Mata indah itu membola mengetahui pria yang menolongnya adalah pria yang harusnya dia hindari.
"Ellina kau baik-baik saja?" Carlie mendekat dan meraih pundak Ellina untuk membantunya berdiri, tapi segera di tepis kasar oleh gadis itu. "Maaf aku kasar padamu. Aku terlalu emosi, maafkan aku Ellina." Ucap Carlie penuh sesal.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu!" Sinis Ellina dengan tatapan terluka. Dia beralih menatap Damian sejenak lalu kembali menatap Carlie. "Sebenarnya aku ingin jujur padamu kalau aku juga sudah berpacaran."
"Ap—apa?"
"Yah, dan pria ini adalah pacarku!" Ellina langsung mengalungkan lengannya ke Damian dengan mesra. Ellina menatap Damian yang memberikan tatapan tajam padanya. Namun, Ellina balas tersenyum lembut. "Kami datang bersama. Kenalkan Damian Gamaniel, dia kekasihku! kami sudah berpacaran seminggu yang lalu."
Carlie menggeleng tidak percaya, "Apa maksudmu? Kau selingkuh dariku?!"
"Terus kenapa? Bukan hanya kau yang bisa selingkuh, aku juga bisa! Mulai hari ini kita putus, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" Dengan lantang Ellina mengatakannya. "Ayo kita pergi dari sini, Damian. Aku tidak sudi melihat wajah pria b******k ini!"
Setelah mengatakannya, Ellina membawa Damian mengikutinya pergi dari hadapan Carlie. Awalnya Damian terus mengikuti gadis itu, namun ketika melewati sebuah gang sempit, Ellina di tarik Damian masuk ke sana. Punggung Ellina membentur dinding cukup kasar tak hanya itu pergerakan gadis itu terbatas karena kedua tangan Damian telah mengukungnya.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kekasih? Hah— kau bercanda?" Tanyanya dengan senyum smirk yang khas.
Tak ada jawaban dari Ellina, dia hanya menggigit bibir bawahnya dan tak berani menatap mata tajam Damian.
"Tatap mataku ketika aku sedang bicara!" Geramnya menekan dagu Ellina dan membawa naik agar menatapnya. Damian sedikit tenggelam dalam manik mata blue milik gadis itu untuk beberapa detik, mata yang mengingatkan nya pada seseorang di masa lalu. Namun, yang memiliki bola mata itu tidak hanya gadis ini kan? Meski faktanya presentasi orang yang bermata biru hanya 10% di dunia.
"Kau sangat pemberani rupanya. Nyalimu sangat besar mengakuiku sebagai kekasihmu di hadapan pria itu. Kau pikir kau siapa? Ah— aku lupa menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Baiklah akan ku jelaskan secara singkat."
Damian mengeluarkan sebuah pistol dari saku bajunya, menimang-nimangnya layaknya barang kesayangan. Lalu menodongkannya ke kepala Ellina. "Dengar baik-baik, kau sejak awal hanya buruan yang harus aku lenyapkan. Dengan begitu misiku akan selesai dan mendapatkan bayaran setelah membunuhmu. Kau paham sekarang?"
Ellina mencengkaram kedua tangannya kuat dan semakin menggigit bibirnya. Melihat pria di hadapannya akan menekan pelatuk pistol yang sejak tadi di keningnya, napasnya semakin tidak beraturan.
"Husst, jangan takut. Tutup saja matamu, akan ku lakukan dengan cepat hingga kau tak perlu merasakan sakit." Bisiknya seperti malaikat kematian. Damian akan mengakhiri misi ini hari ini juga. Sedikit lagi menekan pelatuk itu dan semua akan berakhir.
"Huaaaa! Aaaa..... Hiks... Hiks!"
Tiba-tiba saja Ellina menangis histeris dengan mata tertutup rapat. Air matanya mengalir deras membanjiri pipi putihnya, dan karena tangisan itu membuat niat Damian tertunda, menatap Ellina dengan pandangan bertanya-tanya.
"Apa kau tega membunuh gadis yang patah hati ini? Hari ini aku melihat pacarku selingkuh dengan wanita lain, hatiku sangat sakit hingga rasanya aku hampir mati tadi! Kenapa semua laki-laki sangat jahat! Kenapa mereka tidak pernah memperdulikan perasaan perempuan? Sekarang kau ingin membunuhku! Kalau begitu cepat lakukan, aku memang lebih baik mati! Aku tidak sanggup hidup lagi, ayo cepat bunuh aku!" Jerit Ellina memukul dadanya yang sesak.
Ellina terduduk di tanah menangis sejadi-jadinya sejadi-jadinya dengan menutup wajahnya. Entah bagaimana penampakannya sekarang mungkin sangat kacau dan make up nya sudah luntur.
"Takdirku sangat menyedihkan karena harus mati sekarang. Haiss, seharusnya aku bisa membalaskan sakit hati ini pada pria b******k itu agar aku bisa mati dengan tenang. Hiks... Aku sangat menyedihkan," Isak tangisnya membuat ucapannya terbata-bata. Walaupun ucapan Ellina tidak jelas, namun Damian tahu yang gadis itu ucapkan.
Ellina mengangkat wajah sembabnya untuk menatap Damian, dengan keberanian tinggi meraih tangan pria itu dan menggenggamnya kuat, "Bi— bisakah kau beri aku waktu untuk balas dendam kepada pria itu? Sungguh aku tidak akan lari, kau bisa membunuhku setelahnya. Aku berjanji!" Sorot matanya memancarkan kesungguhan.
"Tolong, bantu aku untuk balaskan rasa sakit ini, Damian. Please...."
Damian melepaskan tangannya dari genggamannya Ellina, "Untuk apa aku membantumu? Aku hanya perlu membunuhmu sekarang dan urusanku selesai!"
