“Serius, Sayang? kamu kangen sama aku juga?” Dava hanya ingin memastikan dengan apa yang didengarnya. “Iya, Om. Aku juga kangen sama Om.” Dava mengulum senyum sambil menyentuh dadanya. Mendengar kalau Siska juga merindukannya, membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Apa yang dirinya rasakan saat ini, sangat berbeda dengan apa yang dirasakannya sama Dina dulu. Benarkah ini cinta? Setelah sekian lama tak bisa tersentuh karena hatinya beku, mungkinkah sekarang hatinya mulai mencair karena ulah gadis kecilnya yang bahkan di awal pertemuannya menegaskan padanya kalau gadis itu sama sekali tak tertarik padanya. “Sis, seandainya kamu ada disini, aku pasti sudah melahapmu sampai habis.” “Enak saja, memangnya aku makanan.” “Kamu memang santapan yang sangat lezat, Sis. Tapi sayang,

