Nyctophobia

1829 Words
Hari ini Ellina bersama teman-teman lainnya berada di dalam bus yang menuju ke gedung tempat kompetisi pertandingan musik akan diselenggarakan. Hari yang di tunggu-tunggu semua orang akhirnya tiba. 30 menit kemudian, bus akhirnya berhenti di tempat tujuan yang telah ramai oleh banyak pengunjung yang akan menonton pertunjukan musik. Sebelum mereka turun dari bus pelatih memberikan pengarahan dan intruksi kepada para pemain sebelum masuk ke dalam gedung dan bersiap siap untuk tampil. Ellina awalnya fokus mendengarkan pelatihnya, namun matanya tak sengaja melihat seorang pria yang berdiri tak jauh dari bus tengah menatap kearahnya juga. Satu persatu dari mereka turun dari bus begitu giliran Ellina, gadis itu tidak mengikuti teman-temannya yang lain masuk ke gedung dan malah berpisah ke arah lain. Yah, dia pergi menghampiri sosok pria yang dia lihat tadi. "Hai!" Sapa Ellina begitu sampai di hadapan pria yang tak lain adalah Damian. "Ternyata kau menepati janji untuk datang melihat pertunjukan." Kata Ellina tersenyum cerah. "Jangan terlalu percaya diri. Aku datang hanya untuk melihat buruanku di hari-hari terakhirnya sebelum kematian." Sarkas Damian tak lupa dengan tatapan matanya yang begitu tajam menatap Ellina. Senyum Ellina langsung pudar di gantikan dengan mimik wajah kesal, "Ya ya ya... Baiklah Tuan Malaikat Maut! Sekarang kau mau masuk atau tidak? sebentar lagi aku akan tampil, dan pelatih ku sudah mencariku." Memperlihatkan sebuah panggilan telfon dengan nama 'Pelatih' di ponselnya pada Damian. "Ah, jangan terlalu banyak berpikir, ayo masuk!" Ellina menggenggam tangan Damian lalu membawanya berlari masuk ke dalam gedung. Wajah Damian terlihat kaku menatap genggaman tangan Ellina di tangannya. Ini terlalu asing, Damian tidak pernah membayangkan jika gadis ini akan berani padanya. "Selanjutnya Ellina! Bersiaplah 10 menit lagi giliranmu tampil!" Teriak pelatih menginformasikan. Ellina mengangguk terlampau santai sampai membuat Zia yang duduk di sampingnya menatapnya heran. "Kau tidak gugup?" Tanya Giz. Ellina menggeleng, "Kenapa harus gugup?" "Bukankah wajar kalau gugup? Teman-teman yang lain pasti sama. Kau tidak lupa kan, kita tampil di depan banyaknya para tamu undangan dan juga juri. Semua orang memandang kita Ellina, bagaimana bisa tidak gugup?" Ellina terkekeh, "Entahlah, mungkin karena aku terbiasa tampil di atas panggung ketika sekolah dulu mewakili berbagai kompetisi musik dan lomba, jadi aku bisa mengatasinya." "Hais, pantas saja! Itulah mengapa kau sesantai ini?" Ellina mengangguk sembari tersenyum singkat, "Gugup hanya akan membuat kita melakukan kesalahan yang lebih besar. Tapi asalkan kau bisa mengontrol kegugupan mu dengan baik saat tampil nanti, itu bukan masalah besar. Berdoa dan percaya saja pada dirimu!" Tuturnya lagi memberi semangat pada Giz. "Ellina, sekarang giliranmu!" Panggil pelatih di ujung ruangan. Gadis yang di panggil itu berdiri lalu mengambil biolanya, "Ayo lakukan yang terbaik!" Kata Ellina mengedipkan sebelah mata pada Giz yang masih terlihat pucat karena semakin gugup. Karena setelah Ellina tampil, setelahnya itu adala Giz. "Ya, tentu! Semangat Ellina!" Giz akhirnya tersenyum dan melambai menyemangati Ellina yang telah pergi untuk tampil. Di sisi lain sosok Damian sedang duduk di barisan paling belakang dengan mata yang menatap lurus pada sosok gadis yang baru saja naik ke atas panggung. Gadis itu membungkuk dan memberi penghormatan pada dewan juri dan tamu undangan terlebih dahulu. Ellina tidak lupa untuk memasang senyum manisnya, pandangannya mencari-cari seseorang. Senyumnya semakin melebar setelah menemukan sosok yang dia cari sedang menatapnya juga. Akhirnya Ellina melakukan penampilan bermain biolanya yang membuat semua orang terfokus hanya pada gadis itu. pandangan mereka terpaku dengan penampilan terbaik Ellina yang memainkan biola begitu lihai dan tenang. Penjiwaannya sampai kepada semua yang menonton pertunjukan tersebut, begitu pula dengan Damian. Tidak dapat di sangkal jika Damian takjub pada sosok Ellina saat itu. Suara tepuk tangan ramai menggema dalam gedung saat penampilan Ellina selesai. Berbagai lontaran pujian dari dewan juri hingga penonton terdengar. Ellina tersenyum, mengucap terima kasih lalu membungkuk untuk terakhir kali sebelum keluar dari panggung. "Wah, Keren Ell!" "Kau hebat!" "Sudah pasti dia juara!" "Mulai hari ini aku fansnya!" Teman-teman Ellina berkumpul mengelilingi dan mengucapkan banyak pujian padanya. Dengan berlagak seperti gadis yang rendah hati, Ellina hanya tersenyum dan membalas seadanya. Dia tak perlu pujian, dia sudah tau dirinya hebat. Acara kompetisi musik akhirnya telah selesai. Kini semua berkumpul ketika sang pelatih memberi mereka aba-aba. "Hari ini aku sangat bangga pada kalian semua. Terutama untuk penampilan Ellina yang sangat bagus tanpa ada kesalahan, perfect!" Jeda beberapa detik karena lagi-lagi Ellina mendapatkan tepuk tangan meriah dari teman-temannya. "Kalian sudah berusaha kerasa untuk hari ini. Jadi sebelum kembali besok, hari ini kalian boleh berjalan-jalan di kota dan menikmati sisa-sisa waktu bersama teman-teman." "Horee!" Sorak yang lain. "Tapi ingat, jam pulang kalian sebelum jam 12 malam. Lewat dari itu kalian dapat hukuman!" Kata Pelatih di balas desahan kecewa dari anak-anak bimbingan. "Jangan ada bantahan, keselamatan kalian tetap menjadi tanggungan saya, jadi sebelum kembali ke orang tua kalian jangan membuat ulah. Mengerti?" "Mengerti ibu!" Jawab serempak. "Bagus, silahkan nikmati waktu kalian." Di tengah teman-teman lain berkumpul dan mengatur rencana jalan-jalan siang itu. Ellina sudah diam-diam pergi dari sana, dia begitu bergegas keluar dari gedung dan sibuk mencari sosok Damian. Entah apa yang akan gadis itu perbuat mencari sosok malaikat mautnya. "Kemana dia?" Kepalanya celingak-celinguk mencari Damian. Namun, dia tak melihat sosok pria itu di manapun. Ellina menghembuskan napas kecewa lantas berbalik badan hendak bergabung kembali pada teman-temannya. "Untuk apa mencariku?" Suara itu membuat langkah Ellina berhenti. Memutar tubuh dan pandangannya akhirnya menangkap tubuh tegap sosok pria yang dia cari sejak tadi. "Kau tau aku mencarimu, terus kenapa sembunyi? Haiss!" Protesnya tidak terima dengan tatapan kesal. "Memangnya kau sudah siap menyerahkan nyawanya hari ini? Kau ingin mempercepat kematianmu ternyata," balas Damian tersenyum iblis. "Tidak! Perjanjiannya kan, sampai aku bisa balas dendam pada mantan pacarku! Kau sudah berjanji!" Kilah Ellina, beberapa detik kemudian dia berdehem. "Aku mencarimu sebenarnya untuk mengajakmu berjalan-jalan karena besok aku sudah harus kembali ke rumah. Jangan salah paham dulu, aku mengajakmu karena kau pasti tau banyak tempat menarik di sini, jadi bawa aku untuk bersenang-senang oke?" Tuturnya semangat. "Kenapa aku harus mengikuti permintaanmu?" Ellina memutar bola mata mendengar ucapan Damian, "Apakah harus ada alasan untuk membantu seseorang, Tuan Damian? Membantu tidak akan membuatmu rugi, kau tenang saja aku tidak akan minta uangmu sepeser pun. Kau hanya perlu menemaniku berjalan-jalan itu saja. Sudahlah ayo!" Tanpa menunggu Damian membalas ucapannya, Ellina telah lebih dulu meraih lengan pria itu dan membawanya pergi mengikutinya. Damian menatap lancang pada kelakuan Ellina, namun tidak menolaknya. Langkah riang Ellina terlihat begitu mencolok ketika sampai di tempat tujuannya. Yakni sebuah wahana taman bermain. Senyumannya mengembang indah di wajahnya, entah karena apa, tapi gadis itu sangat senang saat ini. "Kita akan mulai!" Sebelah alis Damian terangkat karena perkataan ambigu Ellina. "Mulai?" "Yah, mulai bermain! Apa lagi yang kau pikirkan? Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan setelah datang ke sini. Kita akan mulai bermain yang mana ya?" Telunjuknya menepuk-nepuk bibirnya pelan dan berpikir. "Aku sangat tidak suka sesuatu yang menyeramkan atau yang menguji adrenalin. Kau ada ide?" Menoleh pada Damian meminta saran. "Kembalilah ke asramamu, aku tidak berniat menemani gadis penakut sepertimu bermain permainan anak kecil." Kata Damian dengan senyum meremehkan. Dia berbalik ingin meninggalkan Ellina, tapi gadis itu lebih dulu memblokir jalannya. Tangan Ellina direntangkan tidak mengizinkan Damian pergi, "Ckck... Memang kau pikir aku penakut? Aku hanya tidak suka bukan penakut, mengerti?" Kini tawa remeh Damian yang terdengar jelas, dan itu membuat Ellina kesal setengah mati. Dia benar-benar diremehkan. "Oke, kalau begitu katakan kau ingin wahana apa? Akan ku buktikan kalau aku tidak penakut!" Tantang Ellina dengan wajah angkuh. Tangannya terlipat di d**a. "Baiklah, ikut aku!" Kini mereka berdiri di depan gerbang sebuah wahana. Berbagai poster gambar dan patung menyeramkan sebagai ornamen khas tempat itu dan kalian pasti sudah menebaknya. Benar, rumah hantu. Damian menangtang Ellina untuk masuk ke sana. Damian melirik gadis di sampingnya sekilas setelah tau bagaimana reaksinya,"Berniat mundur?" Ellina secepatnya mengganti ekspresi seperti sebelumnya, wajah penuh keangkuhan dan tak ingin dikalahkan. "Tidak sama sekali!" Lantas dia segera meninggalkan Damian untuk membeli tiket masuk wahana rumah hantu. Akan dia buktikan bahwa dia tidak takut pada pria itu. Lagi-lagi Ellina di buat kesal saat Damian meninggalkan dirinya tepat di garis star sebelum masuk ke rumah hantu. Langkah lebar Damian membuatnya semakin tidak terlihat oleh Ellina di ruang yang gelap dan minim pencahayaan itu. Sedikit ragu namun pasti akhirnya Ellina pun mulai masuk dengan sedikit berlari. "Siapa pria yang tega meninggalkan seorang gadis di tengah kegelapan seperti ini. Ah, ya itu Damian! Keterlaluan!!" Omelnya memeluk tubuhnya sendiri. Tiba-tiba suhu udara