“Jadi, bagaimana, Dok? Kita bisa melakukan inseminasi sekarang, kan?” Bram memulai percakapan dengan nada antusias begitu ia, Mia, dan sekretarisnya, Maya, memasuki ruang praktik dokter Theo.
Dokter Theo meletakkan berkas yang sedang dibacanya, lalu menatap mereka dengan tenang. “Sebelumnya, saya perlu memastikan. Apakah kalian sudah siap sepenuhnya?” tanya dokter itu sambil menatap ke arah Bram.
“Tentu saja siap, Dok,” jawab Bram tegas tanpa ragu. Senyum optimis tersungging di wajahnya.
Dokter Theo mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke Mia. “Bagaimana dengan kamu, Mia? Apakah kamu juga siap untuk melanjutkan prosedur ini?” tanyanya.
Mia mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis.. “Saya siap, Dok.”
Setelah semua menyatakan siap, bukannya langsung memberikan lampu hijau, dokter Theo justru menatap mereka dengan sedikit ragu.
"Saya mengerti antusiasme kalian, tapi sayangnya, prosedur ini tidak bisa dilakukan sekarang.”
“Kenapa, Dok?" Bram mengernyitkan dahi, kebingungan. "Bukankah semua tes awal sudah kami jalani? Apa lagi yang kurang?” tanyanya, kali ini dengan nada sedikit mendesak.
“Kalian sudah melewati batas waktu satu bulan sejak pemeriksaan terakhir. Kami khawatir, jika langsung dilakukan inseminasi, peluang keberhasilannya akan lebih kecil. Oleh karena itu, kalian harus menjalani tes ulang terlebih dahulu," jelas Dokter Theo.
Bram menghela napas panjang, rasa frustrasi jelas terlihat di wajahnya. “Satu bulan itu bukan waktu yang lama, Dok. Lagipula, setahu saya, masa pemeriksaan kami belum genap sebulan. Baru beberapa minggu saja.”
“Saya mengerti keberatan kamu, Bram,” balas dokter Theo dengan nada tetap tenang. “Tapi, ini sudah menjadi standar prosedur kami. Tes ulang perlu dilakukan untuk memastikan kondisi tubuh kamu dan Mia dalam keadaan optimal.”
Bram menatap Mia, seolah mencari persetujuan. Mia hanya mengangguk, mencoba menenangkan Bram yang terlihat gusar. “Baiklah, Dok,” ujar Bram akhirnya. “Kalau memang itu prosedurnya, lakukan saja tes ulang sekarang.”
Dokter Theo mengangguk, lalu menekan bel di mejanya. Seorang suster masuk beberapa saat kemudian.
“Tolong antar mereka untuk pengambilan sampel,” perintahnya.
“Baik, Dok,” jawab suster itu sambil tersenyum ramah.
Mia dan Bram mengikuti suster keluar dari ruangan. Mereka dibawa ke sebuah area pemeriksaan. Suster itu menjelaskan bahwa Mia perlu berganti pakaian terlebih dahulu.
“Silakan, Bu Mia. Ruang gantinya ada di sebelah sini,” ujar suster itu sambil menunjuk sebuah ruangan kecil.
Mia memasuki ruangan berukuran sempit itu. Dinding kaca besar menghiasi salah satu sisinya, memberikan kesan terang dan sedikit membuatnya merasa sedang diawasi. Di dalam, ada jubah steril yang tergantung rapi. Mia berganti pakaian dengan perlahan, merasa sedikit canggung dengan situasi ini.
Setelah beberapa menit, suster masuk ke ruangan itu lagi. “Bu Mia, kata dokter Theo, Anda tidak perlu melakukan tes ulang. Cukup sampel dari Pak Bram saja yang diperlukan,” ujar suster itu dengan senyum kecil.
Mia mengernyit, bingung. “Kenapa begitu, Sus? Apa ada yang salah dengan hasil tes saya sebelumnya?”
“Tidak, Bu. Hanya saja, berdasarkan evaluasi terakhir, dokter Theo merasa cukup dengan sampel dari Pak Bram saja. Anda boleh berganti pakaian lagi,” jelas suster itu tenang.
Mia menurut, lalu kembali mengenakan pakaiannya semula. Ia kembali ke ruang dokter Theo dengan pikiran penuh tanda tanya. Bram masuk tak lama kemudian, wajahnya terlihat pucat, dan ia menyeka keringat di dahinya.
“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya Mia sambil menatap Bram yang tampak tidak nyaman.
Bram hanya menggeleng pelan, tidak memberikan jawaban. Dokter Theo yang duduk di belakang meja tersenyum tipis, seolah memahami situasi Bram tanpa perlu banyak bicara.
“Jadi, hasil tes ini akan keluar dalam waktu satu minggu. Setelah itu, jika semuanya baik-baik saja, kita bisa langsung melanjutkan ke prosedur inseminasi,” ujar dokter Theo, memecah keheningan.
Bram mengangguk cepat, masih terlihat sedikit gelisah. “Baik, Dok. Kami akan kembali minggu depan.”
“Bagus,” balas dokter Theo. “Saya harap kalian tetap menjaga kesehatan dan pola makan selama menunggu.”
Setelah beberapa basa-basi, Bram, Mia, dan Maya meninggalkan ruangan itu. Dalam perjalanan menuju parkiran, Bram tampak lebih pendiam dari biasanya. Mia merasa ada sesuatu yang aneh, tetapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Mia hanya berharap, semua ini tidak sia-sia. Entah apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati Bram, tetapi Mia tahu, ia harus tetap menjalankan perannya dalam perjanjian ini.
“Berhenti di depan,” titah Bram dengan nada tegas, memecah keheningan dalam mobil.
“Baik, Pak,” jawab supir pribadinya, menepikan mobil dengan perlahan ke bahu jalan.
Tanpa banyak bicara, Bram mengeluarkan dompetnya, mengambil dua lembar uang, lalu menyodorkannya kepada Mia yang duduk di sebelahnya.
“Kamu pulang naik taksi aja,” katanya singkat, menyerahkan uang itu ke tangan Mia.
Mia mengerutkan dahi, jelas bingung dengan perintah mendadak itu. “Kenapa saya harus turun di sini? Bukannya kita sama-sama pulang?” tanyanya heran.
Bram menghela napas berat, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. “Ada pertemuan penting yang harus saya hadiri. Saya tidak bisa terlambat, dan ini sudah hampir waktunya," jawabnya sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mia memandangi uang di tangan Bran dengan ragu. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Maya, sekretaris Bram yang duduk di depan, tiba-tiba menyela. “Pak, pertemuan hari ini sebenarnya sudah selesai. Tidak ada jadwal penting lagi sampai malam nanti, hanya ada undangan makan malam yang sifatnya santai.”
Maya mencoba memberikan penjelasan, tetapi tatapan tajam Bram melalui kaca spion langsung membungkamnya. Ia segera memahami isyarat dari bosnya dan memilih untuk diam.
“Udah, sana kamu pulang aja. Itu ongkosnya,” ujar Bram lagi, kali ini nadanya lebih dingin.
Mia hanya menghela napas panjang. Tanpa berkata-kata lagi, ia membuka pintu mobil dan turun. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Bram melirik ke arahnya, memastikan Mia benar-benar keluar. Begitu Mia berdiri di tepi jalan, mobil segera melaju meninggalkan dia sendirian.
Mia menatap mobil yang mulai menjauh dengan tatapan hampa. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mengapa Bram tiba-tiba bersikap seperti itu?
Sementara itu, di dalam mobil, Bram bersandar di kursinya, memejamkan
mata sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Pikirannya terasa penuh, sementara dadanya terasa sesak dengan perasaan yang sulit ia pahami.
Maya, yang memperhatikan kondisi Bram dari kursi depan, akhirnya bertanya, “Anda baik-baik saja, Pak? Wajah Anda terlihat pucat. Anda juga berkeringat banyak tadi.”
Bram membuka matanya sedikit, lalu menjawab pendek, “Saya baik-baik saja.”
“Tapi, Pak ....”
“Saya bilang saya baik-baik saja,” potong Bram dengan nada yang lebih keras, meski matanya tetap terpejam. Namun, dalam hatinya, ia tidak bisa menyangkal kenyataan kalau Mia yang membuat dia seperti ini.
"Sial."
Bram tidak pernah membayangkan bahwa momen di rumah sakit tadi bisa meninggalkan dampak sebesar ini pada dirinya. Saat Mia bersiap untuk pemeriksaan, entah bagaimana, pikirannya terus tertuju pada Mia, membuat Bram tidak bisa mengalihkan perhatian.