Kekasih?

2152 Words
Seorang pria terlihat sedang membalut perban ke perutnya yang terdapat luka tusukan yang cukup dalam, hingga masih terlihat basah oleh darah ketika perban itu berhasil terlilit sempurna. Tidak ada raut wajah kesakitan di sana layaknya luka itu bukan apa-apa baginya hanya hal kecil. Dia malah tersenyum mengingat kejadian ketika mendapatkan luka dari seorang gadis yang tidak dia sangka berani melakukannya. Pintu kamar terbuka, seorang pria lainnya masuk dan langsung melihat pria yang terluka. Dia bergegas mendekati. "Biar kulihat lukamu," sebelum Jordan dapat menjangkau, Damian lebih dulu bangkit dari tempat tidur. "Tidak perlu, hanya luka kecil." Damian mengambil posisi duduk di tepi jendela yang mengarah ke hutan lebat. Dia tidak menatap Jordan sama sekali. "CK! Baiklah, dasar pria sok kuat!" Jordan duduk di tepi tempat tidur tanpa memutuskan pandangannya dari Damian. Keduanya lama terdiam, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Hingga salah satu di antara mereka bersuara kembali. "Ah... Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Dami." Damian akhirnya menatap Jordan, "Katakan saja." "Aku sudah berbicara dengan Ayah jika misi ini akan kulakukan seorang diri. Aku berjanji akan menyelesaikannya dalam waktu 1 Minggu dan membawa kabar baik untuk Ayah." "Bagaimana denganku? Bukankah ini misi kita berdua?" Jordan seketika terdiam. Mencoba membaca raut wajah Damian, tapi tetap tak terbaca. "Ayah sudah setuju, dan aku pikir tak perlu melibatkan mu dalam hal ini, Damian." "Haha, baru kali ini kau mengambil keputusan tanpa persetujuanku," Damian terkekeh pelan dengan senyum smirk, "Apa ambisi mu untuk menjadi sosok pemimpin begitu besar sekarang? Tidak heran kau ingin mengambil misi besar seorang diri dengan melenyapkan ku." Mata Jordan melebar karena ucapan Damian, dia menggeleng untuk menyangkal, "Aku tidak bermaksud melenyapkan mu Damian, dan tidak sedikitpun terbesit ambisi besar untuk menjadi pemimpin organisasi. Aku hanya ..." "Hanya Apa?" "Tidak ingin kau dalam bahaya." Garis alis Damian hampir menyatu ketika dia mengernyit. "Maksudmu kau takut aku mati?" Jordan bangkit berdiri. Langkah demi langkah membawanya mendekat pada Damian. Kini dia di hadapannya pria itu, "Target kita kali ini bukan orang biasa. Ayah gadis itu adalah seorang pemimpin organisasi Mafia terbesar di negara A, dia orang yang berkuasa dan paling berpengaruh di dunia. Hingga sampai sekarang, belum pernah ada yang berhasil menggulingkan kekuasaannya." "Dan... dengan kekuasaan yang dia miliki, kita bisa lebih dulu disingkirkan sebelum sempat menyelesaikan misi ini. Apalagi setelah kejadian tadi, tentu keamanan gadis itu akan semakin ketat dan membuat pekerjaan kita lebih sulit. Jangankan membunuhnya, untuk melukai seujung kuku saja mungkin mustahil. Jadi biarkanlah aku yang menyelesaikan misi ini, Damian" Jordan menghela napas sejenak lalu melanjutkan, "Jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah agar lukamu segera sembuh." Menepuk-nepuk pelan pundak Damian lalu berbalik hendak keluar dari kamar. Tatapi karena perkataan Damian, Jordan kembali membalikkan tubuhnya. Mata mereka saling menatap satu sama lain. "Justru karena ini berbahaya aku akan membantumu menyelesaikan misi ini. Aku tetap ikut, itu keputusanku!" *** Pagi itu Ellina sudah siap lebih awal bahkan sebelum Zia datang ke kamarnya untuk membangunkannya seperti kebiasaannya. Hal itu membuat sang pengawal terheran-heran dengan perilaku Ellina pagi itu, dia bahkan terus menatap Nona nya sebegitu intens dari sejak sarapan sampai mereka berdua berada di mobil. "Apa lehermu tidak sakit terus melihatku dari kaca spion itu, Zia? Apa ada yang aneh dengan penampilanku hari ini?" Tanya Ellina sembari memperhatikan pakaian yang dia kenakan. Sampai mengambil cermin untuk mengecek riasannya, barangkali ada yang aneh atau riasan wajahnya terlalu menor. Tidak ada. Ellina merasa dirinya seperti biasanya. "Ah ... Hahaha— tidak ada. Nona selalu cantik seperti biasanya. Hanya saja— sedikit aneh." Jawab Zia mulai menjalankan mobil menuju kampus. "Aneh? Aneh kenapa?" "Pagi ini Nona mulai mandiri ya? Tidak seperti biasanya, aku harus turun tangan untuk melakukan ini dan itu. Seperti membangunkan Nona, menyuruh bergegas, jangan meninggalkan sarapan, dan banyak lagi. Hari ini pekerjaanku terasa ringan sekali," jujur Zia sesekali melihat reaksi Ellina dari kaca. Ellina terkekeh mendengar komentar Zia, "Ya bisa dibilang begitu. Aku sudah berjanji untuk berubah mulai hari ini. Tidak enak merepotkan mu terus, Zia." "Kau pasti ingin berterima kasih padaku kan? Sudahlah, tidak perlu. Fokus saja menyetir kita hampir terlambat ke kampus." Kata Ellina lagi membuat Zia mengurungkan niat untuk bicara. Sesampainya di kampus. Mereka keluar bersamaan dari mobil dan berjalan menuju ke gedung fakultas. Hampir tiba di kelas, tapi langkah Zia tiba-tiba terhenti kala itu membuat Ellina ikut berhenti. Zia mendapat telfon dari seseorang. "Nona bisa ke kelas lebih dulu, aku— ada sedikit urusan, tidak apa kan?" Kata Zia. Ellina mengangguk dan tersenyum simpul, "Oke." Menyetujuinya dan langsung melanjutkan langkahnya menuju kelas. Ketika Ellina cukup jauh, Zia segera mengangkat panggilan dari Zaro. "Halo, Tuan?" "Aku sudah menempatkan beberapa pengawal di kampus untuk menjaga Ellina. Mereka menyamar jadi tidak perlu khawatir Ellina tahu hal ini. Kau hanya perlu menjaganya dari dekat. Ingat, selalu awasi jangan sampai putriku terluka sedikitpun, Zia!"" "Baik Tuan Zaro!" Panggilan telpon berakhir, Zia mengamati keadaan sekitar dan mendapati orang-orang suruhan Zaro yang tentu saja kemampuan mereka terjamin ada di beberapa tempat di sekitar mereka. Entah berapa banyak pengawal yang Zaro perintahkan langsung untuk menjaga Ellina, mungkin sangat banyak. Ini bukan sesuatu yang berlebihan menurutnya, mereka memang harus lebih ketat jangan sampai para musuh berhasil menyelinap masuk dan mencelakai Ellina. Zaro tentu tak ingin mengambil resiko lebih besar dengan membiarkan putrinya bebas tanpa pengawasan. Lamunan Zia buyar ketika sosok Willy melewatinya. Pandangan mereka sama-sama bertemu lama, Zia menatapnya tajam. Sampai saat ini Willy masih menjadi orang yang dicurigai adalah musuh yang juga tengah menyamar. Makanya Zia sangat protektif terhadap Ellina jika berdekatan dengan pria itu. 2 hari, 5 hari, 1 Minggu telah berlalu dan selama ini tak ada yang terjadi. Ellina kuliah seperti biasanya tanpa ada gangguan ataupun bahaya. Tapi, ada yang aneh. Beberapa hari ini Ellina bukan hanya berubah menjadi gadis mandiri, tapi juga menjadi tidak fokus dan seperti mencari-cari sesuatu? Zia selalu mengamati Ellina, hingga mulai bingung sebenarnya ada apa dengan Nonanya itu? Contohnya ketika mereka ke kantin, di kelas, atau hendak pulang seperti sekarang, mata Ellina tak henti-hentinya mengamati sekitar. "Sebenarnya Nona mencari apa atau siapa? Jika ada sesuatu yang ingin Nona katakan, tolong katakan saja langsung padaku, jangan menyembunyikannya." Tak tahan lagi akhirnya Zia mulai menyuarakan apa yang beberapa hari ini ingin dia katakan. Saat ini mereka berdua di mobil karena baru saja pulang kuliah. Mereka masih di parkiran kampus karena Zia belum menjalankan mobil. Ellina diam tak menjawab, meski dia dengar apa yang Zia katakan. Dia berpura-pura tidak mendengarnya dan memandangi luar jendela. "Ellina!" Zia menyentak bahu gadis itu hingga kini mereka saling berhadapan. "Tolong jangan buat aku khawatir Nona! Kau bertingkah sangat aneh akhir-akhir ini, tolong jelaskan ada apa? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Mohon Zia. Ellina menundukkan wajahnya, "kau mungkin tidak akan percaya dengan apa yang akan ku katakan, Zia." Tentu saja Zia bertambah penasaran dan cemas melihat ekspresi Ellina. "Sebenarnya aku sudah tau siapa musuh yang mencoba membunuhku di hari kejadian itu. Aku melihat wajahnya langsung." Zia melepas genggaman tangannya di bahu Ellina, kini menutup mulut karena shock. Hanya sebentar karena Zia langsung bertanya. "Hal sebesar ini kau sembunyikan Ellina? Ken— kenapa kau tidak jelaskan pada Tuan Zaro, atau jangankan Tuan, kenapa tidak mengatakannya padaku saja Ell?" Di tengah-tengah rasa terkejutnya dia masih tak percaya kenapa Ellina diam saja selama ini. "Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Ellina. Di situ Zia sadar, dirinya terlalu menyudutkan Ellina, menyalahkannya karena tak jujur. Di sisi lain dia tak berpikir bagaimana selama ini Ellina ketakutan di hantui bayang-bayang pembunuh setelah melihat langsung wajah orang itu. Bagaimana setiap detik, jam, Ellina habiskan waktu dengan perasaan was-was. Jadi inilah alasan Ellina selalu tak fokus dan selalu mengamati sekitarnya. "Maaf, seharusnya aku lebih melindungi mu Nona. Jika saja aku tidak lalai, jika saja aku lebih cepat, kau tidak akan bertemu dengan pembunuh itu. Maafkan aku." Sesak Zia menunduk. Ellina menatap Zia dan menggenggam tangannya, "Kau tidak salah, Zia. Dan yang harus kau tau, aku tidak menyesal bertemu dengan sosok pembunuh ku," Zia mengangkat pandangannya menunggu Ellina melanjutkan ucapannya, "Karena setelah pertemuan itu, kini aku tau siapa malaikat maut ku yang akan membunuhku kapanpun itu." "Nona apa yang kau bicarakan. Kau tidak akan Mati, aku! Aku bahkan siap menukarkan nyawaku demi mu Nona. Jangan katakan hal bodoh itu, kumohon..." Pintanya tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. "Haha ... aku tidak bermaksud menakut-nakuti mu, Zia. Hei, kita tidak tau kapan kita akan pergi dan siapa yang lebih dulu. Kau pikir aku bisa mati dengan mudah? Aku Ellina Noriusta Xander, putri semata wayang Tuan Zaro dan Nyonya Kana. Takdirku tidak seburuk itu, Ziaaa!" Zia tidak mengerti lagi dengan gadis dihadapannya ini. Lihatlah di situasi seperti sekarang saja dia masih bisa tersenyum dan tertawa. Mood Ellina mudah sekali berganti dalam satu waktu. "Kau tenang saja, aku tidak akan terlihat lemah setelah mengetahui malaikat kematian ku. Aku punya rencana yang bagus, Zia. Rencana yang sudah aku susun sejak beberapa hari lalu. Kuputuskan untuk melawannya dengan caraku sendiri!" Tukasnya dengan seringai penuh arti tersembunyi. *** Hari demi hari Ellina mulai di sibukkan dengan kegiatan kampus yang semakin banyak. Beberapa hari lalu dia di tunjuk sebagai perwakilan fakultas seni musik untuk mengikuti kompetisi bermain biola di luar kota yang akan di adakan 10 hari lagi. Ellina sejak awal tidak akan menolaknya karena di antara teman-temannya dialah yang paling berbakat dan inilah yang paling dia tunggu-tunggu. Kenapa? Karena Ellina akan di asramakan di luar kota untuk latihan selama sisa waktu bersama teman-teman lain gang terpilih sebagai perwakilan alat musik lainnya. Dan alasan yang paling utama dia sesenang ini sebab bisa jauh dari Zia yang sangat over protektif padanya. Zia sudah seperti bayangannya yang selalu menempel tidak pernah lepas. Beruntungnya karena hal ini dia bisa sedikit menikmati ketenangan tanpa ada pengawasan. Me time nya di mulai dari hari ini. Dia sudah di luar kota, di salah satu rumah khusus tempat latihan musik yang juga merupakan asrama mereka. Dua hari melewati latihan cukup melelahkan, namun ketika mendengar pelatih memberi waktu seharian untuk berjalan-jalan membuat rasa lelah itu hilang seketika. Siapa yang tidak suka jalan-jalan? Ellina bahkan semua orang mungkin menyukainya kan? "Ellina, kamu ingin keluar dengan siapa? Kalau tidak ada, ikutlah bersama kami. Kami punya banyak tempat yang akan dikunjungi." Kata Selina, gadis pemain piano yang sekamar dengannya dan dua gadis lainnya. "Iya ayo ikut!" Dua gadis lainnya menyahut, Brenda dan Giz. "Tidak terima kasih, aku sudah punya agenda sendiri. Kalian pergilah." Tolak Ellina tersenyum simpul. Ketiga gadis itu tidak memaksa dan akhirnya berpamitan lebih dulu pada Ellina sebelum pergi dari kamar. Setelah mereka keluar Ellina mengeluarkan pisau lipat dari koper dan menyimpannya rapi di celana yang dia kenakan. Selanjutnya memakai topi hitam dan tas mini dan kamera yang dia gantungkan di lehernya. Beres, Ellina pun berangkat untuk jalan-jalan dengan senyuman indah mengiringi sepanjang langkahnya. Di pusat kota Ellina memotret hal-hal yang menarik perhatiannya. Tempatnya berada sangat ramai dengan orang-orang, karena itu Ellina menepi ke sebuah taman dan duduk di salah satu bangkunya. Dia terus mengarahkan kameranya dan memotret banyak hal, hingga kameranya berhenti di salah satu objek. Tiba-tiba senyum seringainya muncul. "Aku tau kau ada di sini. Rupanya kau selalu mengawasi, hm? Ckck ... Coba saja bunuh aku kalau bisa." Damian berada di sebuah gedung yang tidak jauh dari taman di pusat kota. Dia sedang mengawasi buruannya sejak tadi. Awalnya Damian telah mengunci targetnya, tapi tiba-tiba saja dia kehilangannya. Damian terus mencarinya, kini dengan sebuah teropong. Tapi, tetap saja dia tidak menemukan keberadaan gadis itu. "Aku kehilangan dia. Apa kau melihatnya?" Suara Jordan terdengar di Earpiece Damian. "Aku juga kehilangan dia." Balas Damian masih mencari-cari. "Dia tidak mungkin hilang secepat itu, aku akan turun dan mencarinya." Putus Damian. "Jangan bodoh! Dia tau wajahmu, kita bisa kehilangan dia." Jordan menolak. "Bukankah bagus, jadi aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang baik di detik-detik Kematiannya." Damian memutuskan percakapan lalu pergi untuk mencari keberadaan gadis buruannya. Plak! "Kau— kau selingkuh dariku!" Suara teriakan seorang gadis membuat sosok Damian memelankan langkah saat mendengar suara pertengkaran sepasang kekasih yang berada sebelah toko yang tutup. Suasana di sana cukup sepi hanya beberapa orang yang lalu lalang. Sosok gadis itu menampar sang pria dengan suara tangis sesegukan. Posisinya gadis itu membelakangi Damian jadi hanya dapat melihat sosok laki-laki yang sedang menunduk dalam. "Aku minta maaf, " kata pria itu penuh sesal. "Kau tau perjuanganku ke sini? Aku bahkan berbohong pada orang tuaku mengikuti kompetisi musik hanya untuk bertemu denganmu! Tapi apa? Kau malah selingkuh dengan gadis itu?!" jeritan pedih si gadis. "Kau jahat Carlie, kau jahat!" Sambil memukul-mukul d**a pacarnya. Damian hendak pergi dari sana, tapi langkahnya tertahan ketika mendengar sebuah nama di lontarkan pria itu pada si gadis. "Ellina, stop!" Gadis itu tidak berhenti memukul pacarnya hingga kesabaran pacarnya habis dia mendorong si gadis dengan kasar. "Aku bilang stop, gadis bodoh!" Tubuh Ellina terhuyung kebelakang dan hampir terjerembab ke tanah. Tapi, dia tidak merasakan sakit karena kini dia merasa sedang menubruk d**a seseorang bahkan tubuhnya di tahan agar tidak terjatuh. Wajah Ellina yang penuh air mata mendongak untuk melihat siapa pria yang menolongnya. Tapi sesaat kemudian mata sembab itu membola. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD