Berulang kali Syawani mencoba terlelap, tetapi ingatan kejadian tadi sore tidak dapat membuatnya melenakan mata. Pertemuan dengan Nurmala membuatnya gelisah berpanjangan. Terngiang kembali Setiap kata yang keluar dari mulut kakaknya.
Mudahnya Kak Nur meminta harta warisan Ayah, sedangkan dirinya sedikit pun tidak pernah menunjukkan bakti sebagai anak. Semasa Ayah hidup dan sakit-sakitan dulu, Kak Nur hanya berapa kali datang menjenguk, apakan lagi hendak merawat ayah, sangat jauh dari harapan.
Keluhan tentang perangai Nurmala hanya dapat diurai dalam hati.
Sebenarnya bukan hanya perangai Nurmala yang membuat Syazwani tekanan batin, tetapi sifat semua kakak-kakaknya. Tidak ada Seorang pun dari mereka yang memiliki hati. Berkata kasar, ingin menang sendiri, serakah, dan yang pasti sibuk menjadi orang yang paling susah atau teraniaya.
Berulang kali Syazwani membolak-balik tubuhnya di ranjang. Menghalau keresahan yang mengendap di hati. Kadang menghadap ke dinding, kadang menghadap pada Rayyan yang memandangnya dengan tatap kesal, dan kadang terlentang melihat langit-langit kamar.
"Apalah Ibu, nih. Tak bisa tidur janganlah banyak gerak. Hilang kantuk Ayyen!" rungut anak laki-laki berusia enam tahun yang memajukan bibirnya dan mata mendelik tajam.
Syazwani terkekeh kecil, spontan mencubit gemas pipi montok Rayyan, dan menciumnya. Celetukan gusar bocah gembul dengan kulit putih itu sesaat membuatnya lupa tentang permintaan Nurmala.
"Ibu tak bisa tidur, boleh Ayyen tolong nyanyikan lagu nina bobo?" Pertanyaan Syazwani spontan mengundang derai tawa Rayyan.
Kedua mata jernih Rayyan mengerjap, sementara tangan mungilnya melingkar di leher Syazwani. Wajah polos tanpa dosa itu terlihat begitu menggemaskan saat bertingkah bagai orang dewasa.
"Ibu tak bisa tidur?" tanya Rayyan sekali lagi yang dibalas anggukan pelan Syazwani.
"Tapi Ayyen tak pandai menyanyi. Ayyen puk puk Ibu sampai tidur, mau tak?" tanyanya lagi sambil menepuk-nepuk bagian belakang leher Syazwani.
Wajah serius Rayyan saat bertanya kembali membuat tawa Syazwani pecah. Kepolosan anak itu berhasil membuat kegalauannya sedikit berkurang, walaupun sisanya masih menggelayut manja di sudut hati. Dipeluknya tubuh gempal Rayyan dan diciuminya pucuk kepala bocah itu. Menghidu aroma shampo yang dipakainya saat mandi tadi sore.
“Macam mana di tempat les baru? Guru Ayyen ada yang galak tak? Ayyen, nakal tak di tempat les?” tanya Syazwani mengalih perhatian Rayyan.
Bocak laki-laki tampan dengan mata bersinar bagai bintang itu mengembungkan pipinya yang seperti bakpao. Mengerling dengan lirikan mata yang dibuat judes. Menunjukkan kekesalan dengan pertanyaan Syazwani, karena merasa usahanya untuk menidurkan sang bunda sia-sia.
“Ibu kata nak tidur, tapi asik bicara dari tadi!” rungutnya sembari melepaskan diri dari pelukan Syazwani.
Anak laki-laki itu menggeser tubuhnya menjauh dari sang bunda. Berbaring terlentang dengan tangan terlipat di d**a. Lirikan matanya yang centil kembali membuat tawa Syazwani meledak.
“Ibu nak cerita-cerita dulu dengan Ayyen perihal tempat les yang baru. Lepas itu, baru kita tidur,” sahut Syazwani, meredam kemarahan putranya di sela-sela sisa tawa.
Kehadiran Rayyan yang tak pernah Syazwani harapkan, ternyata menjadi hiburan tersendiri di dalam hidupnya yang penuh penderitaan. Meskipun, sosok mungil bagai malaikat itu selalu di benci oleh ibu dan keenam kakaknya.
Seperti Syazwani, Kehadiran Rayyan bagaikan lumpur dosa yang harus dijauhi oleh seluruh orang. Aib yang tidak boleh mendekat, apalagi menempel pada keluarga besar Amran. Bahkan memakai nama keluarga pun, mereka berdua di larang.
Rayyan mengubah posisinya lagi, kali ini duduk menghadap Syazwani sambil memutar kedua bola mata. Seakan sedang mengingat setiap kejadian yang terjadi sepanjang minggu, selama dirinya menjadi murid di tempat les yang baru.
