Bara berdiri di taman depan rumah Megan. Udara malam yang dingin menyelimuti, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya kaku. Wajah Megan di depannya terlihat tegas, penuh emosi, tetapi mata itu menyiratkan sesuatu yang lebih, kekecewaan dan harapan bercampur jadi satu. "Megan, aku udah bilang sama kamu kalau aku serius," kata Bara, memulai pembicaraan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, tetapi belum mendapatkan titik terang. Megan tidak semudah itu mengiakan. Dia melipat tangan di dadanya, berdiri tegak di bawah lampu taman yang remang-remang. "Tapi sikap kamu selalu bikin aku curiga, Bara. Selalu membuat aku merasa bahwa apa yang dikatakan banyak orang itu adalah benar." "Ini cuma masalah waktu aja dan tekat aku udah bulat. Nggak ada perubahan dalam perjanjian itu." "

