Sesuai janji Amran, hari minggu ini ia mengajak Syazwani berkunjung ke rumah Ammar. Anak laki-lakinya yang paling tua. Diharapkan dapat menjadi penggantinya mengurus Syazwani, saat tiada nanti. Meskipun, Amran tahu, Ammar enggan membantunya. Namun, apa salahnya berusaha, memujuk dan memohon untuk meluluhkan kerasnya hati si anak sulung.
“Syaz boleh tak ikut, Yah?” tanya Syazwani pelan. Khawatir menyinggung perasaan ayahnya.
Menurutkan hati, Syazwani sangat enggan berkunjung ke rumah Ammar. Perangai Abang tertuanya ini sangat keras dan kasar. Tidak pandang bulu memarahi orang. Lidahnya pun melebihi pisau, tajam tak kenal tempat, dapat membuat hati orang berdarah dengan kata-katanya.
“Kenapa tak nak ikut? Syaz, sakit ke?” Bukannya menjawab pertanyaan Syazwani, Amran justru berbalik mengajukan tanya pada putrinya yang mendapat jawaban berupa gelengan kepala.
“Kalau tak sakit, ayolah pergi temankan Ayah jumpa Bang Ammar! Ada hal sikit yang Ayah nak bincang dengan dia!” ajak Amran, sembari mengunci jendela.
Syazwani mengambil sandal dan payung di belakang pintu, meletakkannya di ujung teras sambil menunggu Amran yang sekali lagi memeriksa jendela, sebelum akhinya mengunci pintu, dan mengambil payung di ujung teras, serta berjalan mendahului putrinya keluar halaman.
Syazwani mengikut langkah Amran dalam diam. Berjalan di belakang ayahnya sambil memperhatikan punggung yang sedikit membungkuk. Matanya sedikit menyipit, merasa ada yang berbeda dari gerak tubuh sang ayah.
Seperti hari-hari kemarin, hari ini pun Syazwani melihat langkah Ayah tampak terseok. Saat berjalan, kaki kirinya seperti diseret, bukan diangkat. Beberapa kali, ia juga melihat Amran sering memukul kepala, meski sangat pelan
“Ayah, sakit? Berapa hari Syaz nampak, Ayah macam tak sehat,” Bergegas Syazwani menjajari langkah Amran. Membimbing tangan keriputnya terasa sedikit gemetar.
“Kita tak usah pergi sajalah, Ayah. Rumah Bang Ammar jauh, lelah kita bejalan panas-panas. Badan Ayah pun lagi tak sehat, kan?” tanya Syazwani bernada memujuk, agar ayahnya mengurungkan niat ke rumah Ammar.
Gadis kecil itu tidak dapat membayangkan berjalan kaki dari rumah mereka ke depan gang mencari angkutan umum saja dengan jarak delapa ratus meter, sudah sangat lelah. Apalagi harus berjalan kaki ke rumah Ammar yang berjarak Sepuluh kilometer dari rumah Mereka. Ditambah lagi kondisi ayahnya yang terlihat tidak sehat.
Bukan Amran tidak punya uang untuk naik angkutan umum, tetapi kendaraan tersebut sudah sangat jarang di kota mereka. Kebanyakan warga Pontianak sudah memiliki kendaraan sendiri. Bahkan hampir setiap rumah memiliki mobil, atau paling tidak punya motor sendiri. Sedikit sekali yang masih menggunakan jasa angkutan umum, dan Amran salah satu orang yang masih setia menggunakannya
“Tidak apa-apa, Ayah ada bawa payung. Kalau lelah, kita rehat sebentar di tepi jalan. Mudah-mudahan depan gang nanti ada oplet, tidaklah penat kaki kita bejalan jauh-jauh,” hibur Amran, mengukir senyum tipis, sembari membalas genggaman erat tangan putrinya.
Langkah tua Amran semakin terseok. Tubuh yang sedang menahan sakit, dipaksanya terlihat gagah, meskipun untuk berjalan selangkah saja sudah terasa amat lelah. Niatnya sudah mantap ingin ke rumah Ammar. Satu-satunya orang yang diharapkan mau menerima Syazwani dan menjadi pelindung untuk putri bungsunya. Jika Ammar bersedia menjaga Syazwani, bisa dipastikan saudaranya yang lain tidak akan berani banyak bicara. Sebab anak sulungnya itu merupakan orang yang cukup disegani oleh anak-anak Amran yang lain.
“Ayolah cepat berjalan, sebelum matahari makin tinggi!” ajak Amran. Mempercepat langkahnya yang gemetar.
Syazwani melirik Amran, melihat keringat yang menetes di pelipis keriput ayahnya. Dalam hati ia berdoa, semoga Ammar menerima kehadiran mereka dengan baik. Selain kasihan dengan keadaan sang ayah yang sudah kepayahan di makan usia, ia juga takut, kedatang mereka ditolak Amran, seperti kejadian di rumah Arifah beberapa waktu lalu. Baru saja dirinya dan Amran menjejak tangga, tetapi sudah tega diusir pulang.
Syazwani melepaskan genggamannya dari Amran dan berpindah posisi ke samping kiri, Berlindung dari panas matahari di balik bayangan postur tubuh ringkih ayahnya yang mengenakan payung.
Dari kejauhan, tampak oplet berwarna putih dengan jurusan pasar flamboyan sedang menurunkan penumpang di depan gang. Amran menepuk tangan keras, meminta sopir oplet menunggu. Bergegas keduanya memacu langkah. Berjalan lebih cepat, sesekali diiringin dengan lari-lari kecil, agar sopir angkot tak menunggu lama.
“Alhamdulillah, kita dapat oplet,” ucap syukur Amran, saat mereka sudah duduk manis di dalam angkotan umum.
Amran membuka jendela angkot, merasakan tiupan angin yang menghapus keringat di wajah. Kedua matanya terpejam merasakan nyeri yang tiba-tiba saja mencengkeram kepala. Namun, hanya sekejap, karena ia segera mengumbar senyum pada Syazwani yang merapatkan tubuhnya pada sang ayah.
“Masih jauh lagi, Yah. Harus naik oplet sekali lagi,” jawab Syazwani dengan bibir menyungging senyum senang. Wajah pucatnya terlihat gembira merasakan terpaan angin yang masuk dari jendela oplet.
“Tak payah, Ayah carter oplet, nih, sampai depan rumah Bang Ammar,” sahut Amran membuat senyum di bibir Syazwani sermakin melebar.
Amran memang sangat pengertian. Ia paham kalau Syazwani tidak suka berjalan jauh dan mudah jatuh sakit saat merasa lelah. Tubuh putri bungsunya memang lemah. Pulang-pergi sekolah yang berjarak satu kilo meter saja, sering membuat asmanya kambuh, apalagi kalau harus berjalan ke rumah Ammar yang berkilo meter jauhnya.
“Alhamdulillah, Tidaklah besar betis Syaz, dibawa jalan jauh-jauh,” kelakar Syazwani memancing tawa ayahnya.
Pernah dulu Syazwani dan Amran pergi ke rumah Arifah dengan berjalan kaki, dikarenakan oplet yang ditunggu tidak kunjung datang. Sesampainya di sana, Syazwani merasakan betisnya mau pecah. Lebih menyedihkan lagi, belum hilang penat, mereka sudah diusir pulang.
“Tak tega Ayah nak biarkan betis Syaz nih besar macam keladi,” sahut Amran, menyambut candaan putri bungsunya.
Sopir oplet yang mendengar gurauan ayah dan anak itu pun turut tersenyum. Mencuri lihat gelagat Amran dan Syazwani yang menggelitik hati, dari kaca spion depan, membuat Amran berinisiatif mengajaknya berbicara. Mengabaikan Syazwani yang sibuk menyapu rambutnya, tertiup angin dari kaca jendela.
Sepanjang perjalanan, Syazwani melihat ayahnya sangat banyak tertawa. Berbicara dengan sopir oplet, membuat hati pria renta itu senang. Sangat jauh berbeda saat berbicara dengan keenam anaknya. Hanya ada adu mulut yang tak berkesudahan, membuat Amran sedih dan acap kali mengusap air mata di pipi.
Asyiknya menikmati tiupan angin dan memperhatikan aktivitas orang-orang di sepanjang jalan, membuat keduanya lupa kalau oplet yang mereka tumpangi telah berhenti di depan rumah Ammar. Rumah mewah dengan pagar tinggi menjulang, beserta dua mobil sedan yang terpakir di halaman, seakan mengejek kedatangan mereka yang hanya mengenakan pakaian sederhana.
Amran turun setelah membayar ongkos oplet, kemudian memencet bel di pagar yang terutup sangat rapat. Tanpa menunggu lama, pembantu yang bekerja di Ammar datang membukakan pintu pagar dan menyuruh mereka masuk. Namun, belum jauh mereka melangkah, Ammar sudah berdiri di ambang pintu sambil memandang Syazwani dengan sorot mata penuh kebencian.