Bang Ammar

1151 Words
Syazwani ragu-ragu mengikuti langkah Amran, walaupun tangannya digenggam erat oleh sang ayah. Raut muka Ammar yang berubah manis saat melihat ayahnya, tidak dapat mengubah kenyataan kalau laki-laki itu tidak menyukai kehadirannya. Ammar yang penuh muslihat, mengubah riak wajah, dan lakunya dalam dalam sekejap mata. Pandangan mata penuh kebencian bagai iblis, berubah santun, dan hormat, menyambut kedatangan Amran. Mencium tangan ayahnya takzim, tetapi mengabaikan uluran tangan Syazwani yang mengajukan salam. “Abang, nak salam,” ucap Syazwani sambil mengulurkan tangan sekali lagi. Berharap kali ini uluran salamnya disambut dengan ramah. Inilah yang menjadi salah satu penyebab kenapa Syazwani enggan mengikuti Amran berkunjung ke rumah kakak-kakaknya. Selain kesombongan mereka yang selalu merasa sebagai orang paling suci, kehadirannya pun tidak pernah dianggap ada. Parahnya lagi, keenam kakak Syazwani sering kali tidak hormat pada sang ayah. Mereka tak segan mengunci pagar dan pintu rumahnya rapat-rapat apabila Amran berani datang dengan membawa serta dirinya. Semua kakak-kakaknya juga tega mengusir Amran, saat pria renta itu membicarakan putri bungsunya ataupun memohon bantuan atas nama Syazwani. “Tak payah,” jawab Ammar ketus. “Syaz, masuk saja ke dalam, pergi main dengan Anida,” lanjutnya lagi, tanpa mau melihat sedikit pun pada si bungsu. Syazwani menoleh pada sang ayah, meminta agar diizinkan untuk masuk ke dalam rumah dan bermain bersama Anida. Keponakan yang umurnya tidak berbeda jauh dari dirinya. Amran mengangguk kecil, mengabulkan harap Syazwani untuk masuk ke dalam rumah Ammar, meskipun ada rasa enggan untuk menyetujuinya. Namun, karena ada hal penting yang harus dibicarakan, ia terpaksa menganggukkan kepala. "Masuklah, tapi jangan nakal. Jangan bongkar mainan Anida dan jangan buat rumah orang besepah¹," pesan Amran yang disambut senyum lebar Syazwani. Ringkas gadis kecil itu menghambur masuk ke dalam. Menemui keponakan yang hanya beda usia satu tahun dengannya. "Ada hajat apa ayah datang bertandang? Lengkap dengan Syazwani sekali?" tanya Ammar, setelah mengajak ayahnya duduk di ruang tamu. Wajah dan tingkah laku yang angkuh, sedikit pun tak malu ia tunjukkan pada Amran. Laki-laki yang seharusnya ia hormati sebagai orang tua. Ia bahkan sengaja duduk dengan bersilang kaki dan menyalakan sebatang rokok di hadapan Amran. Menunjukkan tidak ada lagi rasa hormatnya untuk sang ayah. Amran menghela napas panjang. Menyabarkan diri, menerima perlakuan tidak sopan dari anak tertuanya. Sebagai orang tua, hatinya amat terluka. Sungguh, Ammar sudah tidak lagi menghargainya sebagai seorang ayah. Sebutan ayah, hanya pemanis saja di mulutnya. "Ayah nak minta tolong dengan sangat pada Ammar. Semoga Ammar mau kabulkan harapan terakhir ayah," sahut Amran lirih. Mata cekung dengan sorot mata teduh, menatap dalam pada manik mata Ammar. Mencari sedikit kasih sayang untuk Syazwani, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Ayah nak minta tolong apa? Cakaplah!" sahut Ammar. Mengeluarkan kepulan asap rokok dari lubang hidungnya. "Eeh, jemput minum dulu, Yah. Lupa pula Ammar, tawarkan ayah minum. Nasib baiklah, Ani pandai melayan rumah tangga. Ingat kalau ayah mertua datang bertamu wajib di jamu." Manis untaian kata yang keluar dari mulut Ammar memuji istrinya yang datang membawa nampan berisi dua gelas air putih. Ya ... hanya air putih yang anak dan menantu Amran suguhkan. Hanya segelas air putih yang mereka katakan sebagai jamuan. Namun, tidak sedikit pun diambil hati oleh laki-laki renta itu. Menyadari kehadirannya di rumah orang tanpa diundang. "Ayah nak minta tolong, lepas ayah tiada nanti, jagakan Syazwani untuk Ayah. Dia sudah tak ada siapa-siapa. Kerabatnya hanya ayah dan kalian sebagai kakak-kakaknya," lirih suara Amran, seolah enggan mengucapkan permintaannya. "Ammar tak bisa, Yah. Kalau ayah merasa sudah nak menjemput ajal, hantar saja Syazwani ke rumah anak yatim. Di sana orang pasti suka rela terima kehadiran dia!" tegas Ammar. Melumat puntung rokoknya pada asbak kaca di atas meja. Sungguh Ammar tak mengerti apa niat Amran sebenarnya. Seenak hati memintanya menjaga Syazwani. Untuk apa ia menjaga anak dari orang yang telah menghancurkan keluarganya. "Ammar, tolonglah Ayah. macam mana pun, Syaz adik kamu. Dia masih sedarah dengan kamu dan kelima adik-adikmu yang lain," pinta Amran dengan nada merayu. Mencoba memujuk Ammar dengan hubungan darah yang mengikat mereka sebagai sebuah keluarga. Ammar murka, menepuk pegangan kursi dengan sekuat tenaga. “Sudahlah, Ayah. Sampai mati pun, Ammar tak bisa anggap Syaz jadi adik. Dia bukan anak Ibu." Teriakan keras Ammar, mengejutkan Syazwani dan Anida yang sedang bermain di ruang tengah. Tanpa permisi segara ia berlari ke arah pintu, mengintip Amran dan Ammar yang sedang beradu mulut. Syazwani bingung, entah apa lagi yang ayah dan abangnya ributkan, tetapi setiap kali mereka bertengkar selalu menyebut namanya “Ayah sudah tua, Ammar. Siapa yang akan menjaga Syaz, kalau esok lusa Ayah tiada?” balas Amran. Wajah tuanya tampak susah payah menahan kesedihan. Sudah berpuluh kali Amran merayu pada anak-anaknya. Tidak hanya pada Ammar, tetapi pada kesemua anaknya yang sudah dewasa dan berumah tangga. Tak jemu ia mengunjunginya satu demi satu, mengharap belas kasih, agar salah satu dari mereka terketuk pintu hati untuk menerima kehadiran Syazwani. “Ammar tak sudi, nak kasih makan anak haram, tuh! Hasil peluh Ammar, semata-mata untuk anak dan istri!" balas Ammar ketus. Matanya nyalang menatap Amran. Seolah tidak ada lagi sedikit pun rasa hormat pada ayahnya. Syazwani tertegun di balik tirai, mendengar kata-kata Abang tertuanya. Sungguh dirinya tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ammar, walaupun setiap kata yang keluar dari mulut saudara tertuanya itu dapat didengar dengan jelas. Anak haram? Apa yang Bang Ammar maksudkan itu aku? Kenapa dia panggil aku dengan sebutan anak haram? Mengapa Bang Ammar kata, aku bukan anak Ibu? Kalau bukan anak Ibu, lantas aku anak siapa. Segumpal tanya bermain di pikiran Syazwani. Ingin rasanya ia berlari, menghampiri Amran dan Ammar. Bertanya mengapa dirinya selalu menjadi bahan pertikaian. Mengapa dirinya selalu dikucilkan dan disebut anak haram. “Ammar, tak perlu khawatir dengan biaya hidup Syaz. Ayah sudah siapkan banyak bekal untuk masa depan dia. Ammar cuma tolong Ayah jagakan dia. Ayah sudah tak sehat Ammar, bila-bila masa, boleh jatuh sakit,” pinta Amran lagi dengan nada mengiba. Sungguh, Amran sudah tidak tahu lagi, pada siapa dirinya bisa menitipkan si bungsu. Keadaan tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Kapan saja bisa jatuh sakit dan mati. “Sudahlah, Ayah. Sampai macam mana pun Ayah meminta, Ammar tak dapat tunaikan. Ayah nak urus b***k tuh sampai mati, itu hak Ayah, tapi Ammar tak mau. kalau Ayah datang ke sini, cuma nak omongkan tentang Syaz, baik Ayah balik. Ammar tak nak durhaka, sibuk bertengkar dengan Ayah,” ucap Ammar. Berdiri sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Syazwani yang sejak tadi menahan diri, akhirnya berlari. Keluar dari tempat persembunyiannya dan memeluk sang Ayah yang sedang mengusap air mata. Sungguh, ia tidak tega melihat Amran selalu berurai air mata, setiap kali diusir oleh anak kandungnya sendiri. Syazwani memandang Ammar dengan tatapan tajam. “Abang jahat! Kenapa usir Ayah? Tak suka Syaz, jangan pula bencikan Ayah!” serunya dengan suara serak. Ammar terdiam dengan wajah masam bagaikan cuka, sementara Amran hanya dapat membalas pelukan Syazwani. Tanpa berkata apa-apa tangan tuanya yang teramat kurus, membimbing putri bungsunya menuju pintu keluar. Mengajaknya pulang dengan wajah yang masih basah dipenuhi air mata. *** catatan: 1. Berantakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD