Keputusan

1347 Words
Ellina merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah tidur panjangnya seharian ini. Tentu saja di kasur kesayangannya bersama boneka sapi favoritnya. Kemarin dia baru saja kembali dari luar kota setelah mengikuti kompetisi musik selama kurang lebih hampir 2 Minggu. Di hari weekend ini dia gunakan waktu untuk bersantai ria melepas penat. Namun, Ellina teringat jika dia punya agenda lain selain tidur. Dia akan pergi mengunjungi suatu tempat yang beberapa hari terakhir ini terus terpikirkan. Dia pun bangkit bergegas mandi dan bersiap-siap setelahnya. Kini dia sudah berada di dalam mobilnya bersama dengan Zia tentunya. Mereka akan pergi berdua saja. "Kita berangkat!" Kata Zia yang di angguki ringan oleh Ellina. Mobil itu perlahan meninggalkan mansion menuju tempat tujuan mereka. Perjalanan yang cukup panjang hampir setengah jam lebih waktu yang mereka di tempuh untuk sampai, akhirnya kini mereka tiba. Keduanya bersamaan keluar dari mobil sambil memakai kaca mata hitam yang sangat kontras dengan pakaian mereka. Ellina sendiri mengenakan dress selutut berwarna kuning tak lupa sepatu kets putih dan topi bundar yang menutupinya dari panas matahari di sore itu. Berbeda dengan Ellina, Zia lebih memilih memakai baju kaos putih dan celana pendek hitam serta topi dan sepatu yang senada dengan warna bajunya. Kedua gadis itu punya selera pakaian yang jauh berbeda. Rileks satu hal yang dia dapatkan ketika berada di sana. Suara ombak terdengar bagaikan melodi paling menarik bagi Ellina. Dia benar-benar jatuh cinta pada laut indah yang ada di hadapannya. Setiap dia ke pantai seakan-akan dia bermimpi suatu hari nanti dia dan keluarga kecilnya bisa tinggal di dekat pantai, menikmati setiap keindahan laut setiap kali membuka mata dan ingin tertidur. "Sedang memikirkan sesuatu?" Suara Zia menyadarkan Ellina dari mimpi indahnya yang sesaat. Dia baru saja berandai-andai dalam kepala cantiknya, namun sudah di sadarkan. Blue eyes milik Ellina terbuka perlahan-lahan, "Yah, tentang sesuatu yang indah," Ellina tersenyum-senyum sendiri. "Apa Nona sedang memikirkan masa depan bersama seorang pria tampan?" Ellina membolakan mata mendengar Tebakan Zia. "Hm, sepertinya tebakanku benar. Iya?" "Haha... kau seperti cenayang! jujurlah, Kau pasti sudah menyabotase isi otakku ya, kan? Mana mungkin kau bisa tau semua yang aku pikirkan. Haiss menyebalkan!" "Dari mimik wajahmu semua bisa terbaca. Kau sangat mudah di tebak!" Ellina terkekeh dan kembali fokus menatap matahari yang akan tenggelam. Mungkin karena mereka berdua sudah bersama sejak lama, Zia sudah tau bagaimana sosok Ellina sebenarnya. 60% pasti ya! Zia sudah menjadi separuh dari perlajanan hidup Ellina, dan karena itulah gadis itu tau betul bagaimana Nona nya. "Akan ku beritahu apa yang aku pikirkan tadi. Sebenarnya aku sedang bermimpi memiliki keluarga kecil dan kami tinggal di dekat pantai. Jadi setiap hari kami akan bermain di pantai, dan mengambiskan waktu melihat indahnya pantai. Ah, pasti sangat menyenangkan. Membayangkannya saja membuatku senang, bagaimana jika Tuhan mewujudkan impianku? Aku akan sangat-sangat bersyukur." "Aku tidak meminta banyak. Hanya cukup hidup tenang dan damai bersama keluarga kecilku kelak, Zia." Zia menatap dari samping senyuman penuh pengharapan Ellina. sangat berharap semoga Tuhan mengabulkan permintaannya. "Percayalah impian Nona pasti terwujud." Zia menggenggam tangan Ellina untuk menyakinkan. Keduanya kini saling bertatapan dan bertukar senyum, "Terima kasih, Zia. Ku harap kau juga bahagia nantinya. Berjanjilah untuk selalu mengingatku, sejauh apapun kita nantinya jangan lupakan aku. Oke?" Jari kelingking Ellina di ulur ke hadapan Zia. Tanpa rasa ragu Zia langsung menyambutnya, "Tidak akan Nona, karena aku selalu bersamamu." Keduanya diselimuti rasa haru dan bahagia. Saling merangkul dan berjalan menuju tepi pantai, tertawa lebar dan bermain air. Perjanjian tulus itu akan abadi. Pantai indah itu telah merekamnya menjadi sebuah momen penting bagi keduanya. *** Tak! Sebuah foto di lempar ke atas meja oleh Zaro. Setelahnya Zaro merubah posisi duduk menjadi bersandar di kursi kerjanya. Di hadapannya sosok Roand berdiri sembari mengamati foto itu baik-baik. "Cari tau siapa pria yang bersama putriku. Aku ingin informasinya secepatnya." Kata Zaro dengan nada dingin. Foto itu di ambil oleh mata-mata Zaro yang menjaga putrinya ketika berada di luar kota tanpa sepengetahuan Ellina. Tidak mungkin Zaro dengan bodohnya membiarkan Ellina bebas sementara di luar sana nyawa putrinya itu sedang di incar oleh banyak musuhnya. Foto ketika putrinya memeluk seorang pria di perahu