Erwin tak mempedulikan Maya pergi, walaupun dalam hatinya, merasa sangat penasaran. Ia lebih memutuskan untuk kembali ke bagasi mengambil koper besar yang sudah ia siapkan dari awal. Saat melewati ruang makan, Erwin menghentikan langkahnya sebentar. Aroma masakan yang berasal dari arah dapur, hampir saja membuat Erwin lupa dengan tujuan awalnya. "Aku tidak boleh ke dapur. Kalau aku ke sana, dia pasti besar kepala. Dia pikir, aku mau minta maaf karena paket-paket aneh itu. Cih, jangan harap!" cibir Erwin, gegas melanjutkan langkahnya menuju bagasi luar. Tanpa Erwin sadari. Maya yang saat itu bersiap memanggilnya ke kamar, mendengar semua yang ia katakan. "Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. Memangnya dia pikir, dia itu siapa? Aku besar kepala? Jangan harap!" Balas Maya mencibir, l

