Aku terduduk di pelataran bandara sambil menertawakan diriku sendiri. Apa sebenarnya yang sedang kulakukan? Mau berangkat ke Surabaya menyusul Genta? Tiket pesawat aja nggak dapat. Penerbangan terakhir Jakarta menuju Surabaya jam sembilan malam. Dan aku baru sibuk mencari tiket saat jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Tentu saja yang aku lakukan seperti sedang bertaruh. Yang terjadi akhirnya aku hanya terduduk tanpa tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kenapa aku bertindak bodoh dengan melakukan ini semua? Entahlah, ini hanya salah satu caraku untuk menenangkan diri karena seharian Genta nggak memberikan kabar sama sekali. Aku begitu cemas. Apalagi setelah terlibat pembicaraan dengan Arga tadi. Apa maksudnya memberikan penawaran seperti itu? Apa dia berharap aku memilihnya k

