Dering ponsel Ellina membuatnya tersadar dari keheningan yang beberapa saat lalu menguasai keadaan mereka. Nama pemanggil tertera di layar ponsel menunjukkan nama Zia di sana. Segera panggilan itu diangkat olehnya.
"Nona sekarang ada di mana? DrBagaimana keadaan Nona?" Suara panik dari Zia yang terdengar pertama kali oleh Ellina.
"Aku di parkiran mobil berlindung. Kau jangan khawatir, aku baik-baik saja. Hanya... Aku masih belum bisa pergi karena sepertinya orang itu masih mengawasi ku dan siap menembak kapanpun jika aku keluar dari tempat persembunyian ini." Jelasnya.
"Aku akan ke sa—"
"Tidak! Kau jangan ke sini Zia, itu berbahaya! Orang itu mengawasi dari atas gedung dan siapapun bisa jadi korbannya, jadi lebih baik tetaplah di situ. Polisi pasti akan segera datang." Cegah Ellina. Pikir saja, dia itu tak mungkin membahayakan nyawa gadis itu. Walaupun kemampuan Zia tidak di ragukan lagi, tetap saja dia tak bisa menangkis tembakan dengan tangannya, kan?
Zia terdiam beberapa saat, "Dari atas gedung? Baiklah Nona, aku tidak akan ke sana dan menangkap orang itu! Nona jangan pernah keluar dari tempat persembunyian."
Tut Tut
"Halo? Tidak Ziaaa! Kau jangan pergi! Halo— akh, sial! Gadis keras kepala! " Belum sempat Ellina berucap, Zia telah menutup panggilan telpon.
"Ada apa?" Willy yang sejak tadi menyimak memutuskan untuk bertanya. Dia cukup penasaran.
"Zia pergi untuk menangkap penembak itu. Dia memang keras kepala dan tidak patuh perintahku!" Eluhnya nampak marah, tapi di dalam hatinya dia begitu mengkhawatirkan Zia.
Willy mendecih kemudian tertawa singkat, "Tapi ku lihat dia lumayan juga. Dia benar-benar melindungi mu sebagai seorang pengawal."
"Diam kau! Bantu aku memikirkan cara untuk keluar dari sini, aku harus menyusul Zia. Aku tak bisa membiarkan dia mati duluan." Ellina tidak tinggal diam segera mencari cara agar bisa pergi dari sana tanpa di ketahui penembak itu. Tentu saja dengan sangat berhati-hati.
Di sisi lain Zia hampir tiba, hanya tersisa 1 lantai menuju rooftop. Namun, ketika dia sampai di pintu yang terhubung ke rooftop, pintu itu terkunci. Zia tak banyak berpikir segera mendobrak dan menendang pintu. Segala usaha dia coba, karena semakin banyak waktu yang dia tunda, maka dia akan kehilangan jejak musuhnya.
Seorang pria mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar pintu di dobrak dari luar. Pria itu mengumpat sesaat sebelum akhirnya dia segera membereskan peralatan senjatanya masuk ke tempat musik cello.
"Sial! Aku ketahuan. Dami, tetap awasi buruan mu jangan sampai lepas!" Katanya lewat Earpiece.
Setelah semuanya beres, dia berlari ke arah sisi kiri gedung. Sesaat pria itu memperhatikan situasi di bawah sana, taman fakultas yang ternyata sepi. Dia mengeluarkan tali dan mengikatkan satu sisinya ke salah satu tempat yang dikiranya kuat kemudian membuang satu sisinya ke bawah gedung. Kemudian pria itu melarikan diri dengan tali itu secepat yang dia bisa.
Dobrakan sekuat tenaga itu akhirnya pintu berhasil terbuka. Zia segera masuk dan melihat keadaan sekitar dengan waspada. Tetapi, dia tak menemukan seorang pun di sana. Di tengah pencarian si penembak, matanya menangkap sebuah tali yang mencurigakan. Zia menghampiri sisi gedung lalu menggeram marah saat tau orang itu telah lebih dulu melarikan diri.
