Selesai salat isya, Syazwani masuk ke kamar Amran. Melihat ayahnya yang mencoba menggerakkan tangan kanan. Lenguh kekesalan keluar dari mulutnya yang tanpa sengaja meneteskan air liur. Syazwani tertegun melihat wajah ayahnya yang sangat berbeda. Bibir yang miring, tertarik ke sisi kiri atas, serta air liur yang selalu menetes, membuat ayahnya tampak seperti orang bodoh yang sering ia lihat di pasar, berdekatan dengan sekolah. “Ibu belum datang, Yah. Abang dan Kakak pun sama,” keluh Syazwani. Perlahan berjalan mendekati Amran. Mengejutkannya yang sedang berusaha mengangkat tangan kanan. Syazwani naik ke atas ranjang, membantu ayahnya memijit kaki kanan yang ternyata sudah tidak dapat digerakkan lagi. Amran mengangguk, kemudian membuang muka agar Syazwani tidak melihat air liur yang m

