“Belum sembuh juga, Syaz? Rupanya bibit penyakit gila dari mamakmu sudah mendarah daging!” Teguran bernada menghina, menghentikan kegiatan Syazwani membacakan doa untuk sang ayah.
Syazwani mendongak, melihat siapa yang datang. Ia tersenyum tipis melihat Nurmala, kakak ketiganya berdiri sambil bersedakap d**a. Ditemani Rubi, si anak sulung yang hampir seusia dengan dirinya.
Sibuk mengomel dan membersihkan pusara ayahnya, membuat Syazwani tidak sempat memperhatikan keadaan sekitar. Tidak menyadari kehadiran Nurmala dan Rubi yang sejak tadi memperhatikannya dari gerbang pemakaman.
Wanita itu tersenyum, menyelesaikan bacaan doanya yang tinggal sedikit, kemudian mengulur salam pada Nurmala. Mencium tangan kakak ketiganya dengan takzim.
Nasib menjadi anak bungsu yang dibenci. Sekali pun marah, tetap harus hormat pada mereka yang lebih tua.
“Assalamualaikum, Kak. Ada apa datang ke sini?” tanya Syazwani bagai orang bodoh, yang saat itu juga langsung disesalinya.
Sepintas Syazwani menelan ludah, memikirkan kalimat pedas apa yang akan didengar telinganya. pertanyaan yang barusan ia ajukan pasti akan menjadi awal kemarahan Nurmala. Karena tanpa perlu dijelaskan pun, semua orang tahu, kalau kakak ketiganya datang untuk berziarah ke makam ayah mereka
“Eeh, kenapa engkau tanya? Tak boleh, aku ziarah ke makam Ayah sendiri?” tanya Nurmala bernada ketus.
Syazwani melirik Rubi yang memperhatikan sekeliling makam. Jengah pada keponakan yang hanya berbeda usia tiga tahun darinya.
Selalu begini tiap kali bertemu dengan kakak-kakaknya. Tidak pernah ada pembicaraan manis di antara mereka, selain kata-kata kasar pemicu pertengkaran yang menjadikannya tidak punya harga diri.
Ia menarik bibir ke samping, sekali lagi mencipta senyum terpaksa. Menutup pedih yang sudah membayang di pelupuk mata.
“Kak Nur lanjutlah ziarah, Syaz nak balik. Hari dah dekat petang, nak jemput Rayyan sekali dari tempat les." Syazwani beranjak bangun. Mengulur salam berpamitan pada Nurmala, sekaligus menganggukkan sedikit kepala dan mengukir senyum untuk Rubi.
Syazwani enggan bertengkar. Prinsipnya lebih baik menghindar dari Nurmala, dari pada bikin ribut di makam Ayah mereka. Sifat angkuh kakak ketiganya yang tidak mengenal tempat, sudah menjadi ciri khas dari kelakuannya yang gemar mencari-cari kesalahan orang lain.
“Eeh, Syaz, tunggu! Ada hal sikit yang mau aku omongkan dengan kau.” Suara Nurmala menahan langkah Syazwani yang hendak melaju pergi.
“Ada apa lagi, Kak?” tanya Syazwani. Berbalik badan sambil menahan napas.
Sejak kecil Syazwani selalu takut mendengar Nurmala mengatakan ingin bicara. Kata-kata kasar kakaknya sering membuat penyakit yang dideritanya mudah kambuh.
Semua saudara Syazwani tidak ada yang peduli dengan kondisi mentalnya. Berbicara sesuka hati tanpa memikirkan perasaan adik bungsu mereka yang sering kali berubah mood dalam sekejap mata.
“Warisan Ayah, tuh, macam mana? Tak ada niat kau nak bagi? Nak kau telan sorang-sorang harta melimpah keluarga kami?” tanya Nurmala tanpa jeda.
Syazwani gamam. Mulutnya terbuka mendengar kata demi kata yang meluncur deras dari mulut sang kakak.
Hebat sungguh Kak Nur kalau bicara soal harta. Tiga ayat keluar dalam satu tarikan napas.
Entah menghina atau memuji, sifat buruk Nurmala melintas begitu saja di pikiran Syazwani.
"Astaghfirullahaladzim." Tanpa sadar syazwani mengucap Istighfar. menyadari kebusukan hatinya yang sudah mengejek Nurmala diam-diam.
"Heh, kenapa kau Istighfar? Kau pikir aku hantu? Sengaja kau menghina aku rupanya!" Panjang omelan Nurmala mendengar adiknya beristighfar.
Hampir saja ia maju, hendak melayangkan pukulan pada wajah Syazwani. Namun, beruntung ada Rubi yang menahannya.
Syazwani mundur dua langkah menjaga jarak dari Nurmala. Khawatir perempuan kasar itu akan memukulnya.
“Kenapa Kak Nur tanya begitu? Harta Ayah sepeser pun Syaz tak ada ambil. Waktu pembagian warisan dulu, depan pengacara, Syaz sudah balikkan semuanya. Kenapa sekarang ungkit-ungkit lagi?” tanya Syazwani. Suaranya bergetar menahan sebak.
Ya Allah, masih sempat Kak Nur membicarakan masalah harta warisan yang sudah lewat tujuh tahun, di depan makam Ayah. Di mana adab sebagai orang melayu yang menjunjung tinggi rasa hormat pada orang tua.
Syazwani hanya mampu mengeluhkan kelakuan Nurmala di dalam hati. Tidak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya. Perangai kasar dan sifat tinggi hati, serta keras kepala kakak ketiganya, membuat Syazwani lebih memilih diam dari pada memancing pertengkaran yang tidak akan pernah dimenangkannya.
“Kau lupa atau pura-pura lupa? Masa Ayah meninggal dulu, semua harta diwariskan ke engkau. Ada engkau bagi kami? Kau ngomong saja, bilang tak nak harta Ayah, tapi tak pernah kau urus surat hibah!” balas Nurmala tajam. Menunjuk wajah Syazwani dengan kipas lipat yang dipegangnya.
Rubi menepuk pundak Nurmala. Menenangkan ibunya agar tidak membuat keributan di kuburan. Tempat yang sangat tidak layak untuk memperebutkan harta warisan.
Syazwani menarik napas pelan. Sesak di d**a semakin menghantam, membuat kepalanya terasa sakit, dan pandangan turut berputar-putar.
Rubi yang tadinya menenangkan Nurmala, berganti menyambut tubuh Syazqani yang mulai limbung dan mendudukkannya di pinggiran makam Amran.
Wajah gadis itu tampak sedih, kedua matanya sayu menatap Syazwani, dengan tangan terkatup rapat di depan d**a. Seakan isyarat meminta maaf atas kata-kata ibunya.
Syazwani hanya dapat mengangguk kecil sambil mengukir senyum tipis. Menenangkan Rubi, kalau dirinya tak pernah terpengaruh dengan perkataan Nurmala.
“Nanti Syaz temui Pak Nasir, minta dibuatkan surat hibah. Syaz Ikhlas memberikan semua harta Ayah untuk saudara-mara,” sahut Syazwani dengan suara serak. Menahan air mata yang hampir menetes.
Sungguh air matanya sudah mengambang. Jika tidak ditahan sekuat tenaga, sudah dari tadi tertumpah.
Syazwani sedih, bukan karena kehilangan harta, tetapi menyesali kelakuan Nurmala yang seolah tidak punya adab. Untuk apa kakak ketiganya itu meributkan harta warisan yang sudah diwasiatkan padanya, di depan kuburan ayah mereka? Mengapa Nurmala tidak datang saja ke rumahnya dan bicara baik-baik?
Tanpa harus dipinta, Syazwani sudah berniat memberikannya. Dirinya lebih tenang hidup miskin tanpa warisan Amran, dari pada menjadi orang kaya, tetapi selalu di usik oleh keenam kakaknya.
“Hemb, cepat sikit kau urus!” balas Nurmala singkat.
“Ayo, Rubi, kita pulang!" Setengah memaksa Nurmala menarik tangan anaknya yang melantunkan bacaan surah Yasin di makam Amran.
“Kakak, tak bacakan yasin untuk ....”
“Kau, kan sudah membaca doa buat Ayah. Aku tak perlu lagi, lah!” sanggah Nurmala ketus sambil menarik paksa tangan Rubi.
Tanpa sempat menyelesaikan bacaan surahnya, Rubi terpaksa mengikuti perintah Nurmala. Kepala gadis itu sedikit mengangguk, sebagai isyarat berpamitan pada Syazwani. Karena tarikan tangan ibunya sudah semakin kencang, mengajaknya segera berlalu dari sana.
Syazwani menggelengkan kepala pelan. Heran melihat tingkah kakak ketiganya yang kekanak-kanakan. Karena harta warisan, hilang sudah niat Nurmala menziarahi makam ayah mereka.
Allahu Rabbi, kuatkan aku seperti dulu. Doa Syazwani dalam hati.
DikemasnyA langkah keluar dari area makam. Mengambil motor yang terparkir di depan gerbang. Menghela napas sesaat sebelum menyalakan kuda besi yang menjadi andalannya selama ini.
Menata hati sebelum menuju ke tempat les Rayyan, agar dapat tertawa ceria di depan anak kesayangannya.