Siska menyeka kedua sudut matanya, pipinya kini sudah basah dengan air mata yang sejak tadi terus mengalir seakan tak ingin berhenti. Menggambarkan betapa sakitnya hati Siska saat ini. “Maafin aku, Om. Aku sudah berusaha untuk tetap kuat, tapi tetap saja aku tak bisa. Rasa sakit ini sudah tak bisa aku tahan lagi.” “Om sudah berani membawa wanita itu pulang ke rumah. Om juga mengizinkan dia untuk melakukan apapun di rumah kita, Om. Rumah kita.” “Dengan semua bukti nyata itu, apa aku masih bisa percaya sama Om? Apa Om masih berharap aku bisa percaya sama Om?” Siska tersenyum getir. “Hanya orang bodoh Om yang hanya akan diam saja saat melihat suaminya selingkuh dengan terang-terangan di depannya. Mungkin selama ini aku memang bodoh, karena aku pikir mudah menjalani semua ini.” “Tapi, set

