Beberapa hari setelah kepulangan Syazwani dan Amran dari rumah Ammar. Laki-laki renta itu terlihat semakin lesu. Lebih banyak diam dan sering melamun. Tidak ada lagi kata-kata pujian seperti biasa yang ditujukan pada putri bungsunya.
Setiap hari, Amran hanya berbaring di kamar atau duduk di teras depan. Menunggu kepulangan Syazwani dari sekolah. Memperhatikan gelagat putri bungsunya dengan wajah murung, meskipun berulang kali mencoba menyetak senyum.
Sedikitpun Syazwani tidak curiga dengan gelagat Amran, hingga pulang sekolah hari ini, ia merasa ada yang berbeda. Tak dijumpainya lagi Amran duduk di teras, menunggunya pulang. Hanya para tetangga yang hilir mudik keluar-masuk rumah dengan tergesa-gesa.
Syazwani mempercepat langkah. Ingin mengetahui apa yang telah terjadi di rumah. Jantungnya berdebar keras, saat Mak long, tetangga sebelah rumah yang menyambut kepulanganny di depan pintu.
Wanita tua penuh uban, yang berusia empat tahun lebih mudah dari Amran itu, memeluk dan menuntun Syazwani ke kamar Ayahnya. Merangkul erat gadis kecil yang baru saja lewat beberapa minggu lalu berusia sebelas tahun.
Mata Syazwani memburam. Di atas ranjang besi beralaskan kasur kapuk, tampak Ayahnya terbaring dengan mata terpejam. Tubuh ringkih penuh keriput itu semakin terlihat layu dengan keadaannya yang tidak biasa.
“Syaz, jangan sedih, ya, Ayah sakit. Beliau kena stroke. Lepas ini Ayah sudah tak boleh jalan dan bicara,” ucap Mak long hati-hati.
Wanita penuh uban itu, mengajak Syazwani mendekat ke sisi ranjang. Melihat lebih jelas wajah Amran yang terlihat kaku. Bibirnya tampak miring serta sebelah bahunya tampak lebih tinggi dari biasa. Meskipun gadis itu tidak cukup yakin kalau keadaan ayahnya bisa berubah menyedihkan seperti itu, dan berpikir kalau semua hanya khayalannya saja.
Syazwani terdiam, tak mengerti harus menjawab apa, mencoba menangkap penjelasan orang yang dipanggilnya Mak Long. Penjelasan tentang penyakit stroke yang cukup rumit di telinganya.
Mengapa ayahnya tidak bisa berjalan dan bicara? Ayahnya punya kedua kaki yang lengkap dan bukan anak bayi. Selama ini ayahnya juga baik-baik saja, walaupun sudah sering kali jatuh sakit. Namun, beliau tetap bisa berjalan dan bicara dan tidak ada yang salah. Meskipun umurnya sudah sangat tua.
“Maksudnya macam mana, Mak long? Syaz tak paham. Stroke apa? Kenapa tak boleh jalan?” tanya Syazwani beruntun.
Syazwani akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, setelah sekian lama memandang Amran yang tergolek lemah tanpa berusaha menyambut kepulangannya seperti biasa. Ia harus tahu, penyakit apa yang diderita ayahnya, dan apa penyebabnya.
“Sakit stroke, bukan sakit macam demam biasa. Penderitanya bisa terkena lumpuh total ataupun mati sebelah badan. Ayah Syaz tak bisa gerakkan badan, kaki, dan tangan. Ayah pun nanti tak bisa bicara, lidahnya kelu,” jelas Mak long, membuat Syazwani seketika membisu.
Tidak pernah diketahuinya ada penyakit yang sedemikian dahsyat di dunia ini. Bisa membuat orang menjadi lumpuh dan bisu tanpa ada gejala apa-apa. Tanpa ada batuk, pilek, atau sakit kepala yang biasa datang sebelum sakit demam menyerang.
"Tapi ... sakit Ayah, boleh sembuh 'kan, Mak Long?" Lagi Syazwani bertanya.
Tidak ada air mata yang tertumpah, walau di dalam hati, Syawani dapat membayangkan bagaimana sulitnya menjalani hari-hari ke depan dengan keadaan Ayahnya yang sakit. Merawat beliau yang tidak bisa berjalan dan bicara, pasti akan terasa berat. Jangankan untuk bergerak, melakukan aktivitas seperti biasa. Menyeka air liur yang menetes pun, ayahnya sudah tidak mampu.
"InsyaAllah bisa sembuh, asalkan diobati dengan benar. Ayah syaz harus cepat dibawa ke rumah sakit, biar dapat ditangani dokter ...."
"Kalau macam itu, cepatlah bawa Ayah ke rumah sakit, Mak Long!" pinta Syazwani, memutus ucapan Mak Long yang terperangah mendengar pintanya.
Desah napas Mak Long terdengar berat, memandang Syazwani yang masih setia berdiri di samping ayahnya yang tertidur.
"Bukan Mak Long tak nak bawa. Tadi, masa Mak Long telepon Ibu dan saudara Syaz, mereka kata nak datang. Suruh Mak Long dan tetangga menunggu sampai mereka tiba, barulah nak bawa ayah ke rumah sakit. Tapi rupanya sampai sekarang belum juga nampak batang hidung orang tuh!" rungut Mak Long. Sedikit menyesali tindakannya yang percaya pada pinta Fatimah dan Ammar, yang menyuruhnya menunggu.
Sabak rasa hati Syazwani mendengar penjelasan Mak Long. Bukan dirinya menyalahkan wanita penuh uban itu, melainkan menyesali sikap ibu, dan keenam saudaranya yang tidak punya hati. Sanggup mereka menyuruh Mak Long menunggu untuk membawa ayahnya ke rumah sakit, tetapi hingga menjelang maghrib, salah seorang pun dari mereka, belum ada yang datang.
"Udah nak dekat azan maghrib, nih. Syaz tunggulah dulu, ibu dan kakak-kakak datang. Mak Long, juga tetangga yang lain nak balik,” lanjut Mak Long.
Tanpa banyak bicara, Syazwani hanya mengangguk. Mengikuti langkah Mak Long yang berjalan ke ruang tamu, menemui Pak Long dan tetangga lain yang masih setia menunggu perkembangan keadaan ayahnya.
"Macam mana keadaan Bang Amran, Long?" tanya salah satu tetangga yang serta merta berdiri menyambut kehadiran Mak Long di ruang tamu.
"Masih begitulah ...." jawab Mak Long seperti orang putus asa.
"Ada baiknya kita bawa Amran ke rumah sakit, tak payah tunggu keluarganya. Lagi tunggu, lagi susah dia sembuh," sambut Pak Long memberi saran. Melirik pada Syazwani yang berdiri mematung di ambang pintu ruang tengah.
Gadis kecil itu tak sanggup lagi bersuara. Dirinya hanya mendengar musyawarah tetangga tentang keadaan Amran. Ingin mengajukan pendapat pun, belum tentu didengar.
"Fatimah, Ammar, dan Arifah sudah berpesan, jangan bawa Amran ke rumah sakit, sampai mereka datang. Kalau kita langgar, ada apa-apa hal dengan Amran, siapa yang nak bertanggung jawab? Bukan setakat¹ biaya saja yang kita kena keluarkan. Andai nyawa Amran terancam? Jawaban apa nak kita bagi?" sahut Mak Long dengan wajah muram.
Bukan Mak Long tidak berniat membawa Amran ke rumah sakit. Sejelek-jeleknya kelakuan Amran masa muda dulu, tetaplah laki-laki renta itu abang sepupunya. Apalagi sudah banyak kebaikan yang Amran berikan pada keluarganya. Namun, bagaimana dia hendak membawa Amran ke rumah sakit, jika Fatimah sebagai istri saja melarang.
Lagi pula, siapa yang tidak kenal dengan Ammar. Anak sulung Amran yang sombong, keras kepala, dan kasar. Ammar tidak akan segan mengeluarkan hujatan pada orang yang berani melanggar perintahnya, meskipun pada orang yang lebih tua.
"Kalau macam itu, memang elok kita tak ikut campur. biarlah menunggu Fatimah dan anak-anaknya saja yang mengurus Bang Amran," lanjut Pak Long yang dibalas anggukan beberapa tetangga.
"Syaz, jaga Ayah elok-elok. Mak Long, Pak Long, dan yang lain nak balik dulu. Kalau sampai esok ibu dan abang Syaz tak ada yang datang. Barulah kami rembug, macam mana nak bawa ayah ke rumah sakit," ucap Pak Long, mendekati Syazwani yang masih berdiri di ambang pintu ruang tengah sembari mencoba tersenyum.
Syazwani mengangguk kecil. Pasrah pada keputusan apa pun yang dianggap baik oleh Mak Long, Pak Long, ataupun tetangganya. Usia yang masih terlalu muda, membuatnya hanya dapat menurut selagi itu baik untuknya ataupun sang ayah.
Perlahan dia berjalan ke arah pintu, bersiap menguncinya saat satu per satu tetangga pulang ke rumah masing-masing, seiring azan maghrib yang berkumandang dari musala di samping rumah.
***
Catatan:
1. Sebatas