Ellina semakin menangis sesenggukan, tangannya memohon di depan wajah, "Hiks... Kumohon beri aku waktu sebentar saja untuk balas dendam. Aku mohon Damian... Aku mohon," rintihnya lirih. Lagi-lagi Damian terlena dengan bola mata biru itu, membuatnya iba. Sesuatu hal yang mustahil dia miliki, tapi itulah kenyataannya.
"Apa untungnya bagiku menolong mu? Dan apa yang bisa kau berikan untukku sebagai jaminannya?" Satu alis Damian terangkat menanti jawaban. Baru kali ini dia tertarik untuk mendengar permohonan korbannya, selama ini jika dia akan membunuh orang, akan dia lakukan segera tanpa ampun. Tapi kenapa dia sulit untuk menolak gadis ini, bahkan sampai membantunya.
"Uang, aku bisa memberikanmu uang! Katakan saja berapa yang kau inginkan?" Jawab Ellina mantap.
Damian terkekeh dengan senyum smirk yang khas, "Sayang sekali aku tidak tertarik dengan uang atau semua hartamu," lalu Damian mencengkram dagu Ellina membuat wajahnya semakin mendongak, "Bagaimana kalau mata indah mu itu menjadi milikku setelah kau mati? Aku akan menyimpannya sebagai pajangan tercantik di kamarku."
Mata Ellina membola seketika, tentu saja dia terkejut mendengarnya. Tidak menyangka di balik wajah tampan rupawan pria itu punya sisi psikopat yang mengerikan. Ellina menyembunyikan ketakutannya dengan mencoba tersenyum.
"Se—setuju. Itu terserah padamu, anggap saja hidupku kini sudah ada di tanganmu. Jadi kau bebas melakukan apapun nantinya."
Damian tersenyum puas mendengar ucapan Ellina. "Good Girl!"
"Jadi, deal?" Ellina mengulurkan tangan pada Damian.
"Deal." Tidak menunggu lama Damian menjabat tangan itu. Dan keduanya saling balas tersenyum dengan arti yang berbeda.
Di balik senyuman indah Ellina, tersimpan senyum kemenangan. Suatu rencana besar yang sudah tersusun rapi di kepala cantiknya pelan-pelan mulai berjalan sempurna. Gadis itu tidak mengira Damian masuk ke dalam perangkapnya dengan mudah. Kalian tentu tidak tertipu dengan aktingnya barusan bukan? Jangan lupakan jika Ellina pernah berjanji akan melawan malaikat mautnya sendiri, yah Damian Gamaniel.
"Selamat anda sudah masuk dalam perangkap rubah licik ini, Tuan Damian." Ucapnya dalam hati.
***
Ellina tertawa lepas di dalam kamarnya mengingat kejadian tadi sore. Terlihat seperti orang gila memang, tapi memang sebahagia itu sampai tertawa hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata. Dirinya seakan-akan berhasil membuat lelucon paling lucu sedunia. Ellina tak mampu menyembunyikan rasa senangnya menipu malaikat mautnya.
"Ellina kau kah, itu?"
Tawa Ellina langsung terhenti saat lampu kamar di nyalakan bersamaan dengan suara gadis yang bertanya.
Ellina melihat ke arah pintu di mana sudah berdiri 3 perempuan yang juga sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Buru-buru gadis itu bangun dari tempat tidur dan sedikit memperbaiki pakaiannya.
"Ah, kalian sudah pulang? Haha, maafkan aku membuat kalian bertiga terkejut." Kekehnya menggaruk kepalanya dengan senyum kikuk.
Ketiga gadis itu mendekat.
"Kau baik-baik saja kan? Kau terlihat sangat bahagia malam ini. Ada apa? Apa terjadi sesuatu tadi sore?" Giz seorang gadis kepo yang selalu ingin tau apa yang terjadi.
"Kau di tembak seorang pria tampan, ya? Ayo cerita pada kami!" Selina ikut penasaran dengan senyuman menggoda.
"Haiss kalian berdua ini! Sudahlah, kenapa kalian sangat penasaran dengan urusan orang. Tidak usah di jawab Ell, lebih baik kau segera istrahat. Besok jadwal latihan kita cukup padat!" Brenda menginterupsi sebelum kedua temannya semakin memojokkan Ellina. Bisa di bilang gadis itu cukup dewasa di banding dua gadis lainnya.
Ellina berterima kasih lewat senyuman karena sudah ditolong Brenda. Dengan begitu dia tidak usah mengarang cerita untuk berbohong pada dua gadis itu. Tak mungkin juga dia jujur bercerita dari A-Z. Lagi pula ini rahasianya seorang diri, dan tidak akan memberitahukan pada siapapun termasuk Zia atau keluarganya.
"Giz! Selina! Tunggu apalagi? Segera tidur, kalian tidak mau dapat hukuman dari pelatih karena terlambat besok, kan?" Perintah gadis itu lagi. Akhirnya Ellina terselamatkan karena Giz dan Selina menurut dengan perkataan Brenda, meski mulut mereka tak berhenti memaki temannya yang super cerewet layaknya ibu-ibu.
Ellina kembali ke kasurnya menutup dirinya dalam selimut, dan melanjutkan tawanya yang tertunda tadi. Tapi kali ini tertawa tanpa suara karena takut teman-temannya mendengar. Kejadian tadi sudah terekam dan terus saja terputar di ingatannya membuat Ellina berbangga diri. Dalam hati, bahkan Ellina memuji dirinya sendiri karena sangat berani melakukannya pada malaikat mautnya.
"Tinggal lakukan secara perlahan ke rencana berikutnya, dan boom! Pria itu akan luluh padaku."
TBC