Siska memilih untuk menatap keluar jendela, daripada menatap wajah tampan suaminya yang sejak tadi terus tersenyum itu. Senyuman itu seperti senyuman mengejek untuknya, karena dirinya yang telah kalah taruhan dengan suaminya itu. “Kamu mau kemana? Aku akan mengantar kemanapun kamu pergi. Jarang-jarang aku punya waktu senggang kayak gini.” “Antar aku ke rumah Dita aja, Om. Biar nanti aku ke kampusnya barengan sama Dita.” “Gak, kita mau kencan loh, Sayang, bukan mau main ke rumah teman kamu.” “Kalau kamu gak tau mau kemana, kalau gitu aku yang akan nentuin tempatnya.” “Serah Om dah!” kesal Siska lalu kembali menatap keluar jendela dengan perasaan marah karena dirinya sekali lagi tak bisa menolak permintaan suaminya itu. “Karena waktu kita gak banyak, kita gak usah jauh-jauh perginya. T