“Kenapa Ibu baru tanya sekarang? Mak Ngah ada jumpa Ibu? Mak Ngah ada marahkan Ibu?” Berdesir darah Syazwani mendengar pertanyaan putranya.
Ditatapnya dalam-dalam mata jernih Rayyan, seakan mencari jawaban untuk pertanyaan yang berputar di kepala.
Mengapa anaknya berbalik mengajukan tanya? Apakah Rayyan tanpa sengaja bertemu kakak keduanya? Jika bertemu apa yang telah Arifah Lakukan? Sungguh semua pertanyaan itu membuatnya hatinya berdebar dan cemas.
Rayyan bukanlah anak yang suka mengadu, sehingga apa pun yang terjadi padanya, tidak akan pernah bercerita kalau tidak ditanya. Anak itu hanya akan berbicara jika di rasa penting.
Rayyan menggelengkan kepalanya sebentar, tetapi tidak lama ia pun menunduk dengan wajah murung.
“Itu hari, Ayyen ada jumpa dengan Mak Ngah. Dia kata nak masukkan Ibu penjara sebab tak bagi tanah aki, tapi Ayyen tak tau penjara tuh apa. Terus kata Mak Ngah, penjara tuh tempat tinggal anak pembohong,” jelas Rayyan dengan wajah lugunya.
Meskipun yang diceritakan Rayyan merupakan berita buruk dan dapat membuat darah mendidih, tetapi karena gayanya yang meniru orang tua, mau tidak mau bibir syazwani mengukir senyum.
Rayyan berbicara dengan ekspresi serius, sembari sesekali memiringkan kepala sedikit menengadah ke atas. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan kanan, seakan sedang mengingat sesuatu.
"Mak Ngah, begurau saja tuh. Manalah Mak Ngah sampai hati, bagi Ibu tinggal di tempat anak nakal," sahut Syazwani. Mengusir kekhawatiran yang membayang di mata putranya.
"Jom tidur! Esok Ayyen harus sekolah 'kan? Tak boleh bangun lambat!" ajak Syazwani. Menyerahkan bantal guling kecil pada putranya.
Bergegas Rayyan mengikuti perintah Syazwani. Berbaring sambil memeluk guling dengan mata terpejam. Merasakan tepukan lembut pada bokongnya yang membuat terlena.
Mata syazwani terpejam. Berusaha meredakan sesak yang gemuruh di d**a. Begitu Jahatnya Arifah memberi ancaman pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Menakut-nakutinya putranya hingga bercerita dengan wajah menunduk. Menyembunyikan kecemasan.
Keserakahan Nurmala dan Arifah akan harta, membuat ingatan Syazwani memutar kembali kenangan tentang Amran. Lelaki renta yang tetap tampak gagah meskipun telah dimakan usia dan dipanggilnya dengan sebutan ayah.
Tubuh tinggi besar dengan kulit kehitaman akibat seringnya terpanggang matahari, berpadu, menciptakan sosok laki-laki perkasa yang penuh cinta. Melindungi dirinya dengan kasih sayang tak terbatas, hingga rela mewariskan semua harta. Melupakan keenam anak kandungnya yang lain.
Sayangnya, gara-gara warisan itu pula mereka tujuh bersaudara semakin jauh dari kata akur. Keenam anak Amran yang lain, pun tidak terima kalau sang ayah memberikan seluruh harta pada si bungsu. Semua saling bertikai, merasa menjadi yang paling pantas dan harus paling banyak menerima bagian.
Syazwani yang terlahir dari sebuah kesalahan dan hanya memiliki Amran sebagai tempat bersandar, tidak pernah berusaha untuk mempertahankan harta warisan. Di saat pembacaan surat wasiat, Syazwani justru menghibahkan semua peninggalan Amran pada keenam saudaranya, dan tidak pernah lagi bertanya apa lagi mengusik harta warisan tersebut, hingga sekarang.
Itulah yang menjadi penyebab keheranan di benaknya. Kenapa Nurmala dan Arifah masih saja menuntut perihal warisan, padahal semua sudah dikembalikan. Sebagai anak yang tidak diharapkan, Syazwani cukup tahu diri untuk turut berebut harta.
Ingatan Syazwani kini berputar pada masa kecil dulu. Terbayang kembali kehadirannya yang menjadi pusat kebencian seluruh keluarga. Tidak hanya keenam kakaknya saja, tetapi sang Ibu pun tak sudi bertatap muka dengannya apalagi mencurahkan kasih sayang.
Hanya Amran yang bersedia berjuang membesarkannya seorang diri. Meskipun harus menundukkan wajah, menahan rasa malu meminta bantuan pada siapa pun untuk menjaganya. Walaupun akhirnya, beliau harus menerima hinaan yang begitu banyak.