Bab 1 — Salah Gedung, Salah Nasib
Senin pagi selalu punya satu tujuan mulia: menguji mental mahasiswa.
Dan pagi itu, "Kampus Negeri Widya Guna" memilih Aisyah Humaira sebagai korban utama.
“Bangunlah wahai penulis magang…”
Suara alarm HP itu menggema dari bawah bantal.
Aisyah membuka mata pelan.
Lalu langsung menyesal sudah bangun.
"Siapa sih yang bikin alarm nyebelin kayak gini..."
Ia mengucek mata.
Lalu terdiam.
"Oh iya. Saya sendiri."
Benar. Alarm itu memang direkam sendiri oleh Aisyah tiga minggu lalu, tepat setelah salah satu pembaca novel online nya di Dreame berkomentar:
“Kak endingnya bagus. Tapi kenapa tokoh cowoknya ketabrak truk tahu bulat?”
Sejak hari itu Aisyah mengalami krisis identitas sebagai penulis.
Ia meraih HP.
22 notifikasi Dreame.
3 chat Salsa.
1 chat Dinda.
Dan satu pesan dari ibunya:
“Jangan lupa sarapan.”
Yang tentu saja langsung diabaikan seperti notifikasi update aplikasi.
Mata Aisyah membelalak saat melihat jam.
07.12.
“KELAS FISIKA JAM TUJUH TIGA PULUH!”
Aisyah melompat dari kasur dengan gerakan yang secara ilmiah mirip ayam kaget mendengar petasan.
Lalu dimulailah ritual sakral mahasiswa kesiangan:
lari ke kamar mandi sambil nabrak kursi, pakai jilbab sambil gigit roti, dan mencari barang dengan teori kuantum — ada tapi tidak bisa ditemukan.
untung Dia sedang halangan, jadi tidak harus terjeda qodho sholat subuh.
Lima menit kemudian, Aisyah sudah berdiri di depan cermin.
Kaus kaki kanan hitam.
Kaus kaki kiri abu-abu bergambar panda.
“Bodo amat.”
Ia memasukkan barang ke tas secara brutal:
novel romance, charger laptop, mukena, sendok, lip balm, dua pulpen, dan entah kenapa remote TV.
Tapi satu benda penting tertinggal.
Kalkulator scientific.
Yang baru disadarinya nanti. Tentu saja.
---
Kampus Negeri Widya Guna pagi itu ramai seperti pasar malam yang diberi akses WiFi gratis.
Di depan gerbang ada mahasiswa demo parkiran.
“PARKIR MAHAL ADALAH PENJAJAHAN!”
Di sebelahnya tukang cilok debat politik dengan mahasiswa filsafat.
“Negara ini rusak karena orang nggak suka cilok isi telur!”
“Bukan, Pak. Ini akibat kapitalisme.”
“Kapitalisme apa? Kamu utang cilok tiga ribu belum bayar.”
Sementara itu organisasi kampus berjejer membuka stand seperti sales kartu perdana.
“Gabung Mapala, Kak!”
“Masuk komunitas debat!”
“UKM panahan buka pendaftaran!”
“Lembaga penelitian mahasiswa!”
“Komunitas pecinta ikan cupang!”
Aisyah baru berjalan tiga langkah sudah dicegat empat brosur dan satu orang yang menawarkan pelatihan public speaking syariah.
“Aku cuma mau lewat…” katanya lemas.
Di bawah pohon dekat gedung MKWU, Salsa melambaikan tangan heboh.
“AISYAAAH!”
Suaranya membuat dua burung gereja pindah domisili.
Salsa adalah tipe manusia yang kalau minum kopi bukan jadi melek, tapi jadi konser.
Sementara di sampingnya ada Dinda yang duduk tenang sambil membaca buku psikologi dengan aura mahasiswa paling stabil sedunia.
“Kamu telat lagi,” kata Dinda.
“Aku tadi perang melawan eksistensi.”
“Kamu perang lawan alarm kalah.”
Salsa langsung merangkul Aisyah dramatis.
“Tau nggak? Fakultas teknik punya dosen muda ganteng!”
Dinda menutup bukunya pelan.
“Kuliah itu tempat mencari ilmu, bukan mencari ayang.”
Aisyah membuka tas.
“Aku mencari colokan.”
“Prioritas hidupmu menyedihkan,” kata Dinda.
“Aku penulis novel. Hidupku memang dibangun dari penderitaan.”
---
Mereka berjalan menuju gedung MKWU.
Hari itu jadwal paling menyeramkan bagi Aisyah dimulai.
Fisika Dasar.
Mata kuliah wajib umum yang menurut Aisyah seharusnya dikategorikan sebagai uji ketahanan mental.
“Aku anak sastra,” keluhnya. “Kenapa harus belajar fisika?”
Dinda menjawab santai, “Karena negara belum menemukan cara menyiksa mahasiswa yang lebih efisien.”
Saat masuk kelas, Aisyah langsung merasa salah spesies.
Mahasiswa lain membuka laptop.
Mengeluarkan kalkulator scientific mahal.
Ada yang bahkan membawa penggaris transparan panjang seperti mau membangun jembatan.
Sementara Aisyah…
mengeluarkan novel “Cinta di Ujung Samudra.”
Mahasiswa cowok di depannya melirik.
“Kamu salah kelas?”
“Saya salah nasib.”
Aisyah duduk di sebelah Salsa dan Dinda.
Lalu mulai panik kecil saat sadar sesuatu.
“KALKULATORKU KETINGGALAN.”
Salsa melihat isi tasnya.
“Ada sendok.”
“Itu buat apa?”
“Aku juga pengen tahu.”
Dinda menghela napas panjang.
“Kalau suatu hari kamu hilang di hutan, yang selamat bukan kamu. Tapi komedi.”
---
Suasana kelas mulai berubah saat beberapa mahasiswa membicarakan dosen fisika mereka.
“Dosennya killer.”
“Katanya pernah bikin mahasiswa nangis.”
“Katanya hafal rumus sambil merem.”
“Katanya kalau marah suhu ruangan turun.”
“Katanya tugasnya lebih berat dari hubungan tanpa status.”
Aisyah makin pucat.
“Aku mau pindah jurusan aja.”
“Ke mana?” tanya Dinda.
“Tata boga.”
“Kamu masak mie aja gosong.”
“Ya Allah benar juga.”
Salsa malah makin semangat.
“Kalau dosennya ganteng dingin gitu biasanya backstory-nya tragis.”
“Kenapa hidupmu kayak sinopsis drama Korea?” kata Dinda.
“Aku hidup dari delusi.”
Pintu kelas tiba-tiba terbuka.
Dan seluruh ruangan langsung diam.
Seorang pria masuk dengan langkah tenang.
Kemeja rapi.
Kacamata tipis.
Wajah dewasa.
Tatapan tajam tapi tidak galak.
Usianya jelas bukan dosen muda lagi, tapi justru itu yang membuat auranya makin berbahaya. Seperti bapak-bapak intelektual yang bisa menjelaskan teori relativitas sambil memperbaiki galon bocor.
Beliau meletakkan buku di meja.
Lalu menatap kelas tanpa suara.
Aneh.
Padahal beliau belum bicara apa-apa, tapi seluruh ruangan langsung tertib.
Bahkan mahasiswa paling belakang yang tadi makan ciki perlahan menyimpan bungkusnya seperti narapidana menyerahkan barang bukti.
“Selamat pagi,” ucap beliau tenang.
“Pagi, Pak…” jawab kelas serempak.
“Nama saya Dr. Fathurrahman. Untuk semester ini saya mengajar Fisika Dasar.”
Suara beliau rendah dan stabil.
Tipe suara yang cocok jadi dosen. Atau narrator dokumenter tentang black hole.
Aisyah langsung duduk tegak.
Insting bertahan hidupnya aktif.
Dr. Fathur menulis sesuatu di papan tulis dengan tulisan rapi yang menyakitkan harga diri mahasiswa.
FISIKA DASAR
Lalu beliau berbalik.
“Fisika sebenarnya sederhana.”
Mahasiswa mulai mencatat serius.
“Yang membuat sulit biasanya rasa malas dan overthinking mahasiswa.”
Beberapa mahasiswa langsung menunduk merasa tertampar secara spiritual.
Aisyah ikut pura-pura menulis padahal kertasnya kosong.
Dr. Fathur mulai menjelaskan aturan kelas.
Tidak boleh terlambat.
Tidak boleh mencontek.
Tidak boleh titip absen.
Dan tidak boleh tidur saat kelas berlangsung.
Kalimat terakhir itu membuat Aisyah refleks meneguk ludah.
Karena semalam dia tidur jam dua pagi gara-gara revisi novel.
Di tengah penjelasan, Dr. Fathur berjalan melewati bangku mahasiswa.
Tatapannya tajam seperti scanner bandara.
Lalu beliau berhenti sebentar di dekat meja Aisyah.
Melihat novel “Cinta di Ujung Samudra” yang belum sempat disembunyikan.
Aisyah buru-buru menutup buku itu.
Terlambat.
Dr. Fathur sudah melihat judulnya.
Beliau diam dua detik.
Lalu melanjutkan jalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi jantung Aisyah sudah seperti konser marching band.
Salsa menyenggol lengannya pelan.
“Fix.”
“Apanya?”
“Energi romantisnya mulai terasa.”
Dinda langsung memotong.
“Itu bukan energi romantis. Itu energi ketakutan.”
Aisyah menatap depan dengan wajah tragis.
Hari pertama kuliah fisika baru berjalan tiga puluh menit.
Tapi mentalnya sudah seperti kerupuk kena kuah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aisyah menyadari satu hal penting:
dosen fisika ternyata lebih menyeramkan daripada deadline Dreame.