"Selamat, hasilnya bagus." Dokter Theo membuka percakapan dengan senyum ramah. "Mia dalam keadaan subur dan Pak Bara memiliki kualitas s****a yang sangat baik. Kalian bisa melakukan inseminasi secepatnya."
Mia dan Bara yang duduk di depan meja dokter mendengarkan dengan serius. Mia menunduk, menghindari tatapan Bara. Dalam pikirannya, semakin cepat dia hamil, semakin cepat pula perjanjian ini berakhir. Di sisi lain, Bara terlihat puas. Akhirnya, impiannya untuk punya keturunan akan segera terwujud.
Akan tetapi, suasana tenang itu segera terusik ketika Dokter Theo melanjutkan. "Tapi kenapa harus inseminasi, Bara? Kalian bisa punya keturunan secara alami. Mia masih virgin, loh," ucapnya santai.
Mata Bara dan Mia langsung menatap sang dokter dengan ekspresi yang sulit diartikan. Mia yang awalnya hanya menunduk kini menatap Dokter Theo dengan kening berkerut, sementara Bara terlihat jelas tidak nyaman dengan arah pembicaraan itu.
Melihat reaksi mereka, Dokter Theo buru-buru menambahkan, "Maksud saya, secara alami akan jauh lebih baik dan ... lebih cepat sebenarnya."
"Saya tidak mau, Dokter," jawab Bara dengan nada tegas. "Saya tidak mungkin menyentuhnya."
Mendengar ucapan itu, Mia hanya tersenyum kecil, senyum yang lebih menyerupai ejekan. “Dokter, jangan Anda minta Pak Bara menyentuh wanita miskin seperti saya! Terlalu menjijikkan,” katanya datar, tanpa emosi.
Bara melirik Mia sekilas, kemudian menatap lurus ke arah dokter. “Saya tidak butuh tubuhnya. Saya hanya ingin keturunan. Itu bisa dilakukan tanpa harus ada kontak fisik.”
Dokter Theo menghela napas, merasa perdebatan itu tidak masuk akal. "Ya, ya, saya mengerti. Tapi, nggak lucu juga kalau kesucian seseorang hilang hanya karena prosedur medis," katanya setengah bercanda, mencoba mencairkan suasana.
Mia menatap Dokter Theo dengan dingin. "Saya tidak mempermasalahkan itu, Dok. Yang penting perjanjian ini selesai. Alat medis atau tidak, itu tidak penting."
"Sudahlah, Dokter!” potong Bara. "Tidak perlu dibahas lagi. Intinya, saya ingin keturunan dan kami akan melakukannya dengan cara ini."
Dokter Theo akhirnya menyerah. "Baiklah. Setelah kalian menikah, segera kembali menemui saya untuk memulai prosedurnya."
Perjalanan pulang dari rumah sakit diisi dengan keheningan yang canggung. Mia duduk di kursi samping kemudi, memandang keluar jendela dengan pikiran bercabang, sementara Bara menyetir dengan wajah serius.
“Pernikahan kita dipercepat. Besok kita menikah.” Keheningan itu akhirnya pecah ketika Bara membuka suara.
"Besok? Kok tiba-tiba banget, Pak?” Mia menoleh dengan terkejut.
"Semakin cepat, semakin baik. Tidak ada alasan untuk menunda lagi.” Bara tetap fokus pada jalan di depannya.
“Tapi ... dalam perjanjian itu, pernikahan kita akan berlangsung minggu depan. Kenapa jadi besok? Saya juga butuh persiapan, setidaknya beri saya waktu beberapa hari lagi.”
“Tidak ada yang perlu dipersiapkan, semua sudah saya atur. Kamu hanya perlu datang dan menjalani upacara. Jangan lupa bawa salah satu anggota keluargamu sebagai syarat."
"Anda pikir itu mudah? Saya juga butuh waktu untuk–"
“Untuk apa? Untuk berpikir ulang? Untuk mencoba kabur? Jangan buang-buang waktumu untuk merencanakan itu.” Bara memotong dengan nada dingin.
“Saya tidak mencoba kabur,” balas Mia, suaranya sedikit gemetar. “Tapi setidaknya beri saya waktu untuk mempersiapkan mental saya.”
“Tidak ada waktu untuk itu,” Bara menjawab dengan tegas. “Besok pagi, kita menikah! Titik.”
Mia kembali memalingkan wajahnya ke jendela, menahan rasa sesak di dadanya. Dalam hati, ia bertanya-tanya bagaimana hidupnya bisa berubah drastis seperti ini. Terlalu mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari pada berada di tepi jurang.
***
Mia meminta waktu dua hari untuk berbicara dengan pamannya, satu-satunya anggota keluarga yang tahu tentang rencana pernikahan ini. Paman Mia awalnya menentang keputusan tersebut, tetapi setelah mendengar alasan dan kondisi mendesak, dia akhirnya menyetujui. Mia tahu keputusan ini penuh risiko, tetapi dia merasa tidak punya pilihan lain demi membantu keluarganya.
Di sisi lain, ibunya tidak tahu apa-apa tentang perjanjian dengan Bara. Yang diketahui ibunya bahwa Mia meminjam uang dari seorang teman. Ya, Mia memilih merahasiakan semuanya, khawatir ibunya akan terbebani atau justru tidak setuju dengan keputusan besar yang diambilnya.
“Tenang saja, Bu Mia,” kata Maya seraya menenangkan Mia yang terlihat sangat terbebani dengan keadaan ini . “Semua akan berjalan lancar. Lagi pula, Pak Bara itu pria yang sangat baik, beliau tidak seburuk yang Anda pikirkan."
Mia hanya mengangguk pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari cermin besar yang ada di depannya. Ia merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh Bara, sesuai dengan kehendaknya.
“Sudah siap?” Suara Bara tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
Maya membuka pintu sedikit dan mengintip. “Tunggu sebentar, Pak! Bu Mia sedang bersiap.”
Beberapa menit kemudian, Mia melangkah keluar. Bara, yang mengenakan setelan jas hitam elegan, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, terpesona akan kecantikan Mia yang mendekati kata sempurna. “Bagus. Kamu terlihat cantik."
Mia mengernyit mendengar ucapan itu, tetapi memilih untuk diam. Penghulu sudah duduk dengan tenang, mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh kewibawaan. Di samping pelaminan, paman Mia terlihat serius, menatap ke arah prosesi dengan sorot mata yang sulit ditebak. Suasana di ruangan itu dipenuhi harapan dan ketegangan, hingga akhirnya momen yang ditunggu pun tiba, akad pernikahan resmi dilangsungkan, akhirnya Bara dengan Mia resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama.
Pernikahan berlangsung khidmat di sebuah hotel mewah. Usai Mia berpamitan dengan pamannya, Bara segera membawa sang istri pulang ke rumah tanpa banyak kata, meninggalkan gemerlap acara di belakang mereka.
"Ini rumah Anda?” tanya Mia sambil memandangi bangunan megah begitu ia sampai di depan sebuah bangunan megah.
“Iya,” jawab Bara singkat sambil melangkah keluar dari mobil.
Mia menatap rumah besar itu dengan kagum, tetapi rasa gugup menggelayut di dadanya. Dia baru saja menikah secara siri dengan Bara. Namun, pernikahan ini hanyalah bagian dari perjanjian kontrak. Rumah yang besar dan megah itu kini menjadi tempat tinggal barunya, meskipun ia merasa asing dengan semua ini.
Begitu Bara membuka pintu utama, suara langkah cepat mendekat terdengar dari dalam. Seorang wanita cantik muncul, tubuhnya semampai dengan rambut ikal yang tergerai sempurna. Tanpa ragu, wanita itu memeluk Bara erat, lalu mengecup bibirnya.
“Dari mana aja, Sayang?” tanya wanita itu manja, bergelayut di lengan Bara, seolah tidak tahu bahwa ada orang lain dan dua pengawal yang menyaksikan adegan itu.
Bara tidak menjawab, hanya berjalan masuk begitu saja dengan ekspresi dingin. Mia diam di tempatnya, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Wanita itu menatap Mia dengan tatapan sinis, kemudian bertanya dengan nada tajam, “Kamu siapa?”
“Saya Mia, Mia Karina,” jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
Wanita itu malah mengernyit tidak suka, lalu menepis tangan Mia. “Berani banget kamu coba kenalan sama aku. Memangnya kamu siapa?" tanyanya lagi dengan nada menghina.
Mia mengerutkan kening, merasa bingung sekaligus tidak nyaman. Sebelum ia sempat menjawab, wanita itu berkata lagi dengan penuh rasa percaya diri, “Saya Luna, Nyonya di rumah ini!”
Mia membeku. Kata-kata itu menghujam dadanya. "Nyonya rumah? Apa maksudnya dia adalah nyonya di sini?" batin Mia bergumam, hatinya diliputi kebingungan dan kecemasan.
"Jadi, siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu lakukan di rumahku?” tanyanya sambil melipat tangan di depan d**a. Melihat Mia yang diam saja, Luna semakin angkuh.
Bara yang sejak tadi tidak menggubris percakapan itu, tiba-tiba kembali mendekati mereka. Dengan nada tegas, ia berkata kepada Mia, “Jangan pedulikan dia! Fokus pada tugasmu. Kamu hanya menerima perintah dariku, bukan dari siapa pun.”
Mia mengangguk pelan, meski masih dipenuhi tanda tanya. Namun, Bara yang merasa Mia memang perlu tahu siapa Luna, akhirnya bicara dengan suara dingin, “Dia adalah istriku, tapi sebentar lagi … aku akan menceraikannya.”
Luna yang mendengar pernyataan itu, langsung bereaksi keras. “Apa maksudmu, Bara!? Kenapa kamu bilang kayak gitu di depan wanita ini?"