Bab 4. Pernikahan Tanpa Cinta

1023 Words
"Kamu nggak denger aku barusan ngomong apa? Mau aku pertegas lagi? Kamu istriku, tapi sebentar lagi aku akan menceraikan kamu. Jelas?" "Nggak lucu tau nggak. Cuma karna keturunan, kamu tega ngelakuin itu? Pokoknya aku nggak mau kita bercerai dan sampai kapan pun aku nggak mau menandatangani surat itu," seru Luna dengan amarah yang berapi-api. Bara hanya mengangkat bahu tidak perduli, lalu berjalan menaiki tangga, sambil menarik tangan Mia ikut bersamanya. Namun, Luna tidak menyerah, ia mengikuti Bara sambil terus mengajukan pertanyaan. “Siapa wanita ini? Apa dia pembantu baru yang kamu bawa? Kenapa kamu tiba-tiba membawanya ke rumah kita?” Bara menghentikan langkahnya di tengah tangga dan menoleh ke arah Luna. “Dia bukan pembantu. Dia istriku sama seperti kamu." Luna membeku di tempat. Matanya melebar tak percaya. “Apa? Kamu bercanda, kan? Kamu nggak mungkin mengkhianati aku, Bara. Ini cuma w************n yang kamu bayar untuk membuat aku cemburu. Iya, kan?" "Kamu denger semua yang aku katakan. Aku nggak perlu menjelaskan lebih dari satu kali, kan? Karna kalau kamu tanya lagi, jawaban aku tetap sama. Mia adalah istriku." Setelah menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan, Bara melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Mia mengikuti Bara dengan langkah berat. Kepalanya penuh dengan berbagai pikiran. Ia tidak menyangka pernikahan kontrak ini akan langsung dihadapkan dengan situasi yang begitu rumit. Terlebih status Bara yang ternyata sudah beristri. Setibanya di kamar yang akan Mia tempati, Bara menutup pintu, menguncinya dari dalam, lalu duduk di sofa dengan deru napas yang masih terengah-engah. "Mulai sekarang, jangan pedulikan Luna. Tugasmu adalah menjalankan perjanjian kita.” Mia berdiri di sudut kamar, merasa tidak nyaman. Dengan suara pelan ia bertanya, “Kenapa Anda tidak pernah memberi tahu saya bahwa Anda sudah memiliki istri? Anda menyakiti perasaannya." Bara menatapnya tajam. “Itu bukan urusanmu. Kamu hanya perlu menjalankan kontrak ini. Fokus pada tujuan kita, jangan melibatkan yang lain." Kata-kata Bara membuat Mia terdiam. Ia tahu dirinya tidak berhak protes. Semua ini demi keluarganya, terutama demi kesembuhan Ibunya yang masih sakit dan memerlukan banyak biaya. Sementara itu, di lantai bawah, Luna duduk di sofa dengan tangan mengepal. Wajahnya memerah menahan amarah. Dalam hatinya ia bersumpah. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu menang di rumah ini. Aku akan melakukan segalanya untuk mempertahankan posisi nyonya besar." Bukan lagi tentang cinta, tetap tentang harga diri. *** Mia sedang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan keras. Bara muncul tanpa mengetuk, membuat Mia langsung refleks menutupi dirinya dengan handuk yang melilit tubuhnya. "Kurang ajar. Apa yang Anda lakukan? Nggak punya sopan santun, masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Ini rumah Anda, tapi ini kamar saya." Mia berseru. Kesal sekaligus terkejut. Bara hanya berdiri di sana dengan tatapan tajam dan sikap dinginnya. “Banyak bicara kamu. Ini rumah saya. Kamu nggak punya hak buat aturan sendiri. Mau saya bongkar pintu ini sekali pun, nggak ada yang bisa ngelarang." Mia terdiam, tubuhnya gemetar. Setengah karena marah, setengah karena malu. Bara mengabaikan protes Mia, melangkah lebih dekat ke arah lemari. "Buang semua baju-baju itu. Besok kamu pergi sama Sekretaris Maya ke butik. Pilih baju baru, beli sebanyak-banyaknya. Jangan beli yang murah." Mia langsung membelalak. “Apa? Kenapa harus dibuang? Itu semua baju kesayangan saya! Saya nggak mau." Bara mendengus, wajahnya tetap tanpa ekspresi. “Saya nggak mau lihat kamu pakai baju-baju itu lagi. Saya nggak suka. Kumuh, lusuh, bau, dan ... udahlah nggak usah banyak protes." "Tapi saya nggak mau. Semua baju ini punya history masing-masing, banyak kenangannya. Saya tetap nggak mau membuangnya." “Peraturan saya nggak bisa diubah. Saya nggak peduli apa alasan kamu.” Setelah mengatakan itu, Bara berbalik dan melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup dengan suara keras, meninggalkan Mia dalam keadaan emosi, karena harus membuang semua bajunya. Malam itu, suasana di rumah terasa mencekam. Mia berbaring di tempat tidur, matanya menatap langit-langit tanpa fokus. Sementara itu, Bara duduk termenung di ruang tengah. Di tangannya ada gelas berisi minuman berkadar alkohol tinggi yang sudah dingin. “Kamu belum tidur, Sayang?” Luna mendekat ke arah Bara yang sedang duduk di mini bar, memeluknya erat dari belakang sambil menempelkan pipinya di punggung pria itu. Suaranya terdengar lembut juga menggoda. “Kamu pasti nungguin aku. Yuk ke kamar, aku akan memanjakan kamu malam ini.” Bara meneguk sisa minuman di gelasnya tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. “Nggak. Aku nggak nungguin kamu,” jawabnya dingin. “Aku cuma istirahat di sini. Hari ini cukup melelahkan bersama gadis itu." Luna melepaskan pelukannya. Raut wajahnya yang semula penuh senyum berubah masam. Ia berputar ke depan, berdiri di samping Bara sambil menatapnya penuh curiga. “Melelahkan? Maksud kamu apa? Ngapain kamu sama gadis itu? w*************a nggak tau malu." Bara mengangkat alis, lalu menatap Luna dengan tajam. “Dia istriku, Luna. Bukan w*************a seperti yang kamu bilang,” ucapnya tajam. “Kalau kamu mau tau siapa yang sebenarnya penggoda di sini, nggak lama lagi kamu akan tau.” Wajah Luna memucat. Kata-kata Bara menghantamnya tepat sasaran. Tetapi Luna tetap mencoba menguasai situasi, meski senyumnya terlihat dipaksakan. “Sayang, aku tau aku salah. Aku minta maaf, ya? Tapi... soal anak itu, aku udah bilang, kan? Punya anak itu merepotkan. Dia akan mengganggu kebersamaan kita,” ujarnya mencoba membela diri. Bara menyeringai sinis, merasa muak dengan alasan yang sama berulang kali. “Kebersamaan kita? Atau kebersamaan kamu sama pria lain?” tanyanya dengan nada tajam. Luna terdiam, tampak gelisah. Ia tahu Bara tidak bicara sembarangan. “Aku nggak ngerti maksud kamu, Bara,” sahut Luna dengan suara bergetar, mencoba menepis ketegangan yang kini menggantung di antara mereka. Bara menatapnya tajam. “Jangan pura-pura bodoh, Luna. Aku tau semuanya dan aku udah lelah. Kamu nggak pernah mau punya anak karena kamu nggak peduli sama aku atau pernikahan ini. Yang kamu pedulikan cuma dirimu sendiri, karir kamu, kesenangan kamu, dan ...." "Dan apa?" Bara diam untuk beberapa saat, lalu kembali bicara. "Nanti, kalau saatnya sudah tiba, kamu akan tau." "Bara." Luna mencoba menyela, tetapi Bara mengangkat tangan, menyuruhnya untuk diam. “Cukup, Luna. Kita nggak perlu berpura-pura lagi, aku udah muak, aku juga udah menikah lagi. Suka nggak suka, nggak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubahnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD