“Bara! Kamu sadar atas apa yang sudah kamu lakukan?” Suara Hermanto menggelegar, memenuhi setiap sudut ruangan seperti gemuruh badai. “Meeting kemarin kacau karena kamu tidak hadir. Sekarang kita kehilangan klien besar, kontrak berikutnya terancam gagal! Apa menurutmu kamu masih pantas dianggap sebagai direktur utama di perusahaan ini?" kamu masih pantas disebut anak saya?" Map di tangannya dibanting ke meja. Suara keras itu membuat semua peserta rapat tersentak, menunduk dalam diam. Tidak ada yang berani menatap Hermanto, apalagi Bara yang duduk di ujung meja dengan wajah dingin, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Hermanto memicingkan mata, menatap anaknya dengan tajam. “Bara, aku bicara denganmu!” Bara tetap diam, matanya menatap kosong ke meja di depannya. Di dalam kepalanya, sebuah a

