Dengan hati hancur, Siska melangkah keluar dari ruangan itu. Kedua sudut matanya pun sudah mengalirkan cairan bening. Ia tak menyangka akan mengalami semua ini. Siska berlari menuju tangga, ia tak ingin melihat suaminya yang tengah bermesraan dengan wanita lain. Hatinya tak cukup kuat untuk menyaksikan semua itu. Siska menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menangis sekencang-kencangnya untuk meluapkan amarahnya. Hingga satu jam berlalu, karena rasa kantuk yang menderanya, kedua mata itu pun mulai lelah menangis dan akhirnya terlelap dengan sisa air mata di kedua ujung matanya. Hingga keesokan harinya, Siska terbangun saat mendengar suara alarm dari ponselnya yang semalam dirinya letakkan di atas nangkas. Meraih benda pipih itu, lalu mematikan alarm. “Jam berapa sekarang?” Siska me