"Siapa pria itu?" Suara Willy sembari menunjuk seorang pria yang memakai jaket hitam dan menutup kepalanya dengan kupluk. Ellina ikut melihat ke arah tunjukan tangan Willy dengan mata setengah menyipit, "Aneh kenapa aku merasa pria itu sedikit misterius. Dia juga membawa alat musik cello, apa punggungnya tidak sakit membawa alat berat itu?"
Ellina melototkan mata saat mengingat sosok pria yang tadi sempat di tabraknya ketika ingin ke toilet. "Will, apa kau ingat tak ada laki-laki yang ikut kelas alat musik cello?"
Willy mengernyit pelan kemudian membalas, "Ah, iya kau benar. Kenapa aku bisa lupa. Daftar namanya hanya perempuan dan itupun sekitar 10 orang saja yang ikut." Kata Willy lalu diam dan mencerna. Ada yang tidak beres.
Kini gantian Willy yang melotot, "lantas siapa laki-laki yang barusan lewat?"
"Dia penyusup! Dan jika dugaan ku benar dialah penembak itu!" Yakin Ellina. Di dalam tatapan matanya yang tenang terselubung arti yang lain.
"Aku harus mengejarnya!"
Willy sadar dan mencengkram erat tangan Ellina, "Jangan bertindak gegabah, bodoh! Kau bisa mati ditangannya!" Cegahnya memperingati.
"Aku harus tau siapa yang menyuruh pria itu untuk membunuhku. Jika kau tak mau ikut, diam saja di sini!" Menyentak tangan Willy lalu berlari kencang mengejar pria misterius itu tanpa menghiraukan lagi peringatan Willy.
"Astaga Ellina, woi! Wah ... parah nih, anak!" Willy tak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis itu. Dia sama saja mengejar kematiannya!
Pria yang tak lain adalah Jordan itu terus bergerak menjauh keluar dari kampus tersebut. Namun dia tiba-tiba menghentikan langkah, tanpa menoleh kebelakang. Jordan merasa dia sedang diikuti.
"Gadis itu sedang mengikuti mu." Kata seseorang di Earpiece Jordan, tak lain adalah Damian.
Senyum bringas Jordan pun muncul. Dia kembali melanjutkan langkahnya cepat, menghentikan sebuah taksi dan menuju pusat kota. Ellina, gadis yang sedang mengikuti pria itu juga tak ketinggalan tetap mengikutinya kemanapun hingga kini sampai di pusat kota.
Jordan memasuki sebuah gang yang cukup sempit dan sepi.
"Kemana pria itu?" Ellina yang sejak tadi mengikuti Jordan tiba-tiba kehilangan jejaknya. Dia yakin sekali pria itu berbelok ke arah kiri, tapi sekarang Ellina tidak melihat sosok pria itu lagi.
"Apa kau tersesat?"
Ellina berbalik badan cepat saat mendengar suara itu. Seketika tubuh Ellina kaku setalah melihat sosok pria yang sangat dia yakini adalah pria misterius itu. Sosok itu sedang berdiri di hadapannya dengan jarak yang dekat. Sekitar 1 meter darinya. Pria itu menunjukan senyuman yang Ellina tidak tau artinya , dan tatapan intens padanya membuat gadis itu meremang.
Tetapi, bukan hal itu yang membuatnya sangat-sangat terkejut dan tak bisa bergerak saat ini. Kalian pasti akan sama shock nya ketika mengetahui orang misterius yang mengincar nyawanya adalah orang yang pernah dia temui di tempo hari dan membuatnya jatuh hati pada pesona pria itu. Bahkan nama pria itu melekat kuat dalam ingatannya "Damian Gamaniel" sosok pria yang menjadi harapan besar Ellina yang memaksa takdir harus mempertemukan mereka kembali di suatu hari nanti. Memang benar harapannya kini terwujud, tapi ... Bukan pertemuan ini yang dia inginkan. Bukan!
"Kau mencari siapa? Mencariku?" Damian terkekeh pelan maju selangkah demi selangkah mendekati Ellina, "Ku akui kau cukup berani mengikuti seekor singa sampai ke sarangnya. Entah kau bodoh atau polos, kau tau nyawamu bisa lenyap tapi, kau tidak memperdulikan nya,"
Kini Damian tepat dihadapan Ellina, jarak mereka tipis mungkin hanya terhalang pakaian, "Sayangnya kau tak bisa lagi keluar dari sarang singa itu karena kau— adalah buruanku!" Bisiknya tepat di telinga gadis itu.
Ellina mengepalkan tangan, napasnya kini mulai tak beraturan menghirup udara di sekitarnya. Keringat dingin menetes di pelipis gadis itu dan mengalir ke hidung bengir nya.
Sett
Kini sebuah pisau lipat di keluarkan Ellina dan ditodongkan ke perut pria itu, mengambil kesempatan agar segera mundur selangkah memberi jarak diantara mereka. Perlahan-lahan Ellina mulai menekan rasa takutnya sendiri dan memberanikan diri untuk menatap tepat ke mata tajam Damian. Dapat dengan jelas dilihatnya senyum seringai pria itu.
"Apa kau mengingatku? Kita pernah bertemu di toko buku beberapa Minggu lalu, kau pasti ingat?" Tanya Ellina dengan tatapan dalam.
Damian terdiam cukup lama, "Ingat atau tidak, aku tidak peduli. Kurasa takdir hanya mempermudahkan bertemu buruanku benar, kan?"
"Jangan mendekat!" Jerit Ellina ketika Damian mendekat.
Damian malah mempercepat langkah dan kini menangkap tangan Ellina yang memegang pisau. Mengarahkan pisau tersebut ke perutnya. "Aku tidak yakin kau bisa gunakan pisau ini dengan tangan cantikmu. Lakukan kalau kau bisa, ayo!"
"Kenapa semua orang meragukanku? Aku bukan gadis lemah seperti yang kau duga!"
Blass
Pisau itu menembus kulit Damian. Ellina benar-benar membuktikan ucapannya jika dia bukanlah gadis lemah. Ellina menjatuhkan pisau lalu mundur dengan pandangan tidak percaya. Dia melihat tangannya yang berlumuran darah. Apa yang sudah dia perbuat? Kenapa dia melakukannya? Tangannya langsung menutup bibirnya yang bergetar hebat. Dia melihat Damian sekilas kemudian berbalik pergi meski lututnya sangat lemas dia memaksakan untuk segara melarikan diri.
Ellina kini menemukan jalan raya yang sangat ramai di lalui orang-orang. Lalu dia beristirahat sejenak karena lelah, sekiranya di sini dia aman. Ellina duduk di pinggiran jalan dengan wajah yang di tenggelamkan ke balik lutut. Dia berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Ellina!"
"Nona!"
Beberapa sahutan orang membuat gadis itu menengadahkan kepalanya melihat orang-orang yang berlari ke arahnya. Mereka Zaro, Zia dan para pengawal Daddy. Ellina merasakan pandangannya buram dan kepalanya pusing tiba-tiba. Kemudian dia tak tahu lagi, karena tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.
"ELLINA!"
***
"Eugh ... "
"Ellina, kamu sudah sadar Nak?"
Perlahan-lahan mata gadis itu terbuka, mengerjapkan pandangan beberapa kali dan dia akhirnya bisa melihat jelas sosok Mama dan Daddy nya ada di sampingnya.
"Mama? Daddy?" Panggilnya. Ellina masih berusaha mengembalikkan ingatannya di tengah-tengah kedua orang tuanya yang nampak begitu khawatir padanya. Bahkan Kana memeluknya dengan erat saat ini.
"Ada apa? Mama dan Daddy ke sini untuk membangunkan Ell kuliah ya? Haha... Ellina bangun Sekarang, kok."
Sontak Kana dan Zaro saling berpandangan. Mereka berkomunikasi lewat tatapan. Tentu saja bingung karena putri mereka yang baru saja terbangun dan lupa tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Mama, Daddy, ada apa? Ellina ada salah, ya?" Ellina memperhatikan orang tuanya yang masih terlihat bingung. "Maaf kalau Ellina ada salah sama kalian. Ell—"
"Ti_ tidak Sayang. Ellina tidak ada salah, Mama dan Daddy datang hanya untuk lihat putri kesayangannya kami." Kekeh Kana tersenyum pada Ellina lalu ke Zaro.
"Iya, Sayang. Hari ini kamu tidak kuliah. Daddy sudah membuat surat izin hari ini dan beberapa hari ke depan. Kamu istrahat di rumah," kata Zaro mengelus lembut surai Ellina.
Gadis itu terdiam beberapa saat memandangi orang tuanya, kemudian Ellina tersenyum cerah dan mengangguk semangat. "Serius? Wah, akhirnya Ellina bisa tidur panjang beberapa hari ke depan. Terima kasih Daddy, Ellina sayang kalian." Ucapnya dengan bahagia mencium pipi Kana dan Zaro bergantin.
"Kalau begitu, Ell mau lanjut tidur lagi. Boleh kan?"
"Boleh, Sayang. Istrahat yang banyak, tapi jangan lupa untuk sarapan yah. Nanti Bibi saja antar ke kamar. Kalau begitu, Mama dan Daddy keluar ya," Kana dan Zaro berdiri.
"Oke Ma! Bye Dad!" Melambai riang pada orang tuanya. "Aku sayang kalian!" Membentuk love dengan tangan di atas kepala.
Zaro tersenyum sekali lagi mengelus pipi anaknya lalu membawa Kana keluar dari kamar. Di luar kamar Kana menatap Zaro dengan tatapan sendu.
"Tenanglah, Ellina anak yang kuat, kamu tau itu." Sembari memeluk istrinya untuk menenangkannya.
Zaro dan Kana tau Ellina sebenarnya Ingat semua yang terjadi pada dirinya kemarin. Tapi, putrinya berpura-pura lupa agar mereka tidak khawatir dengan keadaannya. Mereka orang tuanya, dan paham betul bagaimana anaknya itu.
Di dalam kamar, Ellina menghembuskan napas panjang. Menengadahkan wajahnya ke atas langit-langit kamarnya. Hanya dengan cara ini air matanya tidak akan jatuh ke pipi. Dia benci menangis. Ellina tidak ingin memperlihatkan air matanya pada orang-orang yang dia sayangi, tidak akan!
4 hari berlalu Ellina masih setia berada di kamar. Menghabiskan waktu lebih banyak membaca buku, tidur, atau pergi ke taman rumah. Melihat bunga-bunga bermekaran di pagi hari membuat suasana hatinya lebih tenang dan damai. Meski ingatan-ingatan kejadian itu terekam jelas di ingatannya, Ellina hanya membuat pengalihan sementara agar bisa lupa. Sebentar saja, biarkan dia tenang.
"Nona Ell!" Suara Zia datang dengan sebuah es krim di tangannya. "Ini pesanan Nona, es krim rasa vanila. Silahkan di coba."
Es krim itu di sambut senang oleh Ellina, "Terima kasih!" Dia beralih memakan es krimnya dengan penuh hikmat sembari menikmati suasana sore hari di taman. Keduanya terdiam cukup lama, membiarkan alam mengisi keterdiaman itu. Angin menari-nari mengelilingi mereka. Suara burung-burung menyahut beterbangan hendak pulang ke sarang, dan matahari yang hendak tenggelam bersama sinarnya di ufuk barat.
"Aku sudah memutuskan besok aku akan mulai kuliah lagi."
Zia menatap Ellina lantas menggeleng cepat. Tidak setuju. "Lebih baik Nona di rumah. Tuan Zaro sudah membuat surat izin yang panjang untuk Nona, jadi tidak perlu terburu-buru. Nona Ell bisa menikmati waktu tidur lebih lama atau membaca nov—"
"Daddy terlalu baik. Tapi, aku ingin pergi kuliah." Memotong ucapan pengawalnya dengan cepat.
"Nona..."
"Titik tanpa koma! Jangan mencoba membujukku Zia. Percuma saja." Ellina menutup telinga dengan Aerphone nya. Tidak membiarkan Zia untuk bicara lagi.
Zia terdiam memperhatikan Ellina yang sedang mengikuti nyanyian lagu yang di putarnya dengan senyuman indah. Di dalam hatinya, Zia berharap semoga saja senyuman indah itu tidak pernah hilang dari Ellina. "Aku akan berusaha lebih kuat lagi untuk melindungi Nona. Meski dengan nyawaku sebagai taruhannya."
TBC