“Yang mau menduda, selamat ya!” ucap Dimas dengan nada bercanda sambil mengulurkan tangan ketika masuk ke dalam ruang kerja Bara. Bara hanya melirik sekilas tanpa menanggapi, lalu kembali menunduk menatap dokumen di mejanya. Raut wajahnya terlihat kosong, membuat Dimas mengangkat alis. “Eh, kenapa bengong? Momen bahagia ini jangan dilewatkan dengan melamun dong,” kata Dimas sambil menarik kursi dan duduk di depan Bara. Bara mendesah pelan, lalu tersenyum kecil, meskipun senyum itu terasa dipaksakan. “Nggak apa-apa,” jawabnya singkat. Dimas tidak mudah percaya. Ia menatap Bara dengan mata menyelidik, mencoba membaca pikiran temannya. “Jujur aja, kenapa pagi ini kamu kelihatan... Burung?” katanya, sengaja salah ucap untuk memancing Bara tertawa. Bara menggeleng sambil terkekeh kecil. “M

