Tentu saja penawaran Bara tak bisa Mia simpan sendiri. Dia pun menceritakan pada Panji–kekasihnya yang langsung menemui Bara karena tidak terima atas apa yang dilakukan atasannya itu.
"Kenapa Anda buat perjanjian sama pacar saya? Saya tidak pernah meminta Anda melakukan itu!” Panji menatap tajam. Kemarahan tampak jelas dari raut wajahnya. Memang benar dia menceritakan semua masalah Mia pada Bara. Hanya saja, bukan hal seperti itu yang Panji inginkan sebagai bantuan. Itu jauh dari apa yang ada di pikirannya.
"Kamu ini karyawan yang tidak tahu diri, ya? Bukannya terima kasih karena saya udah bantu masalah pacar kamu, tapi ini datang ke ruangan saya malah marah-marah." Bara meletakkan pena, bersandar dengan santainya, menganggap sepele kemarahan Panji.
“Membantu?” Panji mengepalkan tangannya menahan amarah. “Tapi meminta pacar saya menikah dengan Anda. Itu yang Anda sebut membantu?”
Bara menyeringai tipis, seakan menikmati kemarahan Panji. “Jelaslah! Bukannya uang saya berhasil menyelamatkan calon Ibu mertuamu dari kematian, tentu saya meminta imbalan dari pacar kamu. Lagi pula, di dunia ini mana ada yang gratis? Kamu numpang bersin di toilet umum saja harus bayar."
"Saya tidak rela Anda menikahi pacar saya dan saya tidak akan pernah membiarkan itu!” Panji semakin kesal mendengar perkataan Bara yang begitu menjengkelkan.
"Mudah saja. Kalau Mia atau kamu bisa mengembalikan uang DP rumah sakit dalam waktu 24 jam, saya akan membatalkan perjanjiannya.”
Panji terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Bara. “Satu kali 24 jam?” desisnya.
Bara mengangguk pelan. “Ya, kalau Mia bisa melunasinya, dia bebas. Tapi kalau tidak, kita tahu kesepakatan itu harus tetap berjalan.”
"Anda mengatakan itu karena Anda tahu kami tidak akan sanggup, ‘kan?" kata Panji sambil menatap Bara dengan penuh kebencian. “Anda benar-benar keterlaluan."
Bara kembali menyandarkan tubuhnya, masih dengan senyuman sinis. “Tidak perlu banyak bicara! Silakan kalau kamu sanggup, saya tunggu uangnya besok!”
Panji menggertakkan giginya, menatap Bara dengan penuh emosi, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Bara bukan orang biasa, sedangkan dia hanyalah seorang cleaning service.
“Baiklah, saya akan mengembalikan uang itu." Panji pun mengiakan meski dirinya tak yakin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu hari. Namun, dia tidak punya pilihan lain, apa pun akan dia lakukan demi menyelamatkan kekasihnya. Mau bagaimanapun, semua ini adalah salahnya, harusnya dia tidak menceritakan masalah Mia pada Bara.
***
Hari yang sangat dinanti oleh Bara akhirnya tiba. Ya, hari ini, tepat 24 jam dari waktu yang sudah ditentukan oleh Bara pada Panji. Sejak tadi, Bara sudah memikirkan bahwa dirinya akan menang karena rasanya mustahil jika Panji bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam sehari.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Maya–sekretaris Bara yang baru saja masuk setelah dipanggil melalui interkom.
“Bagaimana dengan jadwal pernikahan saya dan Mia? Apakah peninjauan proyek yang sedang kita kerjakan akan jadi penghambat?”
Maya terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Sepertinya iya, Pak. Peninjauan proyek akan memakan waktu hampir satu minggu. Tapi, apakah Anda yakin kalau Panji tidak akan mengembalikan uang Anda?”
“Kita lihat saja nanti, tapi saya yakin dia tidak akan bisa mendapatkan uang itu.”
Baru selesai mengatakannya, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba, Panji datang bersama Mia yang seperti tidak senang dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Pria itu membawa satu amplop tebal berisikan uang di tangannya.
“Anda tidak bo–”
“Biarkan saja, Maya! Kamu boleh keluar!”
Maya pun patuh. Dia berjalan keluar, meninggalkan atasannya bersama Mia dan Panji.
“Ada apa? Apa kalian sudah dapat uangnya?” Masih duduk di kursi kebesarannya, Bara bertanya dengan wajah dingin. Matanya sejak tadi sudah mengamati sebuah amplop tebal di tangan Panji.
“Mas, jangan berikan uang itu! Aku mohon, beli kembali rumah orang tuamu yang sudah kamu jual, Mas!” Mia tidak mau karenanya, semua orang di sekitarnya ikut menderita, apalagi uang yang Panji bawa untuk mengembalikan uang Bara adalah hasil dari penjualan rumah ibunya. Bagaimana nanti Panji dan ibunya tinggal kalau rumah itu dijual?
"Berhenti berdebat di depan saya!" Bara akhirnya bersuara. "Saya tidak peduli dengan semua masalah kalian. Saya hanya ingin memastikan, bagaimana kelanjutannya?”
Sebelum Panji sempat menjawab, Mia angkat bicara lebih dulu. “Saya terima kontrak itu. Kapan kita mulai?”
Mendengar jawaban Mia, senyum kecil Bara terulas singkat. Pria itu pun terlihat menghubungi seseorang lewat sambungan interkom, lalu kembali menatap Mia dengan senyum penuh kemenangan.
“Tidak, Mia. Aku tidak rela kamu menikah sama dia. Tolong, jangan keras kepala! Masalah rumah, gampang, aku bisa memikirkannya nanti.” Panji memegang kedua tangan Mia. Masih berharap kekasihnya itu mau mendengarkan permintaannya.
“Maaf, Mas, tapi aku tidak mau kamu mengorbankan tempat tinggal ibumu hanya untuk menyelamatkanku.”
Pintu ruangan kembali terbuka, Maya masuk diikuti dua pengawal pribadi Bara. Panji dan Mia pun terkejut saat melihat kedatangan mereka.
"Usir cleaning service ini dari hadapan saya!”
Panji berontak. “Lepaskan saya! Mia, tolong, aku mohon, terima uang ini! Jangan mau menikah sama dia, Mia!” Sambil dibawa pergi secara paksa oleh dua pengawal Bara, Panji terus berteriak.
"Maafin aku, Mas. Kamu harus beli lagi rumah orang tuamu yang sudah kamu jual, Mas!”
Bara pun melanjutkan perintahnya pada Maya tanpa menggubris Panji. “Maya, urus juga pemecatan dia! Berikan pesangon seadanya. Jangan biarkan dia berkeliaran di perusahaan lagi, apalagi muncul di hadapan saya!”
“Baik, Pak.” Setelah menjawab perintah Bara, Maya pun menyusul Panji yang terus diseret paksa keluar ruangan.
Panji akhirnya berhasil diseret paksa hingga keluar dari ruangan, meninggalkan Mia yang hanya bisa menatapnya dengan penuh air mata.
“Mia, aku akan tetap menunggu kamu!” Meski sudah keluar, suara teriakan Panji masih terdengar jelas di telinga Mia. Membuat air mata sulit tertahan untuk terus menetes.
Di saat Mia kembali menghadap ke depan, dia cukup terkejut saat Bara sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Masih belum puas nangisnya?” tanya Bara dingin.
Mia mengusap air mata dengan punggung tangan, lalu mengangkat wajahnya yang pucat.
Bara tersenyum kecil, merubah posisi duduknya, menyamping. “Saya ini justru sedang membantu kamu. Kamu butuh uang untuk operasi ibumu, bukan? Saya memberikan kamu solusi.”
“Tapi kenapa harus dengan cara ini, Pak? Apa tidak cara lain?”
“Apa yang sulit, Mia? Saya hanya butuh kamu melahirkan anak untuk saya. Setelah anak itu lahir, kamu bebas pergi. Kamu bisa kembali ke pria miskin itu, hidup bahagia, dan melupakan semua ini.”
