“Ayah, kenapa tiba-tiba bikin acara liburan perusahaan tanpa kasih tahu aku?” suara Bara meninggi, matanya menatap tajam Hermanto yang duduk di ujung meja meeting. Hermanto, ayahnya, hanya tersenyum tipis. “Ini bukan mendadak, Bara. Liburan ini sudah direncanakan sejak minggu lalu.” “Minggu lalu?” Bara mengernyit. “Kenapa aku nggak tahu?” “Kamu aja yang nggak cari tahu,” jawab Hermanto santai. Bara mendengus, jelas tidak puas. “Bukan aku yang nggak cari tahu, tapi kalian yang sengaja merencanakan ini di belakang aku. Aku yang memimpin perusahaan ini, Ayah. Tapi aku sendiri nggak tahu soal rencana besar kayak gini.” Hermanto meletakkan kedua tangannya di meja, nadanya tetap tenang meski Bara tampak emosi. “Udahlah, Bara. Ini kan cuma liburan perusahaan, bukan proyek besar atau urusan k