di ruangan itu menjadi dingin mencekam. Berbagai suara-suara menyeramkan berusaha tidak dipedulikan dan terus melangkah maju. Yang Ellina inginkan hanya berharap dia bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini. Oh iya, Ellina sama sekali tidak melepaskan handphone di tangannya. Dia menghidupkan lampu di ponsel agar bisa menerangi jalannya, karena hal itu membantunya sedikit tenang. Ellina betul-betul tidak menengok ke kiri dan ke kanan, matanya fokus ke depan. Menghiraukan gangguan dari setan-setan yang ingin menakutinya atau suara menyeramkan itu. Dia menjadi buta dan tuli seketika. Dalam pikirannya dia terus mengulang sebaris kalimat seperti sebuah mantra. "Jangan takut, mereka manusia Ellina!" Kini dia masuk ke dalam sebuah ruangan lainnya, semacam gua. Gua itu lembab dan dia dapat mendengar suara air yang menetes tidak jauh darinya. Terlalu fokus mencari jalan keluar, Ellina tidak memperhatikan langkahnya sehingga gadis itu tergelincir dan akhirnya terjatembab. Ponselnya terlepas dari tangannya dan senter itu mati seketika. Ruangan menjadi gelap membuat wajah Ellina pucat, tubuhnya keringat dingin, dan menjadi kesulitan bernapas. Di tengah keadaan yang semakin mencekam itu, Ellina merasakan seseorang menyentuh pundaknya sontak. Panik, Ellina langsung menjerit keras. Mulut gadis itu langsung di bekap dan sebuah suara akhirnya menyadarkannya dari rasa terkejut Ellina. "Damian? Kau kah itu?" Ellina langsung tau siapa orang itu, karena suara itu sangat familiar. Meski kenyataannya dia belum lama mengenal pria itu, tapi segala sesuatu yang berhubungan dengan Damian Ellina mulai tau. "Ini aku." Suara rendah namun dingin itu menambah keyakinan Ellina. Gadis itu mendesah lega dan langsung memeluk tubuh tegap Damian sangat erat. "Jangan tinggalkan aku, Damian. Aku takut...." Damian mematung beberapa saat merasakan pelukan Ellina yang begitu erat. Dia juga dapat merasakan jika Ellina kini sedang menangis kecil. "Kau— Nyctophobia?" Damian mendapatkan jawaban dari anggukan pelan Ellina. Terjawab sudah kenapa Ellina sangat ketakutan, ternyata gadis itu salah satu pengidap phobia kegelapan. Yang membuat Ellina panik serta cemas berlebihan di tempat yang tak bercahaya. Rasa takutnya yang tak bisa dia kendalikan juga bisa membuatnya sesak napas. Damian menggendong Ellina ala bridal style membawanya ke sebuah perahu kayu. Ellina terus memeluk Damian bagai tak ingin pria itu pergi meninggalkannya sendirian lagi. Bibirnya lagi-lagi mengucapkan kata yang sama seperti sebelumnya. "Jangan tinggalkan aku. Aku takut, Damian." Pelan tapi pasti, telapak tangan Damian mendarat di punggung kecil Ellina. Menepuknya pelan layaknya dia sedang berkata, "Aku di sini." Pada Ellina. Setelah dia merasakan Ellina sedikit lebih rileks, Damian mendayung perahu itu keluar dari wahana rumah hantu. Cahaya terang langsung menyambut mereka berdua, Damian kini bisa melihat jelas wajah Ellina yang sangat pucat dengan keringat masih membingkai wajahnya. Ada sedikit rasa penyesalan di hati kecil Damian, karena dialah penyebab gadis itu menjadi ketakutan seperti sekarang. "Kau tidak seharusnya lahir, agar aku tidak membunuhmu dengan tanganku Ellina." TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD