“Yah, baju sekolah Syaz, kapan boleh dapat? Hampir semua kawan sudah pakai seragam putih biru, cuma Syaz yang pakai baju putih merah,” keluh Syazwani pada Amran, saat mereka berdua sibuk memasak untuk makan malam.
Sebagai siswa yang baru saja masuk sekolah menengah pertama. Syazwani merasa sangat rendah diri melihat teman-teman yang lain sudah mendapatkan seragam putih biru dan memakainya dengan bangga. Sementara dirinya sudah lebih dari tiga minggu, masih memakai seragam merah putih.
Bukan hendak menuntut, Syazwani hanya heran dengan ayahnya. Dibilang kaya, tapi mereka hidup sederhana, bahkan mendekati kekurangan. Dibilang miskin, tapi sering ia mendengar cerita dari Mak Long, tetangga sebelah rumah. Katanya ayah Syazwani merupakan tuan tanah kaya raya.
Mak Long selalu menegaskan kalau ayahnya orang terpandang yang sedikit banyak memiliki darah bangsawan. Orang kaya raya, memiliki tanah puluhan ekar yang letaknya merata di seluruh kota. Mulai harga ratusan juta, hingga miliaran rupiah.
“Kawan, Syaz, sudah dapat semua?” tanya Amran, menghentikan kegiatannya merajang sayur. Melihat sesaat pada putrinya yang melenggang menuju tempayan kecil berisi air.
“Belum semua, tapi sudah banyak yang dapat,” jawab Syazwani pelan sambil mencuci beras yang hendak ditanak. Tidak ingin terdengar terlalu memaksa Amran memenuhi permintaanya.
Setiap hari Syazwani dan Amran tinggal berdua di rumah besar tanpa ada siapa pun yang menemani. Semua keluh kesah terkait sekolah ataupun pertengkaran dengan teman bermain, hanya dapat diadukan pada ayahnya. Meskipun Syazwani tahu sang ayah lebih sering diam mendengar semua aduannya.
Syazwani bukan anak tunggal yang piatu. Ia memiliki enam orang kakak yang sudah dewasa. Bahkan Kakak tertuanya sudah menikah dan memiliki anak yang hampir sebaya dengannya. Namun, entah mengapa mereka semua enggan tinggal di rumah besar. Begitu pun dengan ibunya, tidak bersedia untuk tinggal bersama.
Tanpa Syazwani ketahui, selama ini dirinya dan Amran telah diasingkan oleh seluruh keluarga. Tidak ada yang bersedia datang ke rumah mereka, kecuali ada urusan penting. Menyebabkan Amran merasa bersalah dan mencoba mengisi rasa kehilangan kasih sayang ibu pada diri Syazwani dengan caranya sendiri.
“Kalau begitu, besok Ayah ikut ke sekolah, Syaz. Pegi tanya dengan guru, kenapa anak Ayah yang cantik ni, belum lagi dapat baju,” jawab Amran, membuat mata Syazwani berbinar.
Sebagai orang yang menjadi penyebab dan bertanggung jawab atas penderitaan putri bungsunya, Amran selalu berusaha membahagiakan Syazwani, meskipun dengan hal-hal yang sepele. Membantunya mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama. Jika Amran mencuci baju, Syazwani yang akan menjemur. Amran menyapu dan membersihkan seluruh rumah, Syazwani yang kebagian mengepel lantai. Bahkan saat memasak seperti ini pun, mereka lakukan berdua.
Jangan bertanya ke mana ibu dan keenam saudara Syazwani yang lain, hingga mereka harus mengerjakannya semuanya berdua. Semuanya telah pindah dari rumah, meninggalkan Syazwani dan Amran, bagai orang asing.
Syazwani meletakkan panci nasi di atas kompor yang menyala, menuangkan sedikit minyak, garam, dan daun pandan di dalam beras yang akan ditanak.
“Sudah besar anak Ayah, pandai memasak nasi. Sini, tolong Ayah buat sambal,” pinta Amran sambil menyerahkan keranjang bumbu dan lesung batu.
Syazwani menatap wajah tua Amran, menuruti perintahnya tanpa ada bantahan sedikit pun.
“Yah, boleh Syaz tanya sesuatu?” tanyanya yang dibalas anggukan Amran.
“Kenapa semua benci kita? Kenapa Ibu, kakak, dan abang, tak pernah datang ke rumah kita? Lebaran pun mereka tak mau datang. Kita pun tak pernah ke rumah mereka, apa sebab, Yah?” tanya gadis kecil itu beruntun. Pertanyaan yang telah lama terpendam di hatinya, akhirnya terluahkan.
