Pagi itu, Bara terbangun dengan kepala berat, seolah baru saja melewati malam panjang yang penuh kebingungan. Cahaya matahari masuk dari celah-celah gorden, menerpa wajahnya yang masih terlihat kusut. Ia membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke samping. Namun, tempat tidur di sebelahnya kosong. Selimut di sisi itu sudah rapi, seperti Mia sengaja membereskannya sebelum pergi. Bara duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Pandangannya beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Sial," gumamnya, menyadari ia bangun terlambat. Baru saja akan beranjak, ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas berdering. “Ya, Maya?” suaranya serak ketika menjawab panggilan dari sekretarisnya. “Pak Bara, saya mengingatkan meeting dengan pihak asuransi terkait kebaka