kecil itu berhasil membuat Zaro ingin mengetahui siapa pria itu. Kenapa Ellina begitu dekat dengan pria itu? Apa hubungan mereka? Sebenarnya dia bisa tau langsung tau jawaban dari sang putri tapi, Zaro lebih suka bertindak sendiri. "Baik Tuan. Informasi itu akan anda dapatkan secepatnya." *** Di sisi lain ada dua tiga pria yang duduk di ruang meja makan. Mereka sedang menyantap hidangan makan siang dengan khidmat. Belum ada percakapan yang terdengar, ketiganya menyantap makanan masing-masing. Hingga salah seorang pria yang lebih tua di banding lainnya, berdehem sebelum bersuara. "Sudah lama kita tidak berkumpul untuk makan bersama seperti sekarang," ucap Mario tersenyum pada kedua anaknya. Jorda balas tersenyum kecil, "Iya Ayah, sudah lama sekali. Mungkin alasan yang paling logis karena kami berdua sudah beranjak dewasa dan punya banyak pekerjaan. Jadi hal seperti ini jarang terjadi lagi." Mario terkekeh,"Kalian pasti lelah. Misi terakhir yang aku berikan bukan misi yang mudah, dan ini membutuhkan waktu agar berhasil. Dan aku dengar, Ayah gadis itu semakin mengetatkan keamanan putrinya. Apa benar begitu?" Mario beralih menatap Damian yang tidak berbicara sama sekali. Pria itu lebih memilih menghabiskan makan siangnya. Merasa di tatap, Damian akhirnya mengangkat wajah dan balik menatap Mario. "Ya, itu benar." "Kalau begitu menembak dari jarak jauh bukan solusi yang tepat. Zaro pasti sudah menyiapkan penembak jitu terbaiknya jadi semua itu akan sia-sia saja," Mario memperbaiki letak kaca matanya lalu menatap pada Jordan dan Damian secara bergantian. "Aku ingin salah satu dari kalian mendekati gadis itu. Buat gadis itu dekat dan percaya padamu, hingga dia atau siapapun tak akan percaya bahwa kaulah singa yang akan memasangnya. Dan setelah dia masuk dalam perangkap, Hap! Buatlah dia tersiksa hingga mati!" Tawa keji keluar dari mulut Mario begitu kuat. Hingga suaranya menggema dalam ruang makan itu. Setalah tawa itu sedikit mereda, Mario kembali bertanya, "Jadi siapa di antara kalian yang bersedia?" "Aku yang akan mengambil misi ini!" Pandangan dua pria langsung tertuju pada Damian. Pria itu mengambil keputusan tanpa berpikir sedetik pun dan tanpa rasa ragu. Damian keluar lebih dulu dari ruang makan menuju ke tempat latihan. Tak ada tempat yang lebih menarik di markas kecuali tempat latihan. Dia selalu menghabiskan banyak waktu di sana dengan berlatih atau sekedar merenung sesaat. Sekaranh dia berlatih melempar pisau ke sasaran, tangannya begitu lihai hingga tak ada satupun pisau yang meleset dari targetnya. Tanpa dia sadari beberapa saat yang lalu Jordan sudah ada di sana dan mengamati latihan Damian. Tanpa mengganggu, dia menunggu Damian selesai dengan latihannya. Latihan itu selesai, dan tanpa di suruh Jordan pun mendekati Damian. Tepuk tangan mengiringi langkahnya yang semakin dekat. "Seperti biasa, kau selalu hebat," Jordan melirik ke papan target sekilas, "Lemparan yang sempurna." Pujinya lagi. "Ada apa kau kemari?" Tanya Damian tanpa basa basi. Jordan duduk di kursi samping Damian, "Ingin memberimu sedikit nasihat tidak masalah kan?" Damian mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti. Namun dia tidak bertanya hanya menunggu Jordan menjelaskannya. "Berhati-hatilah. Setelah kau memutuskan mengambil misi ini aku hanya minta kau untuk berhati-hati Damian. Aku tau ini bukan hal sulit bagimu mendekati gadis itu. Maaf, tapi aku melihatmu saat bersama gadis itu di wahana bermain waktu itu." Damian dan Jordan saling bertubrukan mata. "Aku tidak tau apa ini hanya perasaanku atau bukan. Tapi aku melihatmu menatap gadis itu dengan pandangan berbeda. Bukan layaknya seorang pembunuh, tapi seorang pelindung," sorot mata Damian yang begitu menusuk dan tajam membuat Jordan seketika tersadar dengan ucapannya yang sadar atau tidak dia sudah meragukan Damian. "Ah maaf, aku tidak menuduhmu yang bukan-bukan. Aku percaya padamu Damian, luapkan perkataan ku tadi, ini hanya pemikiranku saja. Kau pasti bisa menyelesaikan misi ini kan?" Damian memutuskan pandangannya, dia tertawa tanpa suara. "Kau bisa menilai bagaimana akhirnya nanti. Teruslah percaya pada apa yang kau percayai, Jordan." Damian lantas berdiri dan hendak pergi namun, sebelum itu Jordan lebih dulu menghentikannya. Dia menarik tangan Damian dan mereka kembali saling berhadapan. "Kau harus ingat perjanjian organisasi kita Damian. Jika salah satu dari kita penghianat, kematian bagi mereka adalah yang terbaik." Dengan paksa Damian menyentak tangan Jordan, "Bunuhlah aku jika nantinya itu memang terjadi. Berjanjilah padaku untuk melakukannya, Jordan?" -TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD