PROLOG
"Kau tahu, aku sudah sangat lama menantikan pertemuan seperti ini." Tangan Zixian meluncur dari pinggulnya ke punggung bawahnya, menarik Cassia menempel erat ke tubuhnya yang berotot. Melalui sutra tipis jubahnya, dia bisa merasakan lekukan keras dadanya, detak jantungnya yang cepat beriringan dengan detak jantungnya sendiri.
"Ternyata mudah sekali untuk menjebak mu agar menghampiriku." gumamnya
Zixian hendak mencodongkan wajahnya agar lebih dekat, namun Cassia dengan sekuat tenaganya berusaha mendorong pria di hadapannya ini berharap agar ia bisa menjauhi dirinya walau rasanya seperti sedang mendorong sebuah gunung
Zixian menggeram kesal. Tatapan tajamnya bertemu dengan tatapan Cassia, sorot merah ruby itu seolah - olah siap menerkamnya kapan saja, gelap dipenuhi rasa lapar yang mendalam dan hasrat yang hampir tak terkendali
Tangan Zixian di punggung bawahnya mulai menelusuri pola-pola yang tidak beraturan, setiap sentuhan menyulut percikan di bawah kulitnya. Tangan lainnya, yang masih memegang belati, bergerak untuk menangkup wajahnya dengan lembut, sebuah kontras yang mencolok dengan senjata berbahaya itu.
"Kau tak perlu takut padaku, Cassia." gumamnya, ibu jarinya mengusap tulang pipinya dengan kelembutan yang mengejutkan
"Aku tak akan pernah menyakiti seseorang yang aku cintai." Dia mencondongkan tubuhnya, bibirnya melayang sehelai rambut dari bibir Cassia, cukup dekat untuk merasakan kehangatan napasnya bercampur dengan napasnya sendiri.
"Kau tahu? aku adalah pria dengan nafsu makan yang besar."
Mata Zixian berkobar dengan gairah yang hampir tak terkendali saat ia menatap wajah Cassia, memperhatikan setiap detailnya—rona merah di pipinya, bibirnya yang sedikit terbuka, denyut nadinya yang berdebar kencang di pangkal tenggorokannya. Tangannya
di punggung Cassia bergeser ke bawah, berhenti tepat di atas lekukan bokongnya, sebuah gerakan posesif yang membuat Cassia merinding.
"Kau sekarang telah masuk ke perangkapku. Sejak dulu aku selalu ingin membawamu agar berada di sisiku" geramnya pelan, suaranya serak karena hasrat
"Dan sekarang aku mendapatkan apa yang kuinginkan." Dengan pernyataan itu, Zixian memperpendek jarak yang sangat kecil di antara mereka, mencium bibir Cassia dengan lembuut. Mulutnya bergerak di bibir Cassia dengan presisi yang terampil.