Satu bulan berlalu, dan selama satu bulan belakangan ini, Varo tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk menasihati Stefanni yang selalu saja merasa bahwa Papa dan kakak perempuannya tidak memerdulikannya sama sekali, dan Stefanni yakin kalau hal itu akan terjadi lagi ke depannya. “Lo ingat sendiri pada saat elo telfon Papa dan bilang tentang rencana kita ini, lalu apa yang beliau katakan?” sargah Stefanni, ketika lagi-lagi Varo menasihatinya. “Tadi, setelah beberapa kali gue komunikasi sama beliau, beliau mulai mau menerima gue sebagai calon menantunya,” sahut Varo. “Sekalipun mereka akan datang, luka itu tidak akan pernah hilang,” sahut Stefanni. “Mau sampai kapan begitu terus?” tanya Varo. Sebenarnya,setiap hari Stefanni hanya bisa menahan rasa rindunya dengan orangtuanya it