Mia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. “Anda nggak akan pernah mengerti, Pak. Anda nggak tahu rasanya mencintai seseorang dan dipaksa meninggalkannya.”
Bara mengangkat alis. “Kamu salah. Saya tahu persis rasanya. Saya pernah mencintai seseorang dan tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang terdekat.”
Mia tertegun. Ia tidak menyangka Bara akan mengucapkan hal itu, tetapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Bara mengeluarkan handphone, lalu memanggil Maya melalui sambungan telepon.
"Masuk lagi! Bawa dokumen kontrak untuk Mia!" perintah Bara, suaranya terdengar tegas dan penuh wibawa.
Tak lama kemudian, Maya pun masuk ke ruangan dan langsung menyerahkan dokumen yang Bara minta. "Ini berkasnya, Pak."
Bara pun mulai melangkah menuju sofa tunggu yang memang tersedia di sana. Dia pun duduk dan meminta Mia untuk mengikutinya.
“Silakan baca kontrak ini!”
Mia berjalan ragu. Duduk di seberang Bara sesuai perintahnya. Mia tampak menarik napas panjang, sebelum mengambil pena untuk menandatangani semua halaman pada kontrak itu. Tanpa bertanya atau membaca isi dokumen tersebut, dia benar-benar melakukannya. Meski tidak tahu apa keputusannya benar, Mia meyakini bahwa semua yang dia lakukan adalah demi ibu dan kekasihnya.
Maya yang memang masih ada di ruangan itu terus memperhatikan Mia dengan sedikit ragu. “Anda tidak ingin membacanya dulu?” tanyanya dengan nada hati-hati.
Mia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Maya dengan senyum kecil yang dipaksakan. “Membaca atau tidak, hasil akhirnya tetap sama, bukan? Saya harus melakukannya.”
Maya tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah Bara yang duduk diam memperhatikan keduanya.
Setelah tanda tangan terakhir, Mia menyerahkan dokumen itu kembali kepada Maya. "Sudah selesai," katanya singkat, suaranya terdengar datar.
Bara mengangguk puas. "Bagus. Besok kita akan memulai langkah pertama."
"Apa?" Dahi Mia mengerut.
“Pemeriksaan di dokter kandungan,” jawab Bara. “Rumah Sakit Abdurrahman, pukul sembilan pagi.”
Mia menundukkan kepala, mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa berat. Ia tidak menyangka prosesnya akan dimulai secepat ini.
“Setelah pemeriksaan … jika hasilnya menunjukkan bahwa kamu subur, kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya.”
Maya yang merasa perlu memberikan penjelasan tambahan, menimpali, “Tahap berikutnya adalah pernikahan, kemudian inseminasi atau prosedur bayi tabung sesuai kondisi yang paling memungkinkan.”
Mia menatap keduanya bergantian, mencoba mencerna informasi itu. “Bagaimana kalau ternyata hasilnya ... jelek?”
“Jelek bagaimana maksud kamu?” Bara menatap Mia dengan ekspresi datar, sementara Maya menoleh, menunggu jawaban Mia.
“Kalau ternyata saya tidak subur. Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan saya tidak bisa hamil?”
“Kalau begitu, perjanjian ini batal,” kata Bara akhirnya. “Saya tidak akan memaksakan sesuatu yang tidak bisa diwujudkan.”
"Jadi, semuanya akan selesai begitu saja?” tanyanya lagi, setengah tidak percaya.
“Tidak semudah itu,” Bara menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, tatapannya tidak lepas dari Mia. " Saya tidak mungkin melepaskan kamu begitu saja. Kamu tahu berapa uang yang sudah saya keluarkan buat biaya rumah sakit Ibu kamu? Lebih dari 100 juta!”
"Lalu, apa harus saya lakukan kalau saya tidak bisa hamil?"
"Layani saya seumur hidupmu!”
Mia tercekat kaget. Rasanya, hidupnya seperti berakhir pada detik itu. Hidup yang sudah tak lagi bisa dia miliki sepenuhnya.