Sering Syazwani merasa bingung, mengapa Ibu dan keenam saudaraku yang lain begitu membenci mereka berdua. Tidak ada yang merasa iba melihat Ayah mereka, sudah tua renta harus berjuang mencari nafkah dan mengurus diri sendiri? Menikmati makanan seadanya, sedangkan keenam anaknya yang sudah dewasa hidup bergelimang harta.
“Tak ada yang benci kita, Nak. Ibu, Kakak, dan Abang, semua sibuk kerja, mereka tak ada waktu nak datang rumah kita,” jawab Amran. "Minggu esok kita ke rumah Bang Ammar. Dia pasti senang jumpa Syaz dan Ayah,” lanjut beliau tersenyum.
Syazwani cuma mengangguk pelan, tak mau meneruskan tanya. Gadis kecil itu tahu Ayahnya berbohong. Wajah renta yang tak pandai menyembunyikan sebuah rahasia, serta senyum yang ditunjukkan, menyimpan sedih yang terpendam.
Entah apa yang Ayahnya tutupi. Meskipun beliau berusaha mengatakan kalau mereka berdua tidak dibuang, tetapi kenyataan yang terlihat di mata Syazwani sangat jauh berbeda.
“Sambal sudah jadi, yah. Syaz goreng ikan asin dululah,” ucap Syazwani mengalihkan pembicaraan.
Gadis kecil itu mengalah. Tidak ada guna lagi bertanya tentang perangai keluarganya yang membenci keberadaan mereka berdua. Sampai kapan pun ayahnya akan selalu mengatakan yang baik-baik tentang mereka. Syazwani lebih memilih menyelesaikan acara memasak, agar cepat pula mereka makan.
“Syaz, goreng ikan asin, Ayah tumis sayur. Lepas tuh, kita makan sama-sama!” ajak Amran sambil mengusap rambut putri bungsunya.
Tubuh layu Amran terlihat sedikit limbung saat berdiri di depan meja kompor, seperti ada yang salah dengan tubuhnya. Gerakan saat menumis bumbu juga terlihat lebih lambat dari biasa. Kedua tangan yang gemetar, terlihat kepayahan tiap kali menggerakkan sudip saat membalik sayur.
“Ayah sakitkah? Biar Syaz, sajalah yang masak sayur,” pinta Syazwani sambil menghampiri Amran, berniat mengambil alih pekerjaannya.
“Ayah cuma sedikit pusing. Syaz, duduk baik-baik di situ, biar Ayah selesaikan kerja, ni,” sahut Amran, menolak permintaan Syazwani.
Sebenarnya sudah beberapa hari ini tubuh Amran meriang. Urat tengkuknya terasa tegang, dan pandanga mata sering kali buram. Bahkan setiap kali menyiram kepala saat mandi, Amran merasakan seluruh tubuhnya seperti terkena sengatan listrik ringan. Namun, semua diabaikannya. Enggan membuat sang putri khawatir.
Syazwani mengangkat bahu, kemudian pergi mengambil piring dan panci berisi nasi yang sudah tanak, serta lesung berisi sambal tomat. Semua ia letakkan di atas lantai beralas tikar pandan. Selesai menyusun menu makan siang, Syawani pun menghampiri sang ayah, menyalakan kompor di sebelahnya, berniat menggoreng ikan asin.
Sekali lagi Syazwani melihat tangan ayahnya gemetar saat memindahkan sayur ke dalam mangkok. Langkahnya saat mendekati tikar pandan, tempat mereka duduk makan, tampak berat dan lambat. Namun, ia enggan lagi bertanya, sebab jawaban yang diberikan ayahnya pasti sama seperti tadi.
“Ayo, Syaz, kita makan! Sedap menu kita hari, ni. Tumis kangkung, sambal tomat, dan ikan asin,” ajak Amran. duduk bersila dengan piring berisi nasi di depannya.
“Ish, Ayah. Ikan asin belum masaklah, sikit lagi selesai, tunggulah,” rajuk Syazwani saat melihat ayahnya sudah menyendok sayur ke dalam piring.
Cepat diselesaikannya tugas menggoreng ikan asin, duduk di samping Amran menyantap menu makan siang. Kembali hati kecilnya bimbang, tanpa sengaja melihat bibir ayahnya seolah tertarik keatas, dan menahan nyeri di kepala. Jauh di dalam lubuk hati, Syazwani yakin ada yang tidak beres pada tubuh Amran.