Dava mengusap lembut puncak kepala Siska. Entah apa yang sudah dirinya lakukan tadi. Ia benar-benar gila, sampai nekat melakukan semua itu. Bagaimana bisa dirinya berniat untuk memperkosa istrinya sendiri. Seandainya dirinya tak bisa mengendalikan pikirannya, mungkin saat ini dirinya sudah memaksakan kehendaknya kepada istrinya itu. Tapi, Dava tak sampai hati melakukan itu. Ia sayang sama Siska, ia tak ingin menyakiti istrinya. Dava meraup wajahnya kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Siska. Gairah sudah menguasai tubuhnya. Bahkan bagian bawah tubuhnya sejak tadi terus menyiksanya. Dengan posisi miring, kepala ditumpu di telapak tangan kirinya, ditatapnya wajah tenang sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Padahal tadi dirinya berhasil membuat istrinya itu mendesah nikmat

