Adik Sepupu

1769 Words
Pagi itu Ellina terlihat abstrak mencoret-coret kertas putih di mejanya dengan gerakan tangan yang tak beraturan. Dia sama sekali tidak memperhatikan Dosen yang sedang menerangkan mata kuliah filsafat seni. "Gadis baju putih, kaca mata yang duduk di tengah. Berdiri!" Batrice Dosen yang sedari tadi mengamati mahasiswa nya mendapati seseorang yang tidak memperhatikan nya sejak tadi. Akhirnya dia angkat suara menunjuk salah satu mahasiswi dengan tongkat kayu di tangannya. Sontak saja semua mahasiswa menoleh pada orang yang di tunjuk tersebut. Ellina yang merasa sedang di tatap akhirnya mengangkat pandangan melihat sekelilingnya. Benar saja semua orang tengah melihatnya. Dia beralih menatap Beatrice dan menunjuk dirinya sendiri seakan berkata "Aku?" "Iya kamu, berdiri!" Tanpa di perintahkan dua kali Ellina berdiri. Raut wajahnya tidak menggambarkan ketakutan sama sekali. "Bisa kamu ulangi apa yang saya jelaskan tadi?" Kata Bacteria dengan nada dingin. Pertanyaannya mungkin singkat, tapi bagi mahasiswa itu sebuah kiamat. Siapa yang bisa ingat apa yang Dosen itu jelaskan awal sampai akhir? Sepintar-pintarnya mereka mustahil bisa mengingatnya semua bukan? Sebagian dari mereka cukup kasihan dengan nasib Ellina. Namun, sebagian lagi tertawa kecil merasa senang Ellina dihukum. Semua mengira Ellina pasti diam saja dan siap menerima hukuman, karena jelas-jelas gadis itu tidak memperhatikan sejak tadi. Namun, mereka salah besar. Ellina dengan tenang menjelaskan dari awal sampai akhir apa yang Batrice inginkan. Tentu dengan gaya bahasanya sendiri yang lebih mudah di pahami. "Wow!" Serentak mahasiswa lain terperangah dengan kehebatan Ellina bisa mengingat penjelasan Batrice dengan sangat epik. Suara ramai tepuk tangan langsung memenuhi ruangan serta lontaran pujian terdengar saling menyahut. Perlu di ingat orang yang tidak memperhatikan belum tentu tidak mendengarkan. Itu dua hal yang berbeda. Tidak berlangsung lama, karena Batrice menghentikan kegaduhan itu dengan tepukan tongkat kayunya di meja sebanyak tiga kali. Suasana kembali hening. "Good. Lain kali jika mata kuliah saya, perhatikan dengan baik. Duduk!" Titah Batrice. "Baik Miss." Jawab Ellina lalu kembali duduk. Mata kuliah kembali berlangsung sekitar 20 menit sebelum akhirnya waktu istirahat tiba. Sebagai besar mahasiswa keluar dari kelas untuk pergi ke kantin mengisi perut, dan sebagai kecil lainnya masih bertahan di kelas termasuk Ellina. Gadis itu mengotak-atik ponselnya entah sedang melakukan apa. Willy pun masih di kelas tersebut berbincang dengan seorang pria tentang sesuatu hal. Hingga perbincangan itu berakhir dan fokus Willy langsung tertuju pada Ellina. "Ell, ayo ke kantin? Laper..." Ajak Willy setibanya di hadapan gadis itu. Ellina hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ponselnya. "Aku tidak lapar. Kau pergilah," katanya menyerupai pengusiran. Bukannya pergi, Willy malah duduk manis di samping Ellina. "Di mana pengawalmu itu? Aku tidak melihatnya hari ini." Bahu Ellina terangkat, "Katanya ada urusan penting. Entahlah dia tidak mengatakannya dengan jelas." "Oh iya? Aku baru pertama kali melihatmu terpisah dengan pengawalmu itu. Kau tau, kalian itu bagaikan kacang dan isinya selalu menempel kapanpun dan di manapun. Aku tebak kau kese—" Ellina menghela napas kasar lantas beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana. "Hei, kau mau kemana?" Teriak Willy. "Kantin! Tiba-tiba aku jadi lapar mendengar ocehanmu!" Seru Ellina yang hampir sampai di pintu kelas. Willy tentu saja mengekori gadis itu pergi ke kantin tanpa di suruh. "Kau masih ingat kejadian penembakan di parkiran itu?" Sendok makanan Ellina tertahan sebelum sampai ke mulut, itu karena perkataan Willy membahas kejadian yang hampir 1 telah berlalu. Tidak mendapat respon dari Ellina, Willy kembali melanjutkan ucapannya. "Ah tentu saja kau pasti ingat, kejadian itu sulit untuk di lupakan. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat persis bagaimana kejadian itu." Tanpa rasa bersalah sedikitpun Willy makan dengan hikmad. Berbeda dengan Ellina yang menatap horor Willy yang menghilangkan napsu makannya seketika. Alhasil dia hanya minum jus jeruk mengakhiri acara makannya, padahal setengah dari makanan itu belum habis. Tak! Ellina meletakkan gelas minumannya dengan sedikit keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan mengundang banyak pasang mata. Willy memandangi Ellina dengan cengiran lebar. "Kau seperti marah padaku Ell, kenapa?" Tanya pria itu pura-pura polos. "Kau ingin mati? Untuk apa mengungkit kejadian itu lagi?" Sinis Ellina dengan tatapan tajam. Willy melihat ke kiri dan ke kanan sebelum dia bangkit dari kursinya beralih duduk di samping Ellina. "Aku ingin bertanya serius padamu, Ell. Sebenarnya aku ingin bertanya ini dari lama, tapi kau tau sendiri kan, kalau pengawalmu itu selalu menempel padamu. Jadi aku tidak punya kesempatan." Kening Ellina mengerut dalam saat melihat wajah serius Willy. Perkataan pria itu pun penambah rasa penasarannya tentang apa yang akan Willy katakan. "Saat kau mengejar penembak itu, apa ada yang terjadi? Kau ingat, demenjak dari itu kau izin masuk kuliah beberapa hari, apa terjadi sesuatu padamu, Ell?" Ucap Willy setangah berbisik di akhir katanya. Ellina berdehem pelan, menyeruput kembali jus jeruknya lalu memperbaiki posisi duduknya. "Kenapa kau ingin tau? Apa pedulimu?" Willy menyentil cukup keras kening Ellina, membuat si gadis mengaduh sakit. "Tentu saja aku sangat peduli! Kau tau saat itu aku mengejarmu, tapi sialnya aku kehilanganmu. Aku sangat menghawatirkan mu saat itu, kau tau!" Tegas Willy. "Aku hampir dibunuh," Jelas Ellina singkat. "Apa!?" Willy melotot mendengarnya dengan suara cukup keras. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin. "Aku bilang hampir! Kau tidak lihat masih hidup sampai sekarang?" Ulang Ellina menekan kata "Hampir" dengan setengah kesal. "Kau serius? Cepat ceritakan bagaimana detail kejadian itu?" Desak Willy. Ellina beberapa detik diam mengamati ekspresi serius Willy. Sedikit bimbang apakah dia bisa menceritakannya ke Willy, yang notabene mereka baru saja dekat. Sedangkan kejadian tersebut tak pernah dia ceritakan pada Zia ataupun orangtuanya. Namun akhirnya dia memilih untuk bercerita pada Willy. Dia pun mulai menceritakannya secara rinci bagaimana dia bisa selamat dari maut saat itu. Mulut Willy setengah terbuka mendengarkan cerita Ellina. Tidak menyangkah jika nyawa Ellina terancam karena sosok pembunuhnya. Tapi Willy bersyukur Ellina bukan gadis penakut, dia dengan berani menusuk pembunuh itu hingga Ellina punya kesempatan melarikan diri. "Syukurlah Ell. Tuhan masih memberikanmu umur panjang, entah bagaimana jadinya jika saat itu kau mati. Mungkin kini kau hanya tinggal nama." Sifat Willy kembali ke awal, menjadi sosok yang menyebalkan dan tukang usil. Ellina hanya memutar mata menanggapi perkataan pria itu. Yah, memang sebuah keberuntungan Ellina masih hidup sampai sekarang. Tapi Willy tidak tau saja apa yang sedang gadis cantik itu rencanakan. Ellina tidak menceritakan semua tentang sosok malaikat mautnya itu. Tentang kesepakatannya dengan Damian atau tentang dia yang sering bertemu secara di rencanakanya. Rahasia itu cukup dia saja yang tau. Jam pulang adalah hal yang paling Ellina tunggu-tunggu. Ketika mata kuliah terakhir selesai dia segera menuju ke parkiran kampus dengan langkah cepat. Ada yang aneh, ekspresi Ellina menunjukan dia tengah menahan kesal saat ini. Berkali-kali dia menekan ikon memanggil di ponselnya namun, orang yang di telfon sama sekali tidak mengangkat panggilannya. "Kemana sih, Zia? Apa dia kehilangan ponselnya? Kenapa tak ada balasan dari pesan atau panggilanku?" Gerutunya ketika sampai di mobilnya. Kendaraan itu akhirnya melaju meninggalkan kampusnya. Ellina gelisah karena tidak biasanya Zia tidak mengabaikannya seperti sekarang. Dia sempat curiga karena beberapa hari terakhir gadis itu sering menghilang dari pandangannya, namun tidak sampai menghilang seharian. Hari ini benar-benar tidak ada kabar dari pengawalnya itu. Ellina berbohong pada Willy kalau Zia mengabarinya pagi tadi ada urusan penting. Sebenarnya dia sendiri tidak tau Zia kemana dan sedang mengurus apa sampai-sampai melupakannya. Mobil biru mewah tersebut memasuki kawasan mansion yang luas. Ellina memakirkan mobil bukan pada tempatnya, Ellina tidak peduli dia secepatnya masuk ke mansion dengan setengah berlari. Tepat ketika dia hendak melewati ruang tamu, langkahnya segera berhenti saat mendapati dua orang yang sedang berbincang serius. Namun perbincangan itu ikut terhenti saat Ellina datang. "Eh? Ellina?" Suara sapaan yang begitu akrab menyapa gadis yang masih mematung di tempatnya. Dia adalah Safar, adik sepupunya, anak dari Rana dan Karan. Safar mendekat dan langsung merangkul Ellina. "Aku merindukanmu!" Katanya semakin mengeratkan pelukan pada gadis itu. Ellina mencoba mengulum senyum terkesan terpaksa. "Lepaskan bodoh aku tidak bisa bernapas!" Bisiknya tajam lalu menyikut perut Safar. Rangkulan itu terlepas saat Safar mengelus perutnya yang sedikit ngilu. "Ellina..." Kana yang sejak tadi memperhatikan, menegur Ellina. "Jangan kasar pada adikmu, Safar sejak tadi menunggumu pulang karena merindukanmu." Kata Kana. "Oh iya? Sayangnya aku tidak merindukannya...." Balas Ellina menyerupai bisikan yang sangat kecil agar tidak di dengar Kana. Tapi Safar mendengarnya dan melotot tidak terima. Dia hendak mengaduh pada Kana namun, mulutnya segera di bekap Ellina. "Hahaha... Iya aku juga merindukannya, Mah. Lagian aku tidak kasar, tadi itu hanya salam pertemuan, benar kan Saf?" Ellina melotot untuk mengancam Safar dengan tangan masih membekap mulut adik sepupunya. Ellina kemudian menjawab, "Tuh, Mah, benar katanya." Pria itu pasrah, kenyataannya Safar tidak bisa bicara dengan mulut tertutup benar kan? "Kalau begitu aku pinjam Safar sebentar ya, Mah. Aku ke atas dulu, bye Mah...." Baru saja Safar ingin menghirup udara segar karena bekapan itu di lepas, namun dirinya langsung di rangkut dan di seret paksa untuk mengikuti Ellina pergi. "Ellina baik-baik ya sama adik kamu..." Kana memperingati Ellina yang sudah membawa jauh Safar menuju lift. Entah perkataan wanita itu di dengar atau tidak oleh putrinya. Safar berdiri di depan cermin dan berkaca memperbaiki gaya rambutnya dengan sisir Ellina. Tatanan rambutnya rusak karena perlakuan kakak sepupunya tadi, dan hal itu membuat tingkat kegantengannya berkurang drastis. Sementara Ellina baru saja keluar dari kamar ganti, kini dia mengenakan baju kaos kebesaran dan celana kain sebatas lutut berwarna coklat muda. Dia mendecih melihat Safar bergaya ala bintang model di depan cermin. Yang benar saja, setelah 2 tahun tidak bertemu tingkat kenarsisan pria itu bahkan belum hilang? Ellina mendekat dan ikut bercermin untuk mencepol asal rambut hitam indahnya. "Ada apa kau kemari?" Pertanyaan Ellina membuat Safar berhenti untuk bergaya seperti model. "Kenapa pertanyaanmu sangat menjengkelkan? Tentu saja karena aku merindukanmu, Ellina!" Teriakan Willy mendapat pukulan tangan di kelapa dari Ellina. "Mana sopan santunmu! Biar bagaimanapun aku ini kakakmu!" Sambil cemberut kesal Safar mengelus-elus kelapanya, "Ellina, kau itu hanya tua 1 tahun dariku. Tolong jangan terlalu kejam pada pria tampan ini." Ellina tidak peduli dengan komentar itu, dia berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring terlentang, setengah kakinya masih menepak di lantai. Pandangan gadis itu menjadi kosong, hanya menatap langit-langit kamar. Safar melihatnya sedikit heran dengan tingkah gadis itu. Safar merasa Ellina dalam mood yang tidak baik, atau sedang banyak pikiran? "Kau kenapa? Kalau ada masalah cerita saja padaku." Bujuk Safar pengertian. Dia ikut berbaring di king size bed tepat di sebelah Ellina. Lama Ellina diam, akhirnya beberapa saat kemudian dia buka suara. "Zia... Dia menghilang seharian ini." "Zia? Gadis tomboi yang sering menendang bokongku itu?" Ellina merespon dengan anggukan kepala. "Hm, tidak biasanya dia menghilang seperti ini. Apa dia sudah menemukan Nona baru?" Sontak saja Safar tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Ellina yang menurutnya lucu. Ellina pun menoleh pada adik sepupunya itu dengan tatapan tajam. "Uups, maaf... perkataanmu itu benar-benar lucu Ellina. Sebenarnya aku tadi bertemu Zia di kantor Daddy mu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD