.
"Iya sih, Gloria keterlaluan banget. Ini, kan acara kita sesama karyawan baru. Ngapain dia ngajak para senior. Gue yakin, dia pasti mau cari perhatian Mas Genta," kata Manda setengah berbisik.
"Apa minuman istimewa malam ini?" tanyaku pada bartender yang sedang meracik minuman.
"Untuk nona-nona ini, sepertinya koktail cocok untuk menemani malam sambil berbincang santai," sahutnya sambil tersenyum.
"Bloody mary," pintaku menyebutkan salah satu koktail dengan campuran vodka, jus tomat, dan beberapa bahan tambahan lainnya. Sedangkan Manda memesan mojito.
Ranu sepertinya sudah bergabung bersama kelompok Genta dan kawan-kawannya karena suara tawanya terdengar begitu jelas dari sini. Dasar nggak setia kawan, mudah banget berkhianat hanya karena ditawari hal menyenangkan.
Aku sudah meneguk bloody mary keduaku saat Manda mengatakan jika dia ingin ke toilet. Aku memainkan gelasku sambil menatap ke sekitar.
"Kita harus pulang sekarang, Jyan," ucap seseorang yang berdiri di belakangku. Ranu? Masa sih, masih awal loh, dia sudah ngajak pulang aja. Nggak seru banget.
"Pulang aja sendiri," ujarku ketus tanpa berniat menoleh ke belakang. Aku meneguk minumanku kembali dan saat cairan alkohol yang beraroma khas buah itu masuk ke tenggorokanku, perasaanku begitu nyaman dan tenang. Aku butuh satu gelas lagi agar pikiranku bisa melayang-layang dan melupakan segalanya.
"Cukup, Jyan!" Tangannya menahan gelas yang sudah berada di mulutku. Aku memicing, melihat sosok yang kali ini berhadapan langsung denganku. Kayaknya bukan Ranu deh. Ranu nggak punya bibir seseksi lelaki ini dan juga nggak mungkin memiliki rambut-rambut halus menggoda iman yang tumbuh di area rahang hingga ke dagunya. Buat gemes aja.
"Ayo kita pulang!" Dia menarik tanganku dan segera kuelak. Enak aja, lagi senang gini diajak pulang.
"Nggak mau," ucapku dengan mata memicing karena nggak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berada di hadapanku saat ini. Kepalaku terasa berat dan mataku sangat mengantuk.
Aku nggak tahu bagaimana lelaki ini bisa memaksa dan membawaku masuk ke mobilnya. Harusnya aku waspada saat ada lelaki asing yang membawaku masuk ke mobil, tapi aku malah berpikir sebaliknya. Entah bagaimana aku merasakan begitu dekat dengannya, aku nggak rela melepas rangkulan tangannya di pinggangku.
"Kami mabuk, Jyan!" ucapku seperti sedang memarahiku. Aku bergumam nggak jelas. Beberapa detik, kesadaran seperti menghampiriku. Aku terdiam sejenak sambil menatap dengan saksama siapa lelaki ini, tapi rasa kantukku lebih kuat. Aku kemudian menyandarkan kepalaku di jok mobil. Mobilnya beraroma cendana, mirip aroma seseorang yang aku kenal. Rasanya begitu menenangkan. Aku ingin tidur lebih lama lagi di sini.
"Alamat rumahmu di mana?" Samar aku masih bisa mendengar pertanyaannya. Aku menjawab dan kembali memejamkan mataku.
"Di mana, Jyan?" ulangnya lagi.
"Nggak ingat! Aku lupa rumahmu di mana," sahutku asal karena terlalu mengantuk.
"Ini terakhir kalinya. Kamu nggak boleh pulang dalam keadaan mabuk lagi. Ini sangat membahayakan kamu." Aku membuka mataku sedikit. Siapa sih dia, kok berani banget ngatur-ngatur hidupku.
"Kamu di sini aja sementara sampai benar-benar sadar." Tiba-tiba rasanya tubuhku melayang dan aku merasa sangat nyaman.
***
Tidurku terasa sangat nyenyak malam ini. Aku nggak pernah tidur senyaman ini sebelumnya. Biasanya insomnia menjadi teman tiap malamku.
Aku menggeliatkan tubuh dengan sangat nyaman dan berguling dari sudut tempat tidur ke sudut lainnya. Mataku terbuka pelan dan sesaat aku seperti orang linglung.
Bukan kamarku, bukan kasurku, bahkan pakaian yang menempel di tubuhku ini juga bukan pakaianku. Tidak! Jangan bilang jika saat ini aku sedang terlibat one night stand dengan seorang lelaki asing.
Ah! Harusnya aku ingat jika tubuhku nggak pernah tahan dengan minuman beralkohol. Tadi aku pasti mabuk karena aku nggak mengingat apa pun yang terjadi.
Demi Papa yang sedang menunggu anak gadisnya pulang, sebenarnya sedang berada di mana aku saat ini?
"Apa kamu mau aku buatkan minuman hangat?" Seseorang muncul dari balik pintu.
Ini pasti hanya mimpi. Bagaimana mungkin aku memimpikan Genta dengan sosok yang terlalu nyata seperti ini. Aku harus tidur lagi agar mimpi itu menghilang.
Semua harapanku pupus saat sosok mirip Genta itu mendekat dan menyentuh wajahku dengan lembut. Dia...dia memang Genta! (